Harga Telur Anjlok, Peternak Pekalongan Bagi-Bagi Ayam Petelur Gratis, Warga Rela Berdesakan
PEKALONGAN, iNewsPantura.id – Aksi protes ratusan peternak ayam petelur di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, berujung pada aksi tak biasa. Karena tak lagi kuat menanggung tingginya biaya produksi sementara harga telur terus merosot, peternak memilih membagikan ratusan ayam petelur secara gratis kepada warga.
Aksi tersebut berlangsung di Jalan Mandurorejo, tepat di depan rumah dinas Bupati Pekalongan. Sontak, puluhan hingga ratusan warga, terutama ibu-ibu dan bapak-bapak, langsung berdatangan dan rela mengantre hingga berdesakan demi mendapatkan seekor ayam petelur.
Suasana semakin ramai ketika peternak mulai membagikan ayam secara cuma-cuma. Warga yang mendapatkan ayam tampak semringah. Sebagian mengaku akan membawa pulang ayam tersebut untuk dimasak sebagai menu keluarga.
Namun, di balik aksi bagi-bagi ayam gratis tersebut, tersimpan keluhan serius para peternak yang mengaku berada di tengah tekanan ekonomi.
Sebelumnya, ratusan peternak ayam petelur menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan. Mereka berorasi sambil membentangkan sejumlah spanduk yang berisi tuntutan agar pemerintah turun tangan mengatasi anjloknya harga telur.
Para peternak menilai harga telur saat ini tidak lagi sebanding dengan biaya produksi. Mereka meminta pemerintah mengambil langkah konkret agar usaha peternakan rakyat tidak semakin terpuruk.
Perwakilan massa kemudian ditemui oleh dinas terkait untuk menyampaikan aspirasi dan keluhan para peternak.
Usai menyampaikan aspirasi di kawasan Setda, massa bergerak menuju Jalan Mandurorejo, di depan rumah dinas Bupati Pekalongan. Di lokasi tersebut, peternak melanjutkan aksi protes dengan membagikan ayam petelur secara gratis kepada masyarakat.
Peternak ayam petelur asal Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, H Soli, mengatakan kondisi usaha peternakan saat ini semakin berat. Harga telur terus turun, sementara harga pakan justru relatif tinggi.
Menurutnya, harga telur di tingkat peternak saat ini hanya sekitar Rp21.000 per kilogram. Padahal, harga acuan pemerintah berada di kisaran Rp24.000 per kilogram, sedangkan peternak menilai harga yang ideal untuk menutup biaya produksi setidaknya sekitar Rp28.000 per kilogram.
“Sekarang harga telur sekitar Rp21.000 per kilogram. Dengan biaya produksi seperti sekarang, seharusnya bisa sekitar Rp28.000 per kilogram,” keluh Soli.
Tekanan semakin berat karena komponen pakan terus menyedot biaya produksi. Harga pakan pabrikan disebut mencapai sekitar Rp8.500 per kilogram, jagung sekitar Rp7.500 per kilogram, sedangkan bekatul sekitar Rp5.000 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat keuntungan peternak semakin tergerus. Bahkan, sejumlah peternak terpaksa mengosongkan kandang karena tidak lagi mampu membiayai kebutuhan pakan dan operasional ayam petelur.
“Banyak kandang ayam terpaksa dikosongkan karena sudah tidak mampu membiayai produksi,” ujar Soli.
Para peternak berharap pemerintah tidak hanya melihat harga telur di tingkat konsumen, tetapi juga memperhatikan biaya produksi yang harus ditanggung peternak. Mereka meminta adanya kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan harga telur sehingga peternak tidak terus mengalami kerugian.
Sementara itu, aksi pembagian ayam gratis justru menarik perhatian masyarakat. Ny Putri dan Ny Hima, dua warga yang ikut mengantre, mengaku senang bisa mendapatkan ayam petelur secara gratis meski harus berdesakan dengan warga lainnya.
Keduanya berencana membawa ayam tersebut pulang untuk dimasak sebagai menu keluarga.
Aksi ini menjadi gambaran betapa berat tekanan yang kini dihadapi peternak ayam petelur. Ketika telur yang dihasilkan tidak mampu menutup ongkos produksi, ayam yang semestinya menjadi sumber penghasilan justru dibagikan gratis kepada masyarakat.
Editor : Suryo Sukarno