KENDAL,iNewsPantura.id – Ribuan tangan terangkat ke udara. Sebagian warga saling merapat, sebagian lainnya berusaha menerobos kerumunan. Begitu doa penutup haul selesai dipanjatkan, ribuan bungkus nasi anggi langsung menjadi rebutan jemaah di halaman Masjid Jami Abinawa, Desa Pekuncen, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Kamis 16 Juli 2026.
Tradisi yang digelar setiap bulan Muharam atau Sura itu kembali menyedot perhatian masyarakat. Takmir Masjid Jami Abinawa bersama warga menyiapkan sekitar 10 ribu bungkus nasi anggi atau yang juga dikenal sebagai nasi suro untuk dibagikan kepada para peziarah dan jemaah haul.
Sejak pagi, kawasan masjid sudah dipadati warga dari berbagai daerah. Mereka datang untuk mengikuti pengajian, berziarah ke makam Pangeran Abinawa, sekaligus menanti momen pembagian nasi yang menjadi puncak acara.
Suasana berubah riuh saat pembagian dimulai. Ribuan jemaah bergerak mendekati titik distribusi nasi. Untuk menghindari penumpukan massa, panitia bahkan harus melemparkan nasi bungkus ke arah kerumunan agar pembagian berlangsung lebih cepat dan aman.
Meski sempat terjadi aksi saling dorong, petugas keamanan yang berjaga berhasil mengendalikan situasi sehingga acara tetap berlangsung tertib.
Bagi masyarakat, nasi anggi bukan sekadar makanan. Ada keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun bahwa nasi yang dibagikan saat haul membawa keberkahan bagi keluarga yang mengonsumsinya.
"Setiap tahun saya datang. Kalau dapat nasi anggi, nanti dimakan bersama keluarga di rumah. Harapannya mendapat berkah dan keselamatan," ujar Zumroh, salah satu jemaah yang ikut berebut nasi.
Panitia haul, Ngasimin, mengatakan tradisi pembagian nasi anggi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan Haul Pangeran Abinawa. Selain sebagai bentuk sedekah, tradisi tersebut juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat dalam menyambut Tahun Baru Islam.
"Alhamdulillah antusiasme masyarakat sangat besar. Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan terus dilestarikan hingga sekarang," katanya.
Tak hanya berburu nasi anggi, para peziarah juga mendatangi sebuah sumber mata air yang berada di dalam kompleks Masjid Jami Abinawa. Air dari sumber tersebut ditampung dalam sebuah guci kuno yang diyakini sebagai peninggalan Pangeran Abinawa.
Dengan membawa botol dan wadah air, warga rela mengantre untuk mendapatkan air dari guci tersebut. Mereka percaya air itu menjadi simbol keberkahan yang menyertai tradisi haul yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Pegandon.
Setiap Muharam tiba, Haul Pangeran Abinawa bukan hanya menjadi peringatan keagamaan. Lebih dari itu, tradisi ini telah menjelma menjadi magnet budaya yang mempertemukan ribuan orang dalam satu harapan yang sama: mencari berkah di awal Tahun Baru Islam.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
