Tangis Haru Warga Pemalang saat 2 Anaknya yang Yatim Dielus Ganjar Pranowo

Ahmad Antoni
.
Senin, 29 November 2021 | 20:10 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengelus anak yatim asal Pemalang sata menyerahkan bantuan di HUT Korpri, Senin (29/11/2021). (Foto: ist)

SEMARANG, iNews.id – Momen haru terjadi ketika Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengeluas kepala dua bocah yatim asal Pemalang, Ahmad Ihya Hakim (12) dan Desta Meliana (6). Momen itu terjadi saat acara HUT ke-50 Korpri di Gradhika Bhakti Praja, Senin (29/11/2021). 

Melihat peristiwa itu, ibu dari dua bocah itu, Yamtini tak kuasa menahan tangis harunya saat kedua anaknya mendapat bantuan dari Ganjar. Yamtini juga terharus tatkala melihat anaknya ngobrol bareng Ganjar dengan ceria.

Ahmad Ihya Hakim dan Desta Meliana adalah dua dari 100 anak yatim piatu akibat pandemi Covid-19 yang mendapat bantuan dari Korpri Jateng.

Selain bantuan uang, anak-anak yatim piatu yang masih sekolah juga mendapat bantuan seperangkat alat sekolah dalam acara ulang tahun Korpri itu.

"Kamu kelas berapa? Oh masih Paud ya. Ayo kalau Paud pasti bisa nyanyi dong. Coba nyanyi ya, lagu cicak-cicak di dinding bisa?" kata Ganjar pada Desta.

Sambil malu-malu, Desta menyanyikan lagu itu di depan Ganjar. Ganjar yang jongkok di depan Desta beberapa kali membantu membetulkan lirik lagu saat Desta kelupaan.

Usai bernyanyi, Ganjar dan peserta lain langsung bertepuk tangan melihat keberanian bocah berusia 6 tahun itu. "Kamu hebat, belajar yang rajin ya," ucapnya sambil kembali mengelus kepala Desta.

Yamtini begitu bahagia, karena pemerintah memperhatikan nasib kedua anaknya itu. Ia tak henti mengucapkan terima kasih, atas kepedulian semua pihak demi masa depan kedua buah hatinya.

"Alhamdulillah, saya sangat berterimakasih sekali atas perhatian dan bantuannya untuk anak-anak saya. Mudah-mudahan, bantuannya bermanfaat," kata Yamtini.

Warga Banjardowo Taman Kabupaten Pemalang ini mengatakan, kepedulian banyak pihak pada anaknya sangatlah berarti. Usai ditinggal suaminya akibat pandemi Covid-19, praktis semua kebutuhan hidup dan dua anaknya harus ia pikul sendiri.

"Setelah suami meninggal karena Covid-19, saya jadi kepala rumah tangga sekaligus ibu buat dua anak saya. Meski berat, tapi saya akan tetap berjuang untuk menyekolahkan anak-anak saya sampai setinggi mungkin. Sampai mereka sukses dan berhasil, tidak seperti saya," ucapnya sambil terisak.

Yamtini mengatakan, sehari-hari ia bekerja serabutan. Kerap kali, ia menjadi buruh cuci atau setrika di tetangganya. Bayarannya tidak pasti. Kadang seminggu hanya mendapat uang Rp50.000.

"Kadang kalau buruh cuci dan setrika nggak ada, saya jualan jajan kecil-kecilan. Meski begitu saya tetap semangat bekerja agar anak-anak sukses kedepannya," ujarnya.

Halaman : 1 2
Bagikan Artikel Ini