KENDAL,iNewsPantura.id – Masa depan ratusan pekerja PT Asia Pacific Fiber (APF) di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, menjadi perhatian pemerintah.
Penasehat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, datang langsung ke perusahaan tersebut untuk melihat kondisi operasional sekaligus mencari langkah agar ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak terjadi.
Kunjungan Said Iqbal berlangsung di tengah kondisi produksi perusahaan yang disebut mengalami penurunan. Dari hasil pertemuan dengan manajemen dan pekerja, persoalan keberlangsungan operasional menjadi salah satu hal yang perlu segera dicarikan jalan keluar.
Said Iqbal mengatakan kunjungannya merupakan bagian dari upaya deteksi dini terhadap persoalan perusahaan. Pemerintah ingin memastikan APF tetap beroperasi dan pekerja tetap memiliki pekerjaan.
“Tujuannya melakukan deteksi dini, early warning, memastikan operasional perusahaan APF ini berjalan sesuai dengan harapan pemerintah, negara, pengusaha dan buruh, dan terhindar terjadinya PHK,” kata Said Iqbal usai berrdialog dengan karyawan PT APF Kendal Jumat 28 agustus 2026.
Ia menyebut terdapat sejumlah regulasi di tingkat kementerian, termasuk berkaitan dengan Kementerian Keuangan dan lembaga lainnya, yang turut berpengaruh terhadap operasional APF.
Menurut Said Iqbal, APF merupakan perusahaan yang memiliki karakteristik khusus sehingga keberadaannya perlu dipertahankan. Jika persoalan operasional tidak segera ditangani, ia khawatir kondisi tersebut berkembang menjadi penutupan perusahaan dan PHK.
“Kalau sampai PT APF yang sudah beroperasi empat tahun ini tidak diberi bantuan oleh pemerintah, diselamatkan oleh pemerintah operasionalnya, maka bisa saja terjadi penutupan perusahaan dan PHK. Ini yang kita tidak mau,” ujarnya.
Said Iqbal memastikan persoalan yang dihadapi APF akan dibawa ke tingkat pemerintah pusat. Ia akan melaporkan hasil kunjungannya kepada Presiden Prabowo Subianto dengan berkoordinasi bersama Menteri Koordinator dan pimpinan DPR RI.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan gangguan operasional perusahaan tidak semakin meluas dan berdampak terhadap pekerja.
“Hampir 800 orang masih bekerja di PT APF Kendal, Jawa Tengah. Kita ingin memastikan jangan sampai terjadi PHK,” katanya.
Di sisi lain, Said Iqbal melihat APF memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bagian dari penguatan industri tekstil nasional. Menurutnya, perusahaan tersebut memiliki posisi di sektor hulu yang dapat menopang pengembangan industri hingga sektor hilir.
Rantai industri tersebut mencakup polyester, tekstil, garment, kain, jok kendaraan hingga berbagai industri turunannya. Jika ekosistem itu dibangun secara terintegrasi, lapangan kerja yang tercipta dinilai dapat jauh lebih besar dibandingkan jumlah pekerja yang saat ini ada di APF.
Bahkan, berdasarkan pembahasan yang dilakukan bersama pihak perusahaan, pengembangan industri tekstil dari hulu hingga hilir dalam lima tahun diperkirakan berpotensi menyerap hingga 500 ribu tenaga kerja.
“Kalau ini dihidupkan kembali dari hulu ke hilir, maka diperkirakan ratusan ribu orang akan terserap dalam lapangan kerja yang baru,” jelasnya.
Presiden Direktur PT APF Vasudevan Ravi Shankar mengungkapkan perusahaan masih berupaya bertahan meskipun kondisi produksi belum optimal.
Saat ini, produksi APF disebut hanya berada di kisaran 30 persen. Namun, manajemen memastikan perusahaan tidak menyerah dan tetap berusaha menjalankan kegiatan produksi.
“Perlu diperhatikan adalah soal restrukturisasi karena APF salah satu pilar di industri tekstil dan tidak menyerah tetap bertahan berproduksi meski hanya 30 persen,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap industri tekstil yang masih memiliki potensi untuk dikembangkan.
“Kita ingin bangkit industri tekstil di Indonesia karena presiden ingin industri yang berpotensi jangan ditinggalkan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Serikat Pekerja Mandiri APF, Ahmad Paidi, menyebut kondisi penurunan produksi mulai dirasakan para pekerja.
Ia mengatakan sekitar 899 karyawan saat ini masih menggantungkan penghasilan dari perusahaan. Para pekerja berharap ada dukungan modal sehingga APF dapat mempertahankan operasional.
“Semakin hari ada penurunan produksi dan butuh suntikan modal untuk keberlangsungan perusahaan,” kata Ahmad.
Para pekerja juga mengaku belum siap apabila kondisi perusahaan berujung pada penghentian operasional dan kehilangan pekerjaan.
Kehadiran Said Iqbal di APF diharapkan menjadi angin segar bagi pekerja. Mereka berharap persoalan perusahaan dapat segera mendapat perhatian pemerintah sehingga keberlangsungan industri dan lapangan kerja dapat dipertahankan.
Bagi pemerintah, penyelamatan APF tidak hanya berkaitan dengan satu perusahaan. Keberadaan industri tersebut juga dinilai strategis dalam membangun kembali rantai industri tekstil nasional dari sektor hulu hingga hilir.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
