Pejabat Baru Kejati Jateng Dilantik, Asintel hingga Kajari Banjarnegara Diminta Langsung Tancap Gas
SEMARANG,iNewsPantura.id – Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Jawa Tengah, Waito Wongateleng, meminta pejabat yang baru dilantik segera bekerja, memetakan persoalan, dan memperkuat integritas. Pergantian jabatan di lingkungan Kejaksaan, menurutnya, bukan sekadar rotasi personel, melainkan penyerahan amanah dan tanggung jawab.
Pesan tersebut disampaikan Waito saat memimpin pelantikan dan serah terima jabatan sejumlah pejabat eselon III di Kantor Kejati Jawa Tengah, Kota Semarang.
Dalam pelantikan tersebut, Dr. Andhie Fajar Arianto, SH, MH, dipercaya menjabat Asisten Intelijen (Asintel) Kejati Jawa Tengah. Sementara itu, Edi Winarko, SH, MH, dilantik sebagai Asisten Pengawasan (Aswas) Kejati Jawa Tengah. Pada kesempatan yang sama, Sulasman, SH, MH, juga dilantik dan diambil sumpahnya sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Banjarnegara.
Waito menegaskan, pejabat baru harus segera menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, memahami tugas pokok dan fungsi, serta mengidentifikasi berbagai persoalan yang membutuhkan penanganan.
“Segera pelajari, segera pahami, segera petakan permasalahan, segera lakukan mitigasi dan segera bekerja. Organisasi tidak boleh berhenti hanya karena pergantian pejabat,” tegas Waito dalam amanatnya.
Ia mengingatkan, proses pergantian kepemimpinan tidak boleh menghambat kinerja organisasi. Setiap pejabat harus mampu memastikan tugas dan pelayanan institusi tetap berjalan efektif.
“Pelantikan bukan sekadar pergantian nama dan jabatan pada sebuah struktur organisasi. Pelantikan adalah penyerahan kepercayaan, penyerahan tanggung jawab, dan yang paling penting adalah penyerahan amanah,” ujarnya.
Kepada Asintel yang baru, Andhie Fajar Arianto, Waito memberikan perhatian khusus pada penguatan fungsi intelijen, terutama dalam mendeteksi perkembangan situasi dan memberikan peringatan dini terhadap potensi ancaman.
Menurutnya, jajaran intelijen harus mampu membaca berbagai potensi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang dapat memengaruhi pelaksanaan tugas maupun kewibawaan institusi Kejaksaan.
Untuk itu, fungsi intelijen perlu didukung jejaring komunikasi dan koordinasi yang kuat agar informasi yang disampaikan kepada pimpinan akurat dan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan.
Waito berharap bidang intelijen benar-benar berfungsi sebagai mata dan telinga pimpinan, sehingga setiap perkembangan yang berpotensi mengganggu pelaksanaan tugas dapat diantisipasi lebih awal.
Sementara kepada Aswas Edi Winarko, Waito menekankan pentingnya pengawasan untuk memastikan seluruh insan Adhyaksa bekerja sesuai aturan, menjunjung integritas, serta menjalankan tugas secara profesional dan bertanggung jawab.
Ia menegaskan, tidak boleh ada toleransi terhadap pelanggaran disiplin. Pengawasan harus dilaksanakan secara objektif, profesional, proporsional, dan berkeadilan.
Namun, pengawasan juga tidak semata-mata berorientasi pada penindakan. Fungsi tersebut diharapkan mampu membangun budaya kerja yang sehat sekaligus menjaga kehormatan institusi.
“Pengawasan bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi merupakan bagian penting dari upaya menjaga marwah dan kehormatan institusi,” kata Waito.
Kepada Kajari Banjarnegara yang baru, Sulasman, Waito meminta agar segera melakukan konsolidasi internal dan membangun kepemimpinan yang tegas dalam prinsip, terbuka dalam komunikasi, serta mampu memberikan keteladanan kepada jajaran.
Ia mengingatkan, seorang pemimpin tidak cukup hanya memberikan instruksi. Pemimpin juga harus hadir untuk memberikan arahan ketika anggota membutuhkan dukungan dan mengambil sikap tegas saat organisasi menghadapi persoalan.
“Jangan hanya menjadi pimpinan yang memberikan perintah. Jadilah pimpinan yang hadir ketika anak buah membutuhkan arahan, hadir ketika organisasi menghadapi persoalan, dan hadir paling depan ketika institusi membutuhkan ketegasan,” pesannya.
Waito juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan dalam menjalankan tugas kedinasan, termasuk kepatuhan terhadap ketentuan ketika pimpinan meninggalkan wilayah kerja atau melakukan perjalanan dinas.
Menutup amanatnya, Waito mengajak seluruh jajaran Kejati Jawa Tengah dan satuan kerja di wilayah hukumnya untuk memperkuat soliditas. Menurutnya, kebersamaan harus menjadi fondasi untuk membangun institusi yang kuat, profesional, dan berintegritas.
“Jabatan adalah amanah, bukan sekadar kehormatan. Setiap penugasan harus dijalankan dengan integritas dan moral agar marwah institusi senantiasa terjaga,” pungkasnya.
Pelantikan dan serah terima jabatan ini diharapkan memperkuat kinerja Kejati Jawa Tengah, terutama dalam fungsi intelijen, pengawasan, dan kepemimpinan di tingkat kejaksaan negeri. Para pejabat baru diharapkan mampu menjaga kesinambungan organisasi sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas di wilayah masing-masing.
SEMARANG,iNewsPantura.id – Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Jawa Tengah, Waito Wongateleng, meminta pejabat yang baru dilantik segera bekerja, memetakan persoalan, dan memperkuat integritas. Pergantian jabatan di lingkungan Kejaksaan, menurutnya, bukan sekadar rotasi personel, melainkan penyerahan amanah dan tanggung jawab.
Pesan tersebut disampaikan Waito saat memimpin pelantikan dan serah terima jabatan sejumlah pejabat eselon III di Kantor Kejati Jawa Tengah, Kota Semarang.
Dalam pelantikan tersebut, Dr. Andhie Fajar Arianto, SH, MH, dipercaya menjabat Asisten Intelijen (Asintel) Kejati Jawa Tengah. Sementara itu, Edi Winarko, SH, MH, dilantik sebagai Asisten Pengawasan (Aswas) Kejati Jawa Tengah. Pada kesempatan yang sama, Sulasman, SH, MH, juga dilantik dan diambil sumpahnya sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Banjarnegara.
Waito menegaskan, pejabat baru harus segera menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, memahami tugas pokok dan fungsi, serta mengidentifikasi berbagai persoalan yang membutuhkan penanganan.
“Segera pelajari, segera pahami, segera petakan permasalahan, segera lakukan mitigasi dan segera bekerja. Organisasi tidak boleh berhenti hanya karena pergantian pejabat,” tegas Waito dalam amanatnya.
Ia mengingatkan, proses pergantian kepemimpinan tidak boleh menghambat kinerja organisasi. Setiap pejabat harus mampu memastikan tugas dan pelayanan institusi tetap berjalan efektif.
“Pelantikan bukan sekadar pergantian nama dan jabatan pada sebuah struktur organisasi. Pelantikan adalah penyerahan kepercayaan, penyerahan tanggung jawab, dan yang paling penting adalah penyerahan amanah,” ujarnya.
Kepada Asintel yang baru, Andhie Fajar Arianto, Waito memberikan perhatian khusus pada penguatan fungsi intelijen, terutama dalam mendeteksi perkembangan situasi dan memberikan peringatan dini terhadap potensi ancaman.
Menurutnya, jajaran intelijen harus mampu membaca berbagai potensi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang dapat memengaruhi pelaksanaan tugas maupun kewibawaan institusi Kejaksaan.
Untuk itu, fungsi intelijen perlu didukung jejaring komunikasi dan koordinasi yang kuat agar informasi yang disampaikan kepada pimpinan akurat dan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan.
Waito berharap bidang intelijen benar-benar berfungsi sebagai mata dan telinga pimpinan, sehingga setiap perkembangan yang berpotensi mengganggu pelaksanaan tugas dapat diantisipasi lebih awal.
Sementara kepada Aswas Edi Winarko, Waito menekankan pentingnya pengawasan untuk memastikan seluruh insan Adhyaksa bekerja sesuai aturan, menjunjung integritas, serta menjalankan tugas secara profesional dan bertanggung jawab.
Ia menegaskan, tidak boleh ada toleransi terhadap pelanggaran disiplin. Pengawasan harus dilaksanakan secara objektif, profesional, proporsional, dan berkeadilan.
Namun, pengawasan juga tidak semata-mata berorientasi pada penindakan. Fungsi tersebut diharapkan mampu membangun budaya kerja yang sehat sekaligus menjaga kehormatan institusi.
“Pengawasan bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi merupakan bagian penting dari upaya menjaga marwah dan kehormatan institusi,” kata Waito.
Kepada Kajari Banjarnegara yang baru, Sulasman, Waito meminta agar segera melakukan konsolidasi internal dan membangun kepemimpinan yang tegas dalam prinsip, terbuka dalam komunikasi, serta mampu memberikan keteladanan kepada jajaran.
Ia mengingatkan, seorang pemimpin tidak cukup hanya memberikan instruksi. Pemimpin juga harus hadir untuk memberikan arahan ketika anggota membutuhkan dukungan dan mengambil sikap tegas saat organisasi menghadapi persoalan.
“Jangan hanya menjadi pimpinan yang memberikan perintah. Jadilah pimpinan yang hadir ketika anak buah membutuhkan arahan, hadir ketika organisasi menghadapi persoalan, dan hadir paling depan ketika institusi membutuhkan ketegasan,” pesannya.
Waito juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan dalam menjalankan tugas kedinasan, termasuk kepatuhan terhadap ketentuan ketika pimpinan meninggalkan wilayah kerja atau melakukan perjalanan dinas.
Menutup amanatnya, Waito mengajak seluruh jajaran Kejati Jawa Tengah dan satuan kerja di wilayah hukumnya untuk memperkuat soliditas. Menurutnya, kebersamaan harus menjadi fondasi untuk membangun institusi yang kuat, profesional, dan berintegritas.
“Jabatan adalah amanah, bukan sekadar kehormatan. Setiap penugasan harus dijalankan dengan integritas dan moral agar marwah institusi senantiasa terjaga,” pungkasnya.
Pelantikan dan serah terima jabatan ini diharapkan memperkuat kinerja Kejati Jawa Tengah, terutama dalam fungsi intelijen, pengawasan, dan kepemimpinan di tingkat kejaksaan negeri. Para pejabat baru diharapkan mampu menjaga kesinambungan organisasi sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas di wilayah masing-masing.
Editor: Eddie Prayitno