get app
inews
Aa Text
Read Next : Gantingi dan Manten Tebu Warnai Awal Musim Giling PG Rendeng

Akses Jalan yang Belum Baik, Jadi Perhatian Utama agar Musim Giling 2026 Berjalan Optimal

Jum'at, 19 Juni 2026 | 14:00 WIB
header img
Pertemuan strategis Perum Perhutani bersama PT PG Rajawali I dan PT PG Rajawali II. dokumen

SEMARANG, iNewsPantura.id –  Akses jalan menuju lokasi produki tanaman tebu yang masih belum baik, menjadi penghambat mobilitas armada pengangkut. Untuk itulah persoalan yang satu ini menjadi perhatian sehingga pelaksanaan musim giling 2026 dapat berjalan lebih optimal.

Direktur Operasi Perum Perhutani, Natalas Anis Harjanto, mengatakan berbagai dinamika yang terjadi selama dua tahun terakhir menjadi bahan evaluasi bersama.

“Memasuki tahun ketiga kemitraan ini, kami ingin memastikan seluruh kekurangan pada periode sebelumnya dapat disempurnakan. Fokus kami adalah memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai target dan timeline yang telah disepakati dalam RPKS,” ujar Natalas.

Terkait persoalan aksesibilitas jalan menuju lokasi produksi, pihaknya  meminta jajaran Administratur (ADM) dan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) telah diminta segera menyelesaikan administrasi dan mengusulkan perbaikan sejumlah ruas jalan yang selama ini menjadi hambatan bagi mobilitas armada pengangkut.

“Kami memahami masih terdapat keterbatasan anggaran, namun itu tidak boleh menghambat operasional. Dengan optimalisasi sumber daya yang ada, titik-titik jalan yang sulit diharapkan dapat segera diperbaiki sehingga mendukung kelancaran distribusi dan pengangkutan hasil panen,” imbuhnya.

Natalas menambahkan, berdasarkan prakiraan BMKG, kondisi iklim pada 2026 diperkirakan lebih mendukung dengan kecenderungan musim kemarau yang lebih panjang. Situasi tersebut dinilai menjadi peluang bagi percepatan pekerjaan di lapangan.

“Seluruh tahapan kami targetkan selesai tepat waktu. Kami juga terbuka terhadap berbagai solusi atas hambatan di lapangan. Namun opsi pengalihan pekerjaan kepada mitra lain hanya akan menjadi pilihan terakhir apabila target benar-benar tidak dapat dipenuhi,” tegasnya usai pertemuan antara Perum Perhutani bersama PT PG Rajawali I dan PT PG Rajawali II.

Sementara itu, Direktur Utama PT PG Rajawali I, Daniyanto, menegaskan pihaknya sangat berharap kerja sama dengan Perhutani dapat terus berlanjut karena terbukti memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

“Kontribusi Perhutani sangat besar terhadap peningkatan kapasitas giling kami yang pada 2025 mencapai 9,5 juta kuintal. Karena itu, kami berkomitmen memenuhi seluruh kewajiban secara tepat waktu dan menjaga kemitraan ini agar semakin kuat,” ujarnya.

Daniyanto mengungkapkan tantangan cuaca La Nina pada tahun lalu menyebabkan sebagian tebu di sejumlah KPH belum dapat dipanen secara maksimal. Namun, proyeksi musim kemarau panjang pada pertengahan hingga akhir 2026 memberikan optimisme baru bagi peningkatan rendemen dan pendapatan.

“Kondisi cuaca yang lebih baik menjadi peluang untuk memperoleh kualitas tebu yang lebih optimal. Walaupun produktivitas tahun ini diperkirakan sedikit menurun akibat dampak hujan berkepanjangan sebelumnya, kami optimistis hasil yang dicapai akan tetap positif. Koordinasi perencanaan tebang dan angkut juga akan kami lakukan lebih awal agar pasokan bahan baku ke sejumlah pabrik dapat terjaga,” katanya.

Menurut Daniyanto, kebutuhan bahan baku tersebut akan menopang operasional sejumlah pabrik gula di Malang, Kebon Agung Baru, Madiun, hingga Madu Baru Yogyakarta yang kini berada dalam koordinasi bersama.

Di sisi lain, Direktur Utama PT PG Rajawali II, Ardian Wijanarko, menilai peningkatan volume tebu giling yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir harus dibarengi dengan penguatan produktivitas di tingkat KPH.

“Fokus kami saat ini adalah menjaga stabilitas produksi dan meningkatkan produktivitas. Pengalaman adanya beberapa wilayah yang sempat bermitra dengan pihak lain menjadi pelajaran penting. Ke depan, kami berharap seluruh pihak dapat kembali bersatu sehingga tidak terjadi tumpang tindih maupun kendala operasional di lapangan,” kata Ardian.

Saat ini, kemitraan Perhutani dengan PG Rajawali telah mencakup lahan seluas lebih dari 2.523 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Rinciannya meliputi kerja sama seluas 104 hektare dengan PG Jati Tujuh di wilayah Jawa Barat dan Banten, 94,47 hektare dengan PG Tersana Baru di Jawa Tengah, serta 338,61 hektare dengan PG Rejo Agung Baru di Jawa Tengah. Adapun porsi terbesar berada di Jawa Timur melalui kerja sama dengan PG Rejo Agung Baru seluas 1.986,55 hektare. Luasan tersebut menjadi salah satu penopang penting bagi keberlangsungan industri gula nasional sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan kawasan hutan secara produktif dan berkelanjutan.

Dengan dukungan kondisi iklim yang diperkirakan lebih bersahabat serta semakin kuatnya koordinasi kedua pihak, kemitraan strategis antara Perhutani dan PG Rajawali diharapkan mampu memperkuat pasokan bahan baku industri gula nasional. Di saat yang sama, sinergi tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi kawasan hutan serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi perusahaan, masyarakat, dan sektor pergulaan nasional.

Editor : Eddie Prayitno

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut