Rumah China Muslim Berusia Dua Abad di Blora Jadi Saksi Akulturasi Budaya
BLORA, iNewsPantura.id – Sebuah rumah kuno berdiri kokoh di tengah pusat Kota Blora, Jawa Tengah. Dari luar, bangunan di Jalan Arumdalu, Kelurahan Mlangsen, Kecamatan Blora itu tampak menyerupai klenteng, lengkap dengan lampion dan ukiran khas Tionghoa.
Namun, ada hal yang membuat siapa pun tertegun saat hendak melangkah masuk. Di atas pintu utama, terpampang kalimat syahadat dalam tulisan Arab: “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah.”
Perpaduan ornamen Tionghoa dan simbol Islam itu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang melintas. Setelah masuk ke dalam, nuansa Tionghoa semakin terasa dari detail arsitektur, warna, hingga ukiran kayu yang menghiasi bagian interior.
Pemilik rumah, Haji Tieksun, menuturkan bangunan tersebut telah berdiri sekitar 200 tahun lalu. Ia menyebut, sejak dahulu rumah itu dimiliki oleh warga keturunan Tionghoa yang telah memeluk Islam.
“Dulu pemiliknya juga Cina Muslim. Sekarang saya juga Cina Muslim,” ujar Tieksun saat ditemui di kediamannya, Jumat (27/2/2026).
Tieksun mengungkapkan, rumah tersebut sempat diminta pemerintah untuk dijadikan bangunan cagar budaya. Namun ia memilih merawatnya secara pribadi.
“Bukan tidak mau, tapi saya ingin merawat sendiri. Rumah ini juga dipakai untuk kepentingan umum,” katanya.
Hingga kini, kondisi bangunan masih terawat dengan baik. Struktur atap dan tiang kayu penyangga tetap kokoh meski telah berusia dua abad. Rumah itu kerap digunakan untuk pertemuan organisasi maupun kegiatan sosial masyarakat.
Lurah Mlangsen, Evi Kartikasari, mengaku kagum dengan keberadaan rumah tersebut. Menurutnya, bangunan itu menjadi simbol nyata kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Blora.
“Ini bukti bahwa perbedaan budaya dan keyakinan bisa berdampingan dengan harmonis. Ornamen Tionghoa berpadu dengan simbol Islam dalam satu bangunan,” ujarnya.
Di tengah perkembangan kota, rumah kuno bernuansa klenteng itu tak sekadar menjadi saksi sejarah, tetapi juga penanda akulturasi budaya yang tumbuh dan hidup di Blora.
Editor : Suryo Sukarno