Unsoed Terjunkan Tim Ahli, Selidiki Fenomena Beruntun Keterdamparan Hiu Paus di Pesisir Cilacap
"Kondisi oseanografi tersebut mengindikasikan adanya peningkatan produktivitas perairan dan potensi agregasi plankton serta nekton kecil. Hal inilah yang menjadi faktor ekologis pendorong bagi hiu paus untuk mendekati perairan dangkal Cilacap guna berburu sumber makanan utama mereka, seperti udang rebon maupun ikan teri," jelas Mukti.
Fenomena ini diperkuat dengan hasil bedah bangkai (nekropsi) yang dilakukan tim gabungan, di mana lambung hiu paus tersebut ditemukan penuh berisi ikan teri nasi yang belum tercerna. Namun, di samping faktor alami tersebut, tim peneliti juga menyoroti adanya ancaman serius antropogenik (aktivitas manusia). Selain luka sayatan akibat baling-baling kapal, ditemukan pula sampah plastik di dalam saluran pencernaan satwa dilindungi tersebut.
Peneliti Unsoed lainnya, Dr. Nuning Vita Hidayati, menekankan bahwa penurunan kualitas lingkungan laut diduga kuat menjadi pemicu fatal yang menyebabkan satwa raksasa ini mengalami disorientasi hingga terdampar.
"Penurunan kualitas perairan akibat pencemaran, termasuk akumulasi logam berat, dapat memengaruhi kondisi fisiologis, sistem imun, dan kemampuan navigasi hiu. Gangguan tersebut berpotensi meningkatkan risiko disorientasi, stres lingkungan, bahkan yang terparah dapat menyebabkan keracunan akut yang berkontribusi langsung pada kejadian keterdamparan," ungkap Dr. Nuning.
Guna meneguhkan diagnosa pasti penyebab kematian dan keterdamparan beruntun ini, Unsoed kini tengah melakukan pengujian sampel lebih lanjut. Tim peneliti FPIK Unsoed telah mengamankan sampel perairan serta sampel biologis dari lokasi kejadian untuk diuji secara komprehensif di laboratorium universitas.
Pengujian di laboratorium Unsoed akan mencakup analisis mendalam mengenai kualitas air, analisis genetik, serta kajian oseanografi penunjang. Langkah riset ilmiah ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi akademis yang konkret bagi pemerintah daerah dan instansi terkait dalam merumuskan kebijakan perlindungan kawasan ruaya hiu paus di pesisir selatan Jawa secara berkelanjutan.
Editor : Eddie Prayitno