KENDAL,iNewsPantura.id – Nyala lilin menerangi halaman Mapolres Kendal, Kamis malam. Sejumlah jurnalis bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kendal menggelar doa bersama untuk lima wartawan yang hilang saat menjalankan tugas peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau.
Aksi empati tersebut digelar beberapa jam setelah operasi pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan secara resmi dihentikan pada hari yang sama, Kamis 17 September 2026.
Lima jurnalis tersebut dilaporkan hilang bersama tiga orang lainnya saat berada di kapal Arupadhatu I. Hingga operasi SAR dihentikan, tim gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan rombongan.
Suasana haru terasa ketika para peserta menyalakan lilin dan memanjatkan doa. Aksi ini diikuti sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Forum Wartawan Kendal dan PWI, bersama jajaran Forkopimda Kendal.
Kapolres Kendal AKBP Ratna Quratul Ainy mengatakan aksi tersebut menjadi bentuk empati sekaligus dukungan moral kepada keluarga para korban yang masih menunggu kabar.
“Ini bentuk empati dan dukungan moral bagi keluarga yang masih menunggu kabar. Harapan agar para jurnalis dapat ditemukan dalam kondisi selamat tentu tetap ada,” ujar Ratna.
Operasi SAR gabungan sebelumnya telah berlangsung selama sepuluh hari. Namun, hingga operasi resmi dihentikan, belum ditemukan petunjuk mengenai keberadaan rombongan.
Ratna menyampaikan, penghentian operasi secara resmi bukan berarti pemantauan terhadap kejadian tersebut berhenti. Apabila nantinya ditemukan petunjuk baru, proses pencarian dapat kembali dilakukan.
Ketua DPRD Kendal Mahfud Shodiq mengatakan aksi doa bersama juga ditujukan untuk memberikan dukungan kepada keluarga korban.
Menurutnya, keluarga yang masih menunggu kepastian membutuhkan dukungan moral dari berbagai pihak.
“Kita berharap ada kabar baik. Yang terpenting sekarang adalah memberikan dukungan kepada keluarga yang masih menunggu dan terus mendoakan agar para jurnalis bisa ditemukan,” kata Mahfud.
Sementara itu, Ketua Forum Wartawan Kendal Iswahyudi mengatakan peristiwa tersebut menjadi pengingat mengenai risiko yang dihadapi jurnalis ketika menjalankan tugas di lapangan.
Menurutnya, jurnalis bekerja di berbagai kondisi untuk mendapatkan informasi dan menyampaikannya kepada masyarakat.
“Peristiwa ini menjadi pengingat atas risiko yang dihadapi jurnalis dalam menjalankan tugas. Karena itu, solidaritas antarjurnalis dan dukungan pemerintah serta masyarakat sangat penting, terutama bagi keluarga yang masih berada dalam penantian,” ujar Iswahyudi.
Aksi empati kemudian ditutup dengan doa bersama. Para jurnalis dan Forkopimda Kendal mendoakan agar lima rekan seprofesi bersama tiga orang lainnya yang hilang dapat segera ditemukan dan mendapat kepastian.
Doa juga dipanjatkan untuk keluarga korban agar diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi situasi tersebut.
Meski operasi SAR telah dihentikan setelah sepuluh hari pencarian, harapan untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan para korban masih terus disampaikan. Pemantauan tetap dilakukan dan pencarian dapat kembali dibuka apabila ditemukan petunjuk baru.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
