Nyadran Perdamaian di Temanggung : Tradisi Lintas Agama untuk Merawat Bumi
TEMANGGUNG, iNewsPantura.id – Tradisi Nyadran di Pemakaman Gletuk, Desa Getas, kembali menjadi sorotan sebagai potret nyata moderasi beragama dan pelestarian lingkungan. Melalui tajuk "Nyadran Perdamaian", warga dari berbagai latar belakang keyakinan berkumpul untuk menghormati leluhur sekaligus memperkuat komitmen menjaga alam.
Tradisi ini menjadi unik karena mempertemukan warga Dusun Krecek yang mayoritas beragama Buddha dengan warga Dusun Gletuk yang memeluk Islam dan Kristen di satu lokasi pemakaman yang sama.
Mereka berbarengan membawa tenong berisi aneka makanan lengkap, seperti ingkung, lauk dan snack dan makanan tradisional ke makam Glethuk. Acara inti adalah memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing. Tradisi ini membuktikan bahwa perbedaan iman tidak menjadi penghalang dalam merawat warisan sejarah dan kebersamaan.
Menurut Mbah Sukoyo, sesepuh Dusun Krecek, tradisi nyadran ini juga merupakan bentuk penghormatan spiritual kepada leluhur. Tradisi ini telah berlangsung turun temurun. Nyadran bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cara menjaga kekayaan alam yang diwariskan leluhur.
“Seluruh warga dari dua dusun ini kompak dalam melakukan tradisi nyadran. Toleransi umat beragama terus dipupuk di desa kami”, kata mbah Sukoyo.
Tahun ini, Nyadran Perdamaian mengusung tema "Merawat Alam Menjaga Bumi". Sebagai bentuk aksi nyata, Bupati Temanggung Agus Setyawan menyerahkan bibit pohon secara simbolis kepada seaepuh yang juga peraih Kalpataru 2024, Mbah Sukoyo.
"Ini Indonesia banget, Nusantara banget. Kebersamaan dalam perbedaan seperti inilah cerminan jati diri bangsa kita yang sesungguhnya. Semuanya di sini nglemprah (duduk lesehan) tanpa melihat latar belakang demi kedamaian dan kelestarian alam," ujar Agus Setyawan di sela-sela acara.
Penyerahan bibit ini menandai gerakan "Nyadran Lestari", sebuah inisiatif untuk memastikan bahwa ritual adat juga memberikan dampak ekologis positif bagi generasi mendatang.
Acara diakhiri dengan kenduri atau makan bersama, di mana warga duduk melingkar dan makan bersama di area pemakaman. Mereka saling berbagi berkat hasil bumi, sebuah simbol rasa syukur atas harmoni kehidupan yang tetap terjaga di tanah Temanggung.
Editor : Suryo Sukarno