KENDAL,iNewsPantura.id – Tradisi Syawalan di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, mulai menunjukkan geliatnya. Sejumlah pedagang kaki lima hingga arena permainan anak-anak tampak mulai berdatangan dan menempati area sekitar Alun-Alun Kaliwungu serta Masjid Besar Al Mutaqqin Kaliwungu.
Kehadiran mereka menjadi penanda awal dimulainya rangkaian tradisi tahunan yang selalu dinanti masyarakat, khususnya setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Rencananya, pembukaan resmi Syawalan Kaliwungu akan digelar pada 26 Maret 2026, diawali dengan peringatan haul ulama Kaliwungu yang dipusatkan di Komplek Pemakaman Jabal, Desa Protomulyo, Kaliwungu Selatan. Kegiatan tersebut menjadi inti dari seluruh rangkaian tradisi Syawalan yang sarat nilai religius.
Selanjutnya, rangkaian acara akan dilanjutkan dengan pengajian serta khataman Al-Qur’an yang digelar di Masjid Besar Al Mutaqqin Kaliwungu, yang selama ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat.
Ketua Syawalan Festival 2026, Al Badrun Munir Wibowo, menjelaskan bahwa rangkaian hiburan untuk masyarakat akan berlangsung mulai 29 Maret hingga 5 April 2026. Berbagai pertunjukan seni dan budaya akan ditampilkan, termasuk kehadiran bintang tamu religi, Haddad Alwi.
“Untuk hiburan yang diselenggarakan mulai tanggal 29 Maret 2026 hingga 5 April 2026. Ada beberapa penampilan dari kesenian, budaya hingga bintang tamu yang akan hadir yakni Haddad Alwi,” ujarnya.
Pusat keramaian festival akan difokuskan di sekitar alun-alun dan sepanjang jalan di sekitar masjid. Para pedagang akan ditata rapi di sepanjang jalur tersebut, sementara wahana permainan anak ditempatkan di bagian depan, area parkir, serta shelter pedagang di sisi selatan alun-alun.
Panitia juga telah menyiapkan sistem akses masuk dengan pintu utama guna mengantisipasi kepadatan pengunjung. Dengan penataan tersebut, diharapkan masyarakat dapat menikmati seluruh fasilitas festival dengan nyaman.
“Ada pintu utama yang dibuat sehingga nanti pengunjung tidak berdesakan dan bisa menikmati seluruh fasilitas yang ada di Festival Syawalan Kaliwungu ini. Permainan anak-anak diletakkan di depan untuk menarik perhatian warga,” imbuhnya.
Sementara itu, tokoh agama dan masyarakat Kaliwungu, Asroi Tohir, menegaskan bahwa esensi utama Syawalan bukanlah keramaian pasar maupun hiburan semata, melainkan peringatan haul waliyullah, yakni KH Asy’ari atau yang dikenal sebagai Kyai Guru.
“Jadi Syawalan itu bukan pedagang dan hiburan malam, tetapi hakekatnya adalah haul Kyai Guru. Saat haul tersebut banyak warga yang datang, dan keramaian itu kemudian membawa rezeki bagi masyarakat. Dari situlah pedagang mulai berjualan, termasuk hiburan untuk anak-anak yang biasanya ikut bersama para peziarah,” jelasnya.
Tradisi Syawalan Kaliwungu sendiri telah menjadi warisan budaya yang memadukan nilai religius dan sosial ekonomi masyarakat. Selain sebagai momentum spiritual, kegiatan ini juga menjadi penggerak roda perekonomian warga setempat setiap tahunnya.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
