KENDAL,iNewsPantura.id – Persoalan sampah di lingkungan sekolah menjadi pintu masuk bagi SDN 3 Plososari, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, untuk menanamkan kepedulian lingkungan kepada siswa sejak dini.
Bukan sekadar memberikan imbauan agar siswa menjaga kebersihan, sekolah mengintegrasikan persoalan sampah ke dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).
Dari pembelajaran tersebut lahir dua gerakan sederhana, yakni SAHARA (Satu Hari Satu Sampah) dan BELI (Bekal dari Rumah, Lingkungan Pun Ramah).
Melalui SAHARA, siswa dibiasakan memungut dan membuang sampah setiap hari. Sementara BELI mendorong siswa membawa makanan dan minuman dari rumah untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.
Kedua gerakan tersebut dikembangkan Beta Amalia Zuliazani, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, persoalan sampah yang ditemukan di lingkungan sekolah justru dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang dekat dengan kehidupan siswa.
Dalam pembelajaran IPAS, siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai pelestarian lingkungan. Mereka diajak mengamati sampah yang ada di lingkungan sekolah, mengenali jenisnya, mencari informasi melalui wawancara, hingga mengetahui jumlah dan cara pengelolaannya.
Aktivitas tersebut sekaligus menggabungkan pembelajaran literasi dan numerasi dengan pendidikan karakter.
Siswa juga diperkenalkan dengan kebiasaan memilah, mengurangi, dan mendaur ulang sampah. Dengan cara tersebut, materi mengenai lingkungan tidak berhenti pada teori, tetapi dipraktikkan secara langsung.
“Saya memilih model ini karena ingin menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, interaktif, dan menyenangkan. Dalam pembelajaran harus selalu berupaya untuk berinovasi agar anak tidak hanya duduk mendengarkan, melainkan bergerak, berdiskusi, mencoba, dan bekerja sama,” ujar Beta.
Beta mengatakan, pendekatan pembelajaran tersebut membuat siswa lebih aktif dan antusias. Selain memahami materi, mereka mendapatkan pengalaman berkomunikasi, bekerja sama dan memecahkan masalah.
Siswa juga diarahkan memanfaatkan teknologi secara positif selama proses pembelajaran, terutama ketika mencari informasi yang berkaitan dengan persoalan lingkungan.
Menurut Beta, model tersebut tidak terbatas untuk satu jenjang kelas. Pembelajaran dapat diterapkan mulai kelas I hingga VI dengan menyesuaikan materi, tingkat kesulitan dan bentuk aktivitas berdasarkan usia siswa.
“Yang terpenting, anak mendapatkan pengalaman belajar secara langsung sehingga mereka memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya materi di dalam buku, tetapi sesuatu yang bisa dilakukan setiap hari,” ujarnya.
Gerakan SAHARA dan BELI pada dasarnya berangkat dari aktivitas sederhana. Siswa diajak memungut satu sampah setiap hari dan membawa bekal dari rumah.
Namun, kebiasaan tersebut diharapkan membentuk kesadaran yang lebih besar. Siswa tidak hanya mengetahui bahwa sampah dapat mencemari lingkungan, tetapi memahami bahwa mereka juga memiliki peran untuk mengurangi dan mengelolanya.
SDN 3 Plososari menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang belajar terbuka. Dari persoalan sampah yang ditemui sehari-hari, siswa diajak belajar mengamati, menghitung, mencari informasi, bekerja sama, sekaligus mengambil tindakan.
Melalui kebiasaan tersebut, sekolah berharap kepedulian terhadap lingkungan tumbuh bukan karena perintah, melainkan menjadi bagian dari perilaku siswa sejak usia dini.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
