Ajak Orangtua Pahami Emosi Anak Sejak Dini, Langkah Awal Cegah Masalah Perilaku
YOGYAKARTA, iNewsPantura.id – Banyak orang tua masih menganggap tangisan, amarah, atau rasa takut anak sebagai bentuk kenakalan yang harus segera dihentikan. Padahal, para ahli menilai kemampuan orang tua memahami emosi anak justru menjadi kunci penting dalam membentuk karakter, kesehatan mental, dan kemampuan bersosialisasi anak sejak usia dini.
Kesadaran itu mendorong dosen Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjaya) Yogyakarta bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengembangkan PEACE Program (Parent Emotion Awareness and Child Empowerment) di PAUD Alam Avicenna Yogyakarta sebagai upaya memperkuat kapasitas orang tua dan guru dalam mendampingi perkembangan emosional anak.
Program tersebut merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.
Ketua tim pelaksana, Dr. Sujono Riyadi, S.Kep., Ns., M.Kes., mengatakan anak tidak lahir dengan kemampuan mengelola emosinya sendiri. Kemampuan tersebut dipelajari melalui interaksi sehari-hari dengan orang tua dan lingkungan terdekat.
"Pengelolaan emosi yang baik dari orang tua dan guru akan memberikan dampak besar terhadap perkembangan sosial dan emosional anak sejak usia dini. Cara orang dewasa merespons emosi anak akan membentuk cara anak memahami dan mengendalikan emosinya sendiri," ujarnya.
PEACE Program dilaksanakan melalui tiga tahapan, yakni sosialisasi kepada orang tua mengenai pentingnya kesadaran emosi, pelatihan bagi guru PAUD tentang komunikasi empatik, serta kegiatan bersama orang tua dan anak bertajuk Little Adventure, Big Courage.
Dalam kegiatan tersebut, orang tua tidak hanya memperoleh materi mengenai regulasi emosi, tetapi juga memahami pentingnya ikatan emosional (attachment) yang aman bagi perkembangan otak anak. Berbagai metode pengasuhan, seperti komunikasi tanpa kekerasan, mindful parenting, dan refleksi keluarga melalui journaling juga diperkenalkan agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini juga dirancang memiliki indikator evaluasi sehingga perubahan pola pengasuhan maupun perkembangan kemampuan emosional anak dapat dipantau secara berkelanjutan.
Antusiasme guru, orang tua, mahasiswa, dan tim dosen selama pelaksanaan kegiatan menunjukkan semakin tingginya kesadaran bahwa pendidikan anak tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan akademik.
Melalui PEACE Program, para orang tua diharapkan memahami bahwa mengenali dan menerima emosi anak merupakan langkah awal membangun rasa aman dalam keluarga. Ketika anak merasa didengar dan dipahami, mereka akan lebih mudah mengembangkan rasa percaya diri, kemampuan menyelesaikan masalah, serta keterampilan menjalin hubungan sosial yang sehat.
Tim pengabdian berharap pendekatan pengasuhan berbasis kesadaran emosi ini dapat diterapkan lebih luas di berbagai lembaga pendidikan anak usia dini sehingga tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional.
Editor : Eddie Prayitno