Reuni Haru Pejuang Bayi Tabung, RS Telogorejo Semarang Tebarkan Asa bagi Pasangan Mandul
SEMARANG, iNewsPantura.id – Perjuangan panjang mendapatkan buah hati menjadi cerita emosional yang menyatukan puluhan pasangan dalam sebuah talk show edukatif di SMC RS Telogorejo Semarang. Mengangkat tema program in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung serta tumbuh kembang anak, kegiatan ini tak sekadar forum kesehatan, tetapi juga ajang silaturahmi dan reuni penuh haru.
Talk show menghadirkan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi sekaligus Fertilitas SMC RS Telogorejo, dr. R. Arie Sutanto, SpOG, SubspFER, serta Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Anak, dr. Farid Agung Rahmadi, MSi Med, SpA. Sejumlah pasangan yang telah berhasil memiliki anak lewat program bayi tabung tampak hadir, berbagi kisah dan menyemangati mereka yang masih berjuang.
Dalam pemaparannya, dr. Arie menegaskan bahwa infertilitas bukan akhir dari harapan. Pasangan suami istri dinyatakan mengalami infertilitas bila setelah satu tahun pernikahan belum dikaruniai anak.
“Penyebab infertilitas bisa berasal dari suami, istri, atau keduanya. Karena itu, penanganannya tidak bisa disamaratakan dan harus sesuai kondisi medis masing-masing pasangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program bayi tabung menjadi solusi pada kondisi tertentu, seperti sumbatan saluran telur atau kualitas sperma yang kurang optimal, di mana peluang keberhasilan metode alami atau inseminasi relatif kecil.
“Selama pasangan mau berusaha dan mencari solusi medis yang tepat, peluang untuk mendapatkan keturunan tetap ada. Yang terpenting adalah tetap optimistis,” tegasnya.
Secara data, prevalensi infertilitas diperkirakan mencapai 10–15 persen pasangan usia subur dan cenderung meningkat. Faktor usia menikah yang semakin matang hingga pengaruh lingkungan disebut turut berkontribusi.
Tak hanya fokus pada keberhasilan kehamilan, talk show ini juga membahas tumbuh kembang anak, khususnya anak-anak yang lahir melalui program bayi tabung. Mulai dari kebutuhan nutrisi, stimulasi motorik, hingga perkembangan psikososial anak dikupas secara praktis.
dr. Farid menekankan bahwa peran orang tua sangat krusial dalam fase tumbuh kembang anak. “Stimulasi motorik dan psikososial yang konsisten di rumah akan sangat menentukan perkembangan anak ke depan,” jelasnya, seraya membagikan tips sederhana yang bisa langsung diterapkan orang tua.
Sementara itu, Direktur Pemasaran SMC RS Telogorejo, Diana Loretta Sari, SE, mengungkapkan bahwa program bayi tabung di RS Telogorejo telah berjalan sejak 1989, dengan kelahiran bayi pertama pada 1991.
“Program ini sudah berjalan sekitar 35 hingga 36 tahun. Kegiatan ini menjadi bentuk rasa syukur kami atas perjuangan luar biasa para pasangan yang akhirnya berhasil memiliki buah hati,” tuturnya.
Menurut Diana, proses bayi tabung bukan perjalanan singkat dan mudah. Dibutuhkan kesabaran, kekuatan mental, serta dukungan yang berkelanjutan. Karena itu, RS Telogorejo tidak hanya menargetkan keberhasilan program, tetapi juga memastikan tumbuh kembang anak-anak yang lahir dari program tersebut terpantau dengan baik.
Ia juga berharap para orang tua yang telah berhasil bisa berbagi pengalaman kepada masyarakat luas. “Sejak 1991, sudah banyak anak lahir melalui program ini. Masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri atau kota besar lainnya, karena layanan bayi tabung berkualitas sudah tersedia di Semarang,” pungkasnya.
Editor : Suryo Sukarno