18 Desa di Kabupaten Semarang Krisis Air Bersih, Warga Rela Antre demi Air
SEMARANG, iNewsPantura.id – Kemarau panjang membuat warga di sejumlah wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, harus berjuang mendapatkan air bersih. Sedikitnya 18 desa terdampak kekeringan dan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Warga terdampak, salah satunya di Kecamatan Suruh, bahkan harus rela mengantre saat bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Semarang tiba.
Truk pengangkut air yang didistribusikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang langsung disambut warga. Mereka telah menyiapkan berbagai wadah, mulai dari galon, ember hingga jeriken untuk menampung air.
Kekeringan di wilayah tersebut telah berlangsung sekitar empat bulan. Warga yang ingin mendapatkan air dari sumber yang masih tersisa harus berjalan hingga sekitar setengah kilometer menuju kawasan perkebunan.
Kondisi itu membuat sebagian warga terpaksa membeli air. Harga air mencapai sekitar Rp5.000 per galon.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan, kekeringan dan krisis air bersih masih terjadi di sejumlah wilayah. Menurutnya, saat ini terdapat 18 desa yang terdampak.
Pada Sabtu (5/9/2026), pemerintah daerah mendistribusikan 15 tangki air, masing-masing berkapasitas 5.000 liter, untuk memenuhi kebutuhan warga di empat dusun.
“Bantuan air ini kami distribusikan untuk membantu masyarakat yang mengalami kekurangan air bersih akibat kemarau,” ujar Ngesti Nugraha.
Warga Dusun Bulu, Desa Dadapayam, Septi Nur Jayanti, mengatakan kemarau tahun ini dirasakan lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, bantuan air bersih sangat membantu warga, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan kebutuhan lainnya.
“Kekeringan tahun ini terasa lebih panjang. Bantuan air sangat membantu kami, terutama untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Septi.
Hingga saat ini, total bantuan air bersih yang telah disalurkan kepada masyarakat terdampak mencapai 275 tangki.
Bantuan tersebut berasal dari berbagai pihak, mulai dari BPBD, PMI, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Baznas, Polres Semarang, relawan, hingga sejumlah perusahaan.
Pemerintah daerah terus melakukan pendistribusian air bersih untuk membantu warga selama musim kemarau masih berlangsung.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih menjadi persoalan mendesak bagi warga di wilayah yang mengalami kekeringan. Bagi masyarakat terdampak, satu tangki air bukan sekadar bantuan, tetapi menjadi sumber kehidupan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Editor : Suryo Sukarno