KENDAL,iNewsPantura.id – Siapa sangka, pekarangan rumah yang tak begitu luas bisa berubah menjadi kebun anggur yang menghasilkan. Hal itu dibuktikan Ahmad Chafidin, anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) Desa Purwosari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal.
Di sela kesibukannya menjalankan tugas sebagai Satlinmas, Chafidin justru memiliki aktivitas lain yang cukup menarik. Ia menghabiskan waktu luangnya dengan merawat tanaman anggur yang tumbuh di sekitar rumahnya.
Batang-batang anggur dibiarkan menjalar pada rambatan yang dibuat ke arah atas. Dengan cara tersebut, tanaman tetap bisa berkembang tanpa membutuhkan lahan yang luas.
Bagi Chafidin, merawat anggur bukan sekadar hobi. Setelah beberapa tahun ditekuni, aktivitas tersebut berkembang menjadi usaha sampingan yang memiliki nilai ekonomi.
"Awalnya untuk mengisi waktu luang. Ternyata kalau ditekuni dan dirawat dengan baik, anggur ini bisa menghasilkan dan bisa menjadi usaha sampingan," ujar Ahmad Chafidin.
Menurutnya, tanaman anggur memiliki peluang cukup menarik karena satu pohon dalam kondisi normal dapat menghasilkan sekitar 20 hingga 50 kilogram buah.
Sementara harga jual anggur yang dibudidayakannya dapat mencapai sekitar Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Potensi tersebut membuat Chafidin semakin serius mengembangkan tanaman anggur di pekarangan rumahnya.
Namun, ia mengingatkan budidaya anggur tidak bisa dilakukan secara asal. Tanaman membutuhkan perawatan rutin dan ketelatenan, terutama dalam menjaga kondisi media tanam.
Tanah, kata dia, tidak boleh terlalu basah. Penyiraman pun tidak harus dilakukan setiap hari, tetapi disesuaikan dengan kondisi tanaman dan lingkungan.
"Perawatannya memang harus telaten. Tanah jangan terlalu basah. Untuk penyiraman bisa dua sampai tiga hari sekali, tergantung kondisi," jelasnya.
Menariknya, Chafidin kini tidak hanya mengandalkan keuntungan dari buah yang dipanen. Ia juga mulai mengembangkan pembibitan anggur untuk dijual.
Bibit-bibit tersebut menjadi peluang usaha lain yang bisa dijalankan dari rumah tanpa harus menyediakan lahan perkebunan dalam skala besar.
"Selain buah, saya juga mengembangkan bibit untuk dijual. Jadi bisa menjadi tambahan penghasilan," katanya.
Menurut Chafidin, salah satu keuntungan menanam anggur di pekarangan adalah tanaman bisa diarahkan tumbuh secara vertikal. Batang dan cabangnya dibuat menjalar mengikuti rambatan sehingga penggunaan ruang menjadi lebih efisien.
Konsep itu pula yang membuatnya tetap bisa menjalankan budidaya meski tidak memiliki lahan luas.
Aktivitas tersebut kini menjadi keseharian Chafidin. Setelah menyelesaikan tugas sebagai Satlinmas, ia kembali berkutat dengan tanaman-tanaman anggur di rumahnya.
Dari aktivitas sederhana itu, Chafidin menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan selalu menjadi penghalang untuk memulai usaha. Pekarangan rumah pun dapat dimanfaatkan menjadi ruang produktif jika dikelola dengan tekun.
Baginya, budidaya anggur memberikan dua manfaat sekaligus. Selain mengisi waktu luang dengan kegiatan yang produktif, tanaman tersebut juga membuka peluang mendapatkan tambahan penghasilan.
"Yang penting mau belajar dan telaten merawat. Tidak harus punya lahan luas. Pekarangan rumah juga bisa dimanfaatkan untuk mulai budidaya anggur," pungkasnya.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
