GUNUNGKIDUL, iNewsPantura.id – Tak ada yang tersisa di bekas bangunan Masjid Al Huda, Padukuhan Gari, Kalurahan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Di lokasi yang selama bertahun-tahun menjadi pusat ibadah dan kebersamaan warga itu, kini hanya ada material batu dan tanah.
Masjid tersebut telah dibongkar setelah janji bantuan donatur diyakini akan mengantarkan warga pada rumah ibadah yang lebih layak.
Harapan itu tumbuh pada akhir 2025. Semangat warga untuk membangun masjid baru menguat, hingga sebuah keyakinan disampaikan oleh seorang oknum yang mengaku mampu menghadirkan donatur besar.
Peluang bantuan disebut hampir pasti, bahkan diklaim mencapai 99 persen, dengan satu syarat utama: bangunan masjid lama harus dibongkar secara total. Keyakinan itu perlahan dipercaya.
Musyawarah antar pengurus masjid digelar, keputusan besar pun diambil. Masjid lama yang sarat kenangan akhirnya dikorbankan demi harapan akan bangunan baru yang lebih representatif. Saat alat-alat mulai merobohkan tembok dan atap, optimisme masih tersimpan di benak warga.
Namun waktu berjalan tanpa kepastian. Kejanggalan mulai dirasakan ketika panitia pembangunan diminta menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) dengan nilai sekitar Rp1,825 miliar. Di balik proses tersebut, fakta mengejutkan perlahan terungkap.
Nama sebuah yayasan serta salah satu anggota Polda diduga telah dicatut sebagai calon donatur pembangunan Masjid Al Huda.
Konfirmasi pun dilakukan. Jawaban yang diterima justru mematahkan harapan. Pihak yayasan menegaskan tidak pernah menyetujui proposal pembangunan masjid tersebut.
Sementara itu, anggota Polda yang disebut-sebut sebagai donatur juga mengaku tidak mengetahui adanya penggunaan namanya.
Kenyataan pahit harus diterima. Masjid telah runtuh, sementara janji bantuan tak pernah datang. Penyesalan pun tak terelakkan. Namun, di tengah kekecewaan itu, semangat warga Gari tidak sepenuhnya padam.
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al Huda Gari, Budi Antoro, menceritakan pengalamannya dengan nada haru. “Kami didatangi oleh salah satu warga kami juga, bertemu dengan salah satu takmir masjid menyampaikan bahwa akan memberikan donasi untuk pembangunan masjid kami, "ujarnya.
Budi Antoro juga menerangkan, karena warga juga berdomisili masih di satu desa, warga percaya dan menuruti omongannya dengan membongkar seluruh bangunan masjid, " Beliau meyakinkan karena bilang sudah ada donatur yang siap memberikan donasi awal lebih dari 300 juta,Namun sampai saat ini juga tidak ada realisasinya " Ungkapnya
Budi menambahkan, semangat warga tak boleh padam meski rasa kecewa begitu besar. “Meski masjid lama sudah rata tanah, kami bertekad tetap membangun kembali dengan swadaya warga. Gotong royong menjadi kunci agar masjid ini bisa berdiri lagi,” katanya.
Gotong royong kembali digerakkan. Dengan kemampuan yang ada, warga dan panitia sepakat melanjutkan pembangunan Masjid Al Huda Gari secara swadaya. Untuk mendukung kelanjutan pembangunan, panitia secara resmi membuka donasi melalui rekening BRI nomor 6987 0102 941 053 5 atas nama Masjid Al Huda.
Selain itu, layanan informasi dan konfirmasi donasi juga dibuka melalui nomor 0895-3974-20099 atas nama Budi Antoro. Uluran tangan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan kebersamaan warga.
Di tengah keterbatasan tersebut, secercah harapan akhirnya muncul. Sebuah yayasan memberikan bantuan donasi untuk mendukung pembangunan.
Meski belum mampu menutup seluruh kebutuhan anggaran, bantuan itu menjadi penguat langkah warga untuk kembali menegakkan rumah ibadah mereka.
Masjid Al Huda mungkin telah runtuh, tetapi harapan warga Gari untuk kembali memiliki tempat bersujud tetap dijaga dan diperjuangkan.
Editor : Suryo Sukarno
Artikel Terkait
