get app
inews
Aa Text
Read Next : Sambut Mudik Lebaran, GP Ansor Puring Dirikan Posko Banser dengan Layanan Gratis

Pilu! Bocah 8 Tahun di Gunungkidul Rela Putus Sekolah demi Rawat Ibu Lumpuh dan Buta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:05 WIB
header img
Fendi (8), bocah asal Dusun Jeruken, Girisekar, Panggang, Gunungkidul, memilih merawat ibunya yang lumpuh dan buta hingga harus berhenti sekolah. (Foto : iNewsPantura.id/ Kismaya).

GUNUNGKIDUL, iNewsPantura.id – Kisah pilu datang dari perbukitan karst di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Seorang bocah berusia delapan tahun bernama Fendi harus merelakan masa kecil sekaligus pendidikannya demi merawat sang ibu yang mengalami kelumpuhan dan kebutaan.

Fendi tinggal di Dusun Jeruken, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang. Di usia yang seharusnya duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, dia justru menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah untuk merawat ibunya yang terbaring sakit.

Sekitar tiga tahun lalu, saat baru memulai masa sekolah, Fendi terpaksa berhenti belajar. Keputusan itu diambil setelah kondisi kesehatan ibunya mendadak memburuk.

Sang ibu tiba-tiba kehilangan penglihatan dan mengalami kelumpuhan sehingga tidak lagi mampu menjalani aktivitas sehari-hari. Sejak saat itu, Fendi memilih tinggal di rumah untuk mendampingi dan merawat ibunya.

Dengan kesabaran luar biasa untuk anak seusianya, Fendi membantu kebutuhan sang ibu semampunya, mulai dari menemani hingga merawatnya di kasur sederhana di rumah mereka.

Warga sekitar sebenarnya tidak tinggal diam. Guru sekolah dan para tetangga telah berulang kali membujuk Fendi agar kembali bersekolah.

Berbagai cara dilakukan untuk membujuknya, mulai dari memberikan semangat, menjanjikan seragam baru, hingga memberikan mainan agar dia kembali ke bangku sekolah. Namun rasa sayang dan kekhawatiran terhadap ibunya membuat Fendi tetap memilih tinggal di rumah.

Dia mengaku tidak tega meninggalkan ibunya seorang diri.

Selain tidak lagi bersekolah, Fendi juga jarang bermain dengan anak-anak seusianya. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menemani ibunya di rumah.

Tetangga Fendi, Asih Rahayu mengatakan bahwa bocah tersebut sangat menyayangi ibunya sehingga memilih tetap berada di rumah.

“Dia memang sangat dekat dengan ibunya. Makanya tidak tega meninggalkan ibunya sendirian,” ujarnya.

Kondisi ekonomi keluarga Fendi juga memprihatinkan. Ayahnya yang sebelumnya bekerja sebagai tukang bangunan kini sering sakit-sakitan sehingga tidak mampu bekerja secara maksimal.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, keluarga ini mengandalkan bantuan sosial dari pemerintah serta bantuan dari tetangga dan para dermawan.

Sementara kakak tertua Fendi yang baru lulus sekolah menengah pertama kini mencoba membantu keluarga dengan bekerja serabutan.

Dukuh Jeruken, Winarsih mengatakan bhawa berbagai bantuan sosial memang sudah beberapa kali diberikan kepada keluarga tersebut. Namun menurutnya, yang dibutuhkan Fendi tidak hanya bantuan materi.

Pendampingan psikologis juga diperlukan agar bocah itu kembali memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan.

“Fendi masih sangat muda. Masa depannya masih panjang. Kami berharap ada perhatian agar dia bisa kembali sekolah dan meraih cita-citanya,” ujarnya.

Editor : Suryo Sukarno

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut