Inflasi Banyumas Raya Masih Aman, BI Sebut Transportasi dan Bawang Merah Jadi Penyebab Utama
PURWOKERTO, iNewsPantura.id – Kabar baik bagi masyarakat Banyumas Raya. Laju inflasi di Purwokerto dan Cilacap pada Juni 2026 tercatat melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Meski masih dipengaruhi penyesuaian harga BBM nonsubsidi, Bank Indonesia (BI) memastikan inflasi di kedua wilayah tetap berada dalam kisaran target nasional sehingga daya beli masyarakat dinilai masih terjaga.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Christoveny, mengungkapkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bulanan (month to month/mtm) di Purwokerto tercatat sebesar 0,12 persen dengan inflasi tahunan (year on year/yoy) 2,79 persen. Sementara itu, Kota Cilacap mencatat inflasi bulanan 0,10 persen dan inflasi tahunan 2,88 persen.
"Secara tahunan, inflasi di Purwokerto maupun Cilacap masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen. Ini menunjukkan kondisi inflasi di Banyumas Raya tetap terjaga," ujar Christoveny, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga pada Juni 2026 terutama dipicu penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang berdampak pada meningkatnya biaya transportasi dan distribusi barang. Selain itu, harga bawang merah juga mengalami kenaikan akibat berkurangnya produksi di sejumlah daerah sentra.
Momentum libur sekolah turut memberikan tekanan terhadap inflasi, terutama pada kelompok rekreasi, restoran, serta penyediaan makanan dan minuman karena meningkatnya mobilitas masyarakat.
Meski demikian, tekanan inflasi berhasil diredam oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan, seperti daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit. Penurunan tersebut didukung oleh pasokan yang tetap terjaga serta berbagai upaya stabilisasi harga yang dilakukan pemerintah.
Christoveny menyebut kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar di kedua wilayah. Di Purwokerto, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 1,64 persen (mtm) dengan andil 0,20 persen, sedangkan di Cilacap mencapai 1,23 persen (mtm) dengan andil 0,14 persen.
Untuk menjaga stabilitas harga ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan berbagai pemangku kepentingan akan terus memperkuat sinergi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Berbagai langkah yang dilakukan meliputi penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah, penguatan kerja sama antar daerah, pengembangan jaringan distribusi pangan, hingga komunikasi yang efektif kepada masyarakat.
Selain itu, TPID Banyumas Raya akan terus mengoptimalkan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif guna menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Editor: Suryo Sukarno