BANYUMAS,iNewsPantura.id – Permintaan Batik Parang Lumbon produksi Kelompok Batik I’AH di Sokaraja Kulon, Kabupaten Banyumas, terus meningkat. Sejak Januari 2026, sekitar 600 lembar batik telah terjual, sementara antrean pesanan kini mencapai sekitar 2.000 lembar.
Di tengah meningkatnya aktivitas produksi tersebut, persoalan pengelolaan limbah cair menjadi perhatian. Untuk membantu perajin meningkatkan kapasitas usaha sekaligus menjaga lingkungan, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menerapkan teknologi pengolahan limbah Eco-Batik Wetland.
Program bertajuk “Penerapan Teknologi Pengolahan Limbah Eco-Batik Wetland untuk Meningkatkan Keberlanjutan UMKM Batik I’AH di Kabupaten Banyumas” tersebut mulai dilaksanakan sejak Juni 2026.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Nuning Vita Hidayati, mengatakan peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan.
“Kami ingin peningkatan produksi Batik I’AH berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan. Eco-Batik Wetland dirancang sebagai teknologi yang sederhana, relatif murah, mudah dirawat, dan sesuai dengan kondisi UMKM batik,” ujar Nuning.
Menurut dia, teknologi tersebut diharapkan dapat mencegah limbah cair batik langsung dibuang ke lingkungan. Limbah terlebih dahulu melalui sejumlah tahapan pengolahan sebelum dilepas.
Eco-Batik Wetland merupakan teknologi pengolahan limbah cair yang memadukan proses pra-sedimentasi, filtrasi menggunakan karbon aktif dari batok kelapa, serta pemanfaatan tanaman air sebagai agen fitoremediasi.
Sistem tersebut dirancang melalui beberapa tahapan, mulai dari pengendapan awal, penyaringan karbon aktif hingga pemanfaatan vegetasi akuatik seperti kayu apu dan eceng gondok.
Teknologi itu dikembangkan berdasarkan hasil riset tim Unsoed mengenai pencemaran limbah batik serta kemampuan tanaman air dalam menyerap bahan pencemar.
“Harapannya, limbah tidak lagi langsung dibuang ke lingkungan, tetapi dapat diolah terlebih dahulu sehingga kegiatan usaha menjadi lebih berkelanjutan,” kata Nuning.
Program pengabdian tersebut tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah. Tim Unsoed juga memberikan pendampingan untuk meningkatkan tata kelola usaha Batik I’AH.
Pendampingan mencakup optimalisasi peralatan produksi, penataan alur kerja, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), pembukuan sederhana, perhitungan harga pokok produksi (HPP), penguatan organisasi kelompok hingga pengembangan pemasaran digital.
Kelompok Batik I’AH merupakan salah satu kelompok perajin di sentra batik Sokaraja. Kelompok yang berdiri sejak 2010 itu diketuai Sutaryo dan memiliki 10 perajin.
Keterampilan membatik para anggota diwariskan secara turun-temurun. Perkembangan usaha semakin meningkat setelah motif Batik Parang Lumbon karya I’AH, istri Ketua Kelompok Batik I’AH, ditetapkan sebagai salah satu seragam resmi ASN Kabupaten Banyumas.
Sejak Januari 2026, kelompok tersebut telah menjual sekitar 600 lembar Batik Parang Lumbon. Sementara antrean pesanan mencapai sekitar 2.000 lembar.
Ketua Kelompok Batik I’AH, Sutaryo, mengatakan tingginya permintaan menjadi peluang sekaligus tantangan bagi kelompok untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperbaiki pengelolaan usaha.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Unsoed dan seluruh tim pengabdian yang telah mendampingi kelompok kami. Bantuan teknologi, peralatan, dan pengetahuan yang diberikan sangat bermanfaat,” kata Sutaryo.
Ia berharap pendampingan tersebut dapat membantu kelompok mengembangkan produksi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Kami berharap kegiatan ini dapat membantu Batik I’AH berkembang, produksi semakin baik, lingkungan tetap terjaga, dan usaha ini dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Sri Lestari selaku penghubung dari Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Unsoed mengatakan program tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi memastikan hasil penelitian dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Pengabdian berbasis riset diharapkan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi menghasilkan perubahan nyata yang dapat dirasakan mitra,” ungkapnya.
Menurut dia, kolaborasi perguruan tinggi dengan kelompok masyarakat penting agar teknologi hasil penelitian dapat diterapkan sesuai kebutuhan dan tetap digunakan setelah program pengabdian berakhir.
Melalui program tersebut, Kelompok Batik I’AH diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membangun sistem usaha yang lebih ramah lingkungan, efisien dan berkelanjutan. Inovasi itu juga menjadi upaya menjaga keberlangsungan usaha batik tanpa mengesampingkan persoalan lingkungan yang muncul seiring meningkatnya produksi.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
