''Kami justru menggarisbawahi India dan Pakistan sebagai kawasan dengan jarang mengalami cuaca ekstrem. Dalam data hasil asesmen, penyimpangan temperatur akibat gelombang panas di India dan Pakistan tidak sampai tiga kali lebih tinggi dari standar deviasi gelombang panas secara global. Secara statistik, kejadian itu pun hanya terjadi sekali setiap 30 tahun atau lebih,'' tulis Conversations dalam jurnalnya.

Angka penyimpangan itu jauh lebih rendah dibandingkan gelombang panas terparah yang kami identifikasi di Asia Tenggara pada 1998. Angkanya mencapai lima kali lebih tinggi dari standar deviasi. Gelombang terpanas di India saat ini sudah menyentuh 50℃.
Namun, sejauh ini temperatur tersebut tidak merata, hanya terjadi di titik-titik tertentu. Kami memperkirakan India akan mengalami cuaca panas yang lebih ekstrem.
Ini berdasarkan asumsi gelombang panas ekstrem di India memiliki tren temperatur maksimum harian yang sama dengan daerah lainnya di dunia.

Tren ini menjadikan India dan Pakistan sebagai negara yang rentan karena belum memiliki banyak pengalaman adaptasi dengan cuaca panas.
Pertanian dan kesehatan
Meski belum mencetak rekor tertinggi, gelombang panas di India dan Pakistan tetap saja tak biasa. Banyak daerah-daerah di India yang merasakan bulan April terpanas sepanjang sejarah. Kondisi tersebut berdampak pada hasil panen sehingga mempengaruhi kelangsungan hidup penduduk.

Diketahui, sebagian warga India dan Pakistan mengandalkan produk pertanian sebagai sumber pendapatan ataupun pangan harian. Gelombang panas di daerah ini biasanya diikuti dengan angin monsun dingin. Namun tahun ini, monsun masih akan tiba beberapa bulan ke depan.
Editor : Hadi Widodo












