Aksi Agustus Gelap Digelar di Bundaran UGM, Soroti Demokrasi hingga Nasib Pengemudi Online

Heru Trijoko
Massa Aliansi Rakyat Memanggil menggelar aksi Agustus Gelap di Bundaran UGM, Yogyakarta, menyuarakan demokrasi dan keadilan. Foto : iNewsPantura.id/ Heru T

SLEMAN, iNewsPantura.id – Aksi bertajuk Agustus Gelap digelar di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat (28/8/2026) sore. Aksi yang berlangsung sekitar pukul 15.30-18.00 WIB tersebut diikuti elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil.

Aksi ini digelar untuk menyuarakan nilai-nilai demokrasi dan keadilan, sekaligus menjadi ruang refleksi serta doa bersama bagi korban ketidakadilan, bencana struktural, dan bencana sosial.

Aliansi Rakyat Memanggil menyebut aksi Agustus Gelap berangkat dari keresahan terhadap persoalan penegakan hukum dan perlakuan negara terhadap warga yang menggunakan hak sipil dan politiknya.
Mereka juga mengingat kembali rangkaian peristiwa pada Agustus 2025. Menurut aliansi, berbagai persoalan seperti penanganan aksi massa, penahanan warga, hingga korban luka dan meninggal dunia masih menjadi bagian dari ingatan publik.

"Agustus Gelap menjadi ruang untuk merefleksikan persoalan yang menyebabkan sakit kronisnya Indonesia, yaitu ketimpangan dan sulitnya memenuhi biaya hidup, pekerjaan yang tidak aman dan mengeksploitasi, perampasan ruang hidup, kriminalisasi, serta menyempitnya ruang bagi rakyat untuk menentukan kehidupan dan masa depannya," demikian pernyataan Aliansi Rakyat Memanggil.

Di Yogyakarta, aksi tersebut juga mengangkat kembali kasus wartawan Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin. Wartawan Bernas itu meninggal setelah dianiaya pada 16 Agustus 1996.

Aliansi menilai kasus Udin menjadi bagian dari ingatan masyarakat Yogyakarta mengenai pentingnya perlindungan terhadap jurnalis dan pembela HAM.

Pengemudi Online Soroti Kepastian Hukum
Salah satu elemen yang terlibat dalam inisiatif Agustus Gelap adalah Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (WAKANDA) Yogyakarta.

Ketua WAKANDA Yogyakarta, Rie, mengatakan pengemudi transportasi online memiliki sejumlah tuntutan yang berkaitan langsung dengan kepastian hukum dan kesejahteraan mereka.

"Dari sudut pandang pengemudi online, aksi ini menegaskan tuntutan atas kepastian hukum melalui UU Transportasi Online, jaminan tarif bersih yang adil, regulasi pengantaran barang dan makanan, hingga aksesibilitas fasilitas operasional yang memadai," kata Rie.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan tarif, tetapi juga menyangkut perlindungan pekerja.

Para pengemudi online dan kurir disebut masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari ketidakpastian tarif, biaya operasional, keselamatan kerja, fasilitas operasional, hingga posisi hukum sebagai pekerja.

Tuntutan terhadap pengemudi transportasi online dan kurir menjadi salah satu bagian dari Maklumat Agustus Gelap. Selain itu, terdapat tuntutan mengenai kebebasan sipil, penghentian militerisme dan impunitas, kesejahteraan, perlindungan ruang hidup, serta penanganan bencana.

Aliansi Rakyat Memanggil juga menegaskan desakan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran bukan sekadar persoalan pergantian orang yang berkuasa.

Mereka menyatakan perjuangan demokrasi harus diarahkan pada perubahan hubungan antara rakyat dan kekuasaan.

Menurut aliansi, kemerdekaan sejati ditandai dengan semakin kuatnya posisi rakyat dalam menentukan kehidupan dan masa depannya. Perjuangan tersebut dinilai tidak berhenti ketika aksi di jalan selesai, karena masyarakat tetap menghadapi persoalan kebutuhan hidup, pekerjaan, ruang hidup, hingga ancaman bencana.

Editor : Suryo Sukarno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network