get app
inews
Aa Text
Read Next : 2.727 Mangkuk Mi Ayam Pecahkan Rekor LEPRID di Taman Indonesia Kaya

25 Ribu Warga Tari Dug Dug Der di Simpang Lima, Semarang Raih Rekor LEPRID

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:30 WIB
header img
Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan diikuti sekitar 25 ribu warga dan mencatatkan rekor LEPRID. Foto : iNewsPantura.id/ Dimas Yuli

SEMARANG, iNewsPantura.id – Sekitar 25 ribu warga Kota Semarang memadati Lapangan Pancasila Simpang Lima, Minggu (9/8), untuk mengikuti Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan. Kegiatan tersebut sekaligus mengantarkan Kota Semarang meraih rekor Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID).

Rekor yang dicatatkan yakni “Pemrakarsa dan Penyelenggara Rekor Festival Nari Bareng ‘Dug Dug Der Semarangan’ diikuti Peserta Terbanyak.”

Piagam penghargaan bernomor No. 1.037/LEPRID/VIII/2026 diserahkan langsung oleh Pendiri sekaligus Ketua Umum LEPRID Paulus Pangka kepada Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng.

Agustina menegaskan, penghargaan tersebut bukan semata-mata milik pemerintah kota, melainkan dipersembahkan kepada seluruh warga Semarang yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Rekor ini bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat ikut memiliki dan mencintai budaya Kota Semarang,” ujar Agustina.

Menurutnya, keterlibatan sekitar 25 ribu warga menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi ruang untuk membangun kebersamaan sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas kota.

Agustina menyebut Tari Dug Dug Der Semarangan menjadi salah satu cara untuk membawa tradisi lokal ke ruang publik, khususnya agar lebih dekat dengan generasi muda.

“Budaya harus hidup. Anak-anak muda harus mengenal, mempelajari, dan ikut mengekspresikannya,” katanya.

Berangkat dari Tradisi Dugderan

Tari Dug Dug Der Semarangan memiliki keterkaitan dengan tradisi Dugderan yang telah berkembang di Kota Semarang sejak abad ke-19.

Nama Dugderan berasal dari perpaduan bunyi bedug “dug” dan dentuman meriam “der” yang dahulu digunakan sebagai penanda datangnya bulan Ramadan. Tradisi tersebut kemudian berkembang dengan ikon Warak Ngendog yang merepresentasikan akulturasi berbagai budaya di Semarang.

Agustina menilai nilai keberagaman yang terkandung dalam tradisi tersebut perlu terus dikembangkan melalui ekspresi seni yang dapat diterima masyarakat, terutama generasi muda.

“Kota Semarang dibangun dari keberagaman, sehingga budaya harus menjadi ruang yang menyatukan. Dug Dug Der diciptakan sebagai karya yang bisa dilakukan bersama, dinikmati bersama, dan menjadi kebanggaan bersama,” tegasnya.

Festival tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut Agustina, semangat kebersamaan yang ditunjukkan ribuan peserta sejalan dengan nilai persatuan dalam keberagaman.

“Kemerdekaan mengajarkan kita untuk bersatu dalam keberagaman. Hari ini kita menunjukkan bahwa budaya menjadi bahasa yang efektif untuk mempererat masyarakat,” imbuhnya.

Dalam kegiatan tersebut, apresiasi juga diberikan kepada sejumlah pihak yang mendukung penyelenggaraan festival. Salah satunya penghargaan khusus dari Museum Gubug Wayang (MGW) yang diwakili Penasehat MGW Group, Kombes Polisi Tri Suhartanto.

Agustina mengatakan, keberhasilan festival tidak terlepas dari kolaborasi berbagai elemen, mulai dari aparatur pemerintah, komunitas, seniman, dunia usaha hingga masyarakat.

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Ada banyak pihak yang ikut mendukung. Kolaborasi seperti inilah yang harus terus kita bangun,” ujarnya.

Ia berharap pencatatan rekor LEPRID tidak berhenti sebagai sebuah seremoni, tetapi menjadi momentum untuk memperluas gerakan kebudayaan di Kota Semarang.

Gerakan tersebut diharapkan dapat terus berkembang melalui sekolah, sanggar seni, komunitas hingga tingkat kelurahan.

“Jangan sampai hari ini kita mencetak rekor, besok selesai. Rekor ini kita jadikan titik awal untuk memperluas gerakan budaya di seluruh wilayah,” tuturnya.

Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dapat dilakukan dengan pendekatan kreatif dan melibatkan masyarakat secara luas. Dari Simpang Lima, budaya lokal tidak hanya ditampilkan sebagai warisan sejarah, tetapi juga dihidupkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Kota Semarang.

Editor : Suryo Sukarno

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut