KENDAL,iNewsPantura.id – Bagi sebagian orang, minyak jelantah mungkin tidak lebih dari sisa memasak yang sudah tidak terpakai. Namun di tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang, limbah tersebut justru dikenalkan sebagai bahan yang bisa diubah menjadi produk bernilai ekonomi.
Gagasan itu diperkenalkan kepada masyarakat Desa Bulugede, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, melalui pelatihan pembuatan lilin aromaterapi, Sabtu 28 agustus 2026.
Warga diajak melihat minyak jelantah dari sudut pandang berbeda. Alih-alih dibuang, minyak bekas tersebut dikumpulkan dan diolah melalui sejumlah tahapan sebelum digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan lilin aromaterapi.
Pelatihan berlangsung dengan praktik langsung. Warga diperkenalkan dengan bahan dan peralatan yang diperlukan, kemudian mengikuti proses pengolahan hingga menghasilkan lilin yang dapat digunakan sebagai pengharum sekaligus dekorasi ruangan.
Antusiasme warga terlihat ketika peserta mulai mencoba sendiri setiap tahapan. Mereka tidak hanya menyimak penjelasan mahasiswa, tetapi juga terlibat dalam proses pencampuran aroma, pemasangan sumbu hingga pencetakan lilin.
Koordinator Desa KKN UIN Walisongo Semarang, Miftachul Fattah, mengatakan ide tersebut muncul dari kondisi pengelolaan limbah rumah tangga yang masih menjadi persoalan di masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian kami mahasiswa KKN terhadap permasalahan lingkungan yang ada di masyarakat. Kami memperkenalkan bahwa limbah minyak jelantah masih dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna seperti lilin aromaterapi,” ujarnya.
Menurut Miftachul, persoalan limbah tidak cukup hanya diselesaikan dengan mengajak masyarakat mengurangi pembuangan sampah. Masyarakat juga perlu dikenalkan dengan cara mengolah limbah agar memiliki manfaat baru.
Dari proses tersebut, muncul peluang lain. Produk sederhana yang dibuat dari minyak jelantah berpotensi dikembangkan menjadi kerajinan rumah tangga maupun usaha kecil apabila dikelola secara berkelanjutan.
“Selain membantu mengurangi limbah rumah tangga, pemanfaatan ini juga diharapkan dapat membuka peluang kreativitas dan bahkan menjadi potensi usaha sederhana bagi masyarakat,” katanya.
Kepala Desa Bulugede Kasmudi menyambut baik pelatihan tersebut. Menurut dia, keterampilan yang diberikan mahasiswa KKN dapat diteruskan masyarakat setelah program pengabdian berakhir.
“Kami Pemerintah Desa Bulugede sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan pelatihan dari limbah menjadi berkah. Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi masyarakat Bulugede dan bisa diteruskan oleh ibu-ibu PKK,” tuturnya.
Warga pun merespons positif kegiatan tersebut. Kusminarsih, salah seorang warga, mengaku tertarik karena pelatihan memberikan pengetahuan baru mengenai pemanfaatan minyak jelantah.
“Masyarakat Bulugede sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi daya jual ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Pelatihan tidak berhenti pada pembuatan produk. Mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai pentingnya pengelolaan minyak jelantah agar tidak dibuang sembarangan dan berpotensi mencemari lingkungan.
Peserta diajari tahapan pengolahan bahan, pencampuran aroma, pemasangan sumbu hingga proses pencetakan lilin.
Miftachul berharap kegiatan tersebut dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu PKK.
“Harapannya, setelah KKN selesai, masyarakat tetap bisa melanjutkan praktik ini secara mandiri. Bukan hanya mengurangi limbah, tetapi juga membuka peluang kreativitas dan usaha baru dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai,” pungkasnya.
Dari kegiatan sederhana itu, mahasiswa KKN UIN Walisongo ingin meninggalkan lebih dari sekadar program kerja. Minyak jelantah yang biasanya berakhir menjadi limbah diperkenalkan sebagai bahan baku produk kreatif sekaligus peluang untuk menciptakan nilai ekonomi di tingkat rumah tangga.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
