Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 16 Negara Bersaing di Polytron Kudus Indonesia Masters 2026, Ginting Jadi Andalan Tuan Rumah
Advertisement . Scroll to see content

Sembilan UMKM Banyumas Raya Unjuk Produk di ISEF 2026

Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:01 WIB
  • author Saladin Ayyubi
Sembilan UMKM Banyumas Raya Unjuk Produk di ISEF 2026
ilustrasi

PURWOKERTO,iNewsPantura.id – Sembilan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto menembus panggung nasional melalui Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

Keikutsertaan tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha Banyumas Raya untuk memperluas jaringan bisnis dan mengenalkan produk unggulan daerah ke pasar yang lebih luas.

ISEF 2026 berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 14–18 Oktober 2026. Dalam ajang tersebut, nilai business matching pembiayaan dan perdagangan syariah mencapai Rp3,16 triliun, sedangkan penjualan produk makanan halal dan fesyen tercatat sebesar Rp13,85 miliar.

Salah satu pencapaian yang menonjol datang dari Thulada Lumbung Rempah asal Kabupaten Banjarnegara. UMKM binaan BI Purwokerto melalui program Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA) tersebut berhasil meraih juara kedua Indonesia International Halal Chef Competition (IN2HCC) 2026 kategori Produk UMKM IKRA.

Kompetisi itu melibatkan 10 juri yang merupakan president chef dari 10 negara. Ajang tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk menunjukkan kualitas produk, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk bertemu calon pembeli potensial dari pasar yang lebih luas.

Keberhasilan tersebut memperlihatkan peluang produk lokal untuk bersaing dalam industri halal apabila didukung peningkatan mutu, pendampingan usaha, serta pemenuhan standar yang dibutuhkan pasar.

Kepala Perwakilan BI Purwokerto, Aswin Gantina, mengatakan penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Penguatan industri halal, pemberdayaan pesantren, keuangan sosial syariah, serta pengembangan UMKM dan wastra lokal akan terus didorong agar semakin berdaya saing dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Banyumas Raya,” demikian arah penguatan yang disampaikan dalam siaran pers BI Purwokerto.

Sembilan UMKM atau Pelaku Usaha Syariah (PUS) binaan BI Purwokerto yang mengikuti ISEF membawa produk unggulan daerah, terutama kuliner halal dan batik. Partisipasi ini diharapkan mempertemukan pelaku usaha dengan mitra bisnis sekaligus memperluas pemasaran produk Banyumas Raya.

Penguatan ekonomi syariah yang dilakukan BI Purwokerto tidak hanya menyasar pelaku UMKM, tetapi juga pesantren. Program yang dijalankan meliputi pelatihan kewirausahaan, penguatan pelaporan keuangan melalui Sistem Informasi Pesantren Bank Indonesia (SIPUSBI), serta penerapan praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) untuk budidaya cabai.

Kemampuan digital santri dari lima pesantren di Banyumas Raya juga diperkuat. Upaya ini diharapkan membantu pesantren mengembangkan unit usaha dan menyesuaikan diri dengan perkembangan ekonomi digital.

Selain itu, digitalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) terus didorong melalui edukasi kepada pengurus masjid dan masyarakat. Pengelolaan dana sosial syariah yang lebih baik diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi produktif dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Penguatan literasi ekonomi syariah juga dilakukan melalui sejumlah kegiatan, antara lain Pasar Ramadan, Karya Kreatif Serayu (KKS), SELARAS x Festival Literasi 2026, serta program inovasi pemanfaatan zakat dan wakaf produktif.

Potensi ekonomi syariah Banyumas Raya turut diperkenalkan melalui sektor pariwisata. Desa Wisata Lembah Asri Serang (D’LAS) di Kabupaten Purbalingga dipromosikan sebagai salah satu destinasi wisata ramah muslim.

Pengembangan wisata tersebut berpeluang terhubung dengan produk kuliner halal, kerajinan, dan wastra lokal sehingga memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.

Di sektor fesyen, perkembangan industri busana muslim juga membuka kesempatan bagi perajin batik, desainer, dan pelaku industri kreatif untuk memperluas pasar. Wastra Serayu, sebagai salah satu potensi lokal Banyumas Raya, diharapkan semakin dikenal di tingkat nasional hingga internasional.

BI Purwokerto berkomitmen melanjutkan penguatan industri halal, pemberdayaan pesantren, pengembangan UMKM, serta pemanfaatan keuangan sosial syariah melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra strategis.

Berbagai upaya tersebut diharapkan membuat ekonomi syariah tidak berhenti pada kegiatan promosi, tetapi berkembang menjadi penggerak ekonomi daerah melalui perluasan peluang usaha, peningkatan daya saing produk, dan penguatan kesejahteraan masyarakat Banyumas Raya.

PURWOKERTO,iNewsPantura.id – Sembilan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto menembus panggung nasional melalui Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

Keikutsertaan tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha Banyumas Raya untuk memperluas jaringan bisnis dan mengenalkan produk unggulan daerah ke pasar yang lebih luas.

ISEF 2026 berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 14–18 Oktober 2026. Dalam ajang tersebut, nilai business matching pembiayaan dan perdagangan syariah mencapai Rp3,16 triliun, sedangkan penjualan produk makanan halal dan fesyen tercatat sebesar Rp13,85 miliar.

Salah satu pencapaian yang menonjol datang dari Thulada Lumbung Rempah asal Kabupaten Banjarnegara. UMKM binaan BI Purwokerto melalui program Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA) tersebut berhasil meraih juara kedua Indonesia International Halal Chef Competition (IN2HCC) 2026 kategori Produk UMKM IKRA.

Kompetisi itu melibatkan 10 juri yang merupakan president chef dari 10 negara. Ajang tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk menunjukkan kualitas produk, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk bertemu calon pembeli potensial dari pasar yang lebih luas.

Keberhasilan tersebut memperlihatkan peluang produk lokal untuk bersaing dalam industri halal apabila didukung peningkatan mutu, pendampingan usaha, serta pemenuhan standar yang dibutuhkan pasar.

Kepala Perwakilan BI Purwokerto, Aswin Gantina, mengatakan penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Penguatan industri halal, pemberdayaan pesantren, keuangan sosial syariah, serta pengembangan UMKM dan wastra lokal akan terus didorong agar semakin berdaya saing dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Banyumas Raya,” demikian arah penguatan yang disampaikan dalam siaran pers BI Purwokerto.

Sembilan UMKM atau Pelaku Usaha Syariah (PUS) binaan BI Purwokerto yang mengikuti ISEF membawa produk unggulan daerah, terutama kuliner halal dan batik. Partisipasi ini diharapkan mempertemukan pelaku usaha dengan mitra bisnis sekaligus memperluas pemasaran produk Banyumas Raya.

Penguatan ekonomi syariah yang dilakukan BI Purwokerto tidak hanya menyasar pelaku UMKM, tetapi juga pesantren. Program yang dijalankan meliputi pelatihan kewirausahaan, penguatan pelaporan keuangan melalui Sistem Informasi Pesantren Bank Indonesia (SIPUSBI), serta penerapan praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) untuk budidaya cabai.

Kemampuan digital santri dari lima pesantren di Banyumas Raya juga diperkuat. Upaya ini diharapkan membantu pesantren mengembangkan unit usaha dan menyesuaikan diri dengan perkembangan ekonomi digital.

Selain itu, digitalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) terus didorong melalui edukasi kepada pengurus masjid dan masyarakat. Pengelolaan dana sosial syariah yang lebih baik diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi produktif dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Penguatan literasi ekonomi syariah juga dilakukan melalui sejumlah kegiatan, antara lain Pasar Ramadan, Karya Kreatif Serayu (KKS), SELARAS x Festival Literasi 2026, serta program inovasi pemanfaatan zakat dan wakaf produktif.

Potensi ekonomi syariah Banyumas Raya turut diperkenalkan melalui sektor pariwisata. Desa Wisata Lembah Asri Serang (D’LAS) di Kabupaten Purbalingga dipromosikan sebagai salah satu destinasi wisata ramah muslim.

Pengembangan wisata tersebut berpeluang terhubung dengan produk kuliner halal, kerajinan, dan wastra lokal sehingga memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.

Di sektor fesyen, perkembangan industri busana muslim juga membuka kesempatan bagi perajin batik, desainer, dan pelaku industri kreatif untuk memperluas pasar. Wastra Serayu, sebagai salah satu potensi lokal Banyumas Raya, diharapkan semakin dikenal di tingkat nasional hingga internasional.

BI Purwokerto berkomitmen melanjutkan penguatan industri halal, pemberdayaan pesantren, pengembangan UMKM, serta pemanfaatan keuangan sosial syariah melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra strategis.

Berbagai upaya tersebut diharapkan membuat ekonomi syariah tidak berhenti pada kegiatan promosi, tetapi berkembang menjadi penggerak ekonomi daerah melalui perluasan peluang usaha, peningkatan daya saing produk, dan penguatan kesejahteraan masyarakat Banyumas Raya.

PURWOKERTO,iNewsPantura.id – Sembilan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto menembus panggung nasional melalui Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

Keikutsertaan tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha Banyumas Raya untuk memperluas jaringan bisnis dan mengenalkan produk unggulan daerah ke pasar yang lebih luas.

ISEF 2026 berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, pada 14–18 Oktober 2026. Dalam ajang tersebut, nilai business matching pembiayaan dan perdagangan syariah mencapai Rp3,16 triliun, sedangkan penjualan produk makanan halal dan fesyen tercatat sebesar Rp13,85 miliar.

Salah satu pencapaian yang menonjol datang dari Thulada Lumbung Rempah asal Kabupaten Banjarnegara. UMKM binaan BI Purwokerto melalui program Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA) tersebut berhasil meraih juara kedua Indonesia International Halal Chef Competition (IN2HCC) 2026 kategori Produk UMKM IKRA.

Kompetisi itu melibatkan 10 juri yang merupakan president chef dari 10 negara. Ajang tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk menunjukkan kualitas produk, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk bertemu calon pembeli potensial dari pasar yang lebih luas.

Keberhasilan tersebut memperlihatkan peluang produk lokal untuk bersaing dalam industri halal apabila didukung peningkatan mutu, pendampingan usaha, serta pemenuhan standar yang dibutuhkan pasar.

Kepala Perwakilan BI Purwokerto, Aswin Gantina, mengatakan penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Penguatan industri halal, pemberdayaan pesantren, keuangan sosial syariah, serta pengembangan UMKM dan wastra lokal akan terus didorong agar semakin berdaya saing dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Banyumas Raya,” demikian arah penguatan yang disampaikan dalam siaran pers BI Purwokerto.

Sembilan UMKM atau Pelaku Usaha Syariah (PUS) binaan BI Purwokerto yang mengikuti ISEF membawa produk unggulan daerah, terutama kuliner halal dan batik. Partisipasi ini diharapkan mempertemukan pelaku usaha dengan mitra bisnis sekaligus memperluas pemasaran produk Banyumas Raya.

Penguatan ekonomi syariah yang dilakukan BI Purwokerto tidak hanya menyasar pelaku UMKM, tetapi juga pesantren. Program yang dijalankan meliputi pelatihan kewirausahaan, penguatan pelaporan keuangan melalui Sistem Informasi Pesantren Bank Indonesia (SIPUSBI), serta penerapan praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) untuk budidaya cabai.

Kemampuan digital santri dari lima pesantren di Banyumas Raya juga diperkuat. Upaya ini diharapkan membantu pesantren mengembangkan unit usaha dan menyesuaikan diri dengan perkembangan ekonomi digital.

Selain itu, digitalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) terus didorong melalui edukasi kepada pengurus masjid dan masyarakat. Pengelolaan dana sosial syariah yang lebih baik diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi produktif dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Penguatan literasi ekonomi syariah juga dilakukan melalui sejumlah kegiatan, antara lain Pasar Ramadan, Karya Kreatif Serayu (KKS), SELARAS x Festival Literasi 2026, serta program inovasi pemanfaatan zakat dan wakaf produktif.

Potensi ekonomi syariah Banyumas Raya turut diperkenalkan melalui sektor pariwisata. Desa Wisata Lembah Asri Serang (D’LAS) di Kabupaten Purbalingga dipromosikan sebagai salah satu destinasi wisata ramah muslim.

Pengembangan wisata tersebut berpeluang terhubung dengan produk kuliner halal, kerajinan, dan wastra lokal sehingga memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.

Di sektor fesyen, perkembangan industri busana muslim juga membuka kesempatan bagi perajin batik, desainer, dan pelaku industri kreatif untuk memperluas pasar. Wastra Serayu, sebagai salah satu potensi lokal Banyumas Raya, diharapkan semakin dikenal di tingkat nasional hingga internasional.

BI Purwokerto berkomitmen melanjutkan penguatan industri halal, pemberdayaan pesantren, pengembangan UMKM, serta pemanfaatan keuangan sosial syariah melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra strategis.

Berbagai upaya tersebut diharapkan membuat ekonomi syariah tidak berhenti pada kegiatan promosi, tetapi berkembang menjadi penggerak ekonomi daerah melalui perluasan peluang usaha, peningkatan daya saing produk, dan penguatan kesejahteraan masyarakat Banyumas Raya.

Editor: Eddie Prayitno

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut