get app
inews
Aa Text
Read Next : Gerakan Pangan Murah Digelar Serentak di 35 Daerah Jawa Tengah

BUMDesma Bayan Panen Perdana Padi, Lahan Tidur 20 Tahun Kini Kembali Produktif

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:31 WIB
header img
Petani memanen padi dalam program ketahanan pangan BUMDesma Bayan di Kecamatan Bayan, Purworejo. (Foto : iNewsPantura.id/ Joe H).

PURWOREJO, iNewsPantura.id  - Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) Manugraha Pertama Bayan melaksanakan panen perdana padi sebagai bagian dari program ketahanan pangan di Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Selasa (10/3/2026). 

Panen ini menjadi momentum penting karena lahan yang dipanen sebelumnya diketahui merupakan lahan tidur yang tidak ditanami padi selama hampir dua dekade. Keterbatasan air menjadi salah satu sebab lahan ini tak digunakan untuk sawah. 

Direktur BUMDesma Anugerah Pratama Bayan, Eko Sofyan Haryadi, mengatakan bahwa kegiatan panen perdana tersebut merupakan tahap awal dari program ketahanan pangan yang dikelola BUMDesma.

“Kegiatan hari ini, 10 Maret 2026, kami melaksanakan tahapan program ketahanan pangan yaitu panen perdana untuk padi,” kata Eko saat ditemui di lokasi kegiatan. 

Dalam program tersebut, BUMDesma menanam dua varietas padi, yakni Sri Dewi dan Ciherang. Total luas lahan yang ditanami mencapai sekitar satu hektar.

Menurut Eko, lahan yang digunakan merupakan tanah bengkok milik kepala desa yang disewa oleh BUMDesma selama tiga tahun dengan rencana masa tanam sebanyak sembilan kali musim tanam (MT).

“Untuk lahan ini merupakan tanah bengkok kepala desa yang kami sewa selama tiga tahun. Dalam periode itu kami rencanakan bisa melakukan sembilan kali musim tanam,” ujarnya.

Eko menjelaskan, keberhasilan panen perdana ini juga menjadi bukti bahwa lahan yang selama bertahun-tahun tidak dimanfaatkan kini dapat kembali produktif.

Sebelumnya, lahan tersebut tidak ditanami padi selama hampir 20 tahun karena berbagai kendala, terutama terkait sistem pengairan. Namun melalui koordinasi dengan sejumlah pihak, permasalahan tersebut akhirnya dapat diatasi.

“Lahan ini sebelumnya hampir 20 tahun tidak pernah ditanami padi karena berbagai kendala, terutama irigasi. Kami kemudian bersinergi dengan Forkopimcam dan Balai PSDA untuk mengidentifikasi masalah yang ada. Alhamdulillah akhirnya pengairan bisa teratasi dan lahan ini dapat ditanami kembali,” jelasnya.

Dalam pengelolaan lahan tersebut, BUMDesma mengusung sistem pertanian modern dengan memanfaatkan mekanisasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Selain padi, BUMDesma juga berencana menanam komoditas lain pada musim tanam berikutnya.

“Untuk musim tanam kedua nanti kami berencana menanam jagung. Jadi lahan ini tidak hanya untuk padi, tetapi juga untuk komoditas lain agar pemanfaatannya lebih optimal,” kata Eko.

Program ketahanan pangan yang dikelola BUMDesma ini merupakan hasil investasi dari tujuh desa di wilayah Kecamatan Bayan. Desa-desa tersebut meliputi Kalimiru, Dukurejo, Bayan, Pogungrejo, Ketiwijayan, Sambeng, dan satu desa lainnya yang turut berpartisipasi.

Total investasi yang dihimpun dari desa-desa tersebut mencapai sekitar Rp900 juta.

“Ini merupakan investasi bersama dari tujuh desa yang menyertakan modal ke BUMDesma dengan total sekitar Rp900 juta,” ujarnya.

Untuk hasil panen, BUMDesma telah menjalin kerja sama dengan Perum Bulog sebagai mitra penyerapan gabah. Harga pembelian yang diterapkan sebesar Rp6.500 per kilogram untuk gabah kering panen (GKP).

“Untuk harga jual kami bersinergi dengan Bulog dengan harga Rp6.500 per kilogram untuk GKP sesuai ketetapan yang berlaku,” kata Eko.

Berdasarkan uji sampling yang dilakukan bersama Balai Penyuluh Pertanian (BPP) dan pendamping pertanian lapangan Kecamatan Bayan, produktivitas padi dinilai cukup menjanjikan.

Dari hasil sampling, varietas Jeram yang ditanam di lahan seluas sekitar 150 ubin menghasilkan sekitar 1,1 ton gabah. Sementara varietas Sri Dewi dengan luasan sekitar 550 ubin diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 5,3 ton gabah.

Eko berharap keberhasilan panen perdana ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun sistem pertanian desa yang lebih modern, terstruktur, dan berkelanjutan.

“Kami berkomitmen ke depan bisa menciptakan sistem pengelolaan lahan yang lebih baik, dengan modernisasi dan mekanisasi pertanian. Harapannya, BUMDesma dapat menjadi penggerak utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat desa,” pungkasnya.

Sementara itu kepala gudang Bulog Sidik Sugiharto mengatakan pihaknya kali ini berusaha menyerap gabah dari para petani langsung. Sampai saat ini Bulog sudah menyerap sekitar 2500 ton gabah dari petani dengan harga yang bersaing. 

"Kita sudah dapat 2.500 ton dari petani dengan harga 6.500 per kilogram sesuai harga yang ditetapkan pemerintah. Stok di gudang bulog Purworejo ada 11.000 ton. Untuk 6 bulan ke depan kita aman," tutupnya.

Editor : Suryo Sukarno

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut