KUDUS, iNewsPantura.id - “Kuasa bisa memabukkan, sementara korban kerap dilupakan.” Gagasan itulah yang coba dihadirkan kembali lewat panggung teater oleh Studiklub Teater Bandung (STB) melalui pementasan bertajuk Doea Tjerita dari Tanah Djawa.
Kelompok teater modern tertua di Indonesia itu akan menyapa publik Kudus melalui pertunjukan dua monolog, yakni Julungwangi dan Amangkurat, yang mengangkat persoalan kuasa, moral, hingga pergulatan batin manusia dalam menghadapi sejarah.
Pementasan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Keanekaragaman Budaya Sedunia yang diperingati setiap 21 Mei, sejalan dengan ajakan UNESCO untuk memperkuat dialog antarbudaya demi menjaga perdamaian dunia.
Di Kudus, pertunjukan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 19.30 WIB di Sanggar Teater, Jalan Ahmad Yani No. 41 Kudus. Selain pementasan, STB juga akan menggelar Workshop Pemeranan bagi pelajar SMA di Kudus pada Minggu, 24 Mei 2026 pukul 09.00–11.00 WIB dengan jumlah peserta terbatas.
Pementasan ini disutradarai sekaligus diadaptasi oleh IGN. Arya Sanjaya, sosok yang telah lama berkecimpung di dunia seni peran. Arya merupakan alumnus Acting Course Angkatan V STB yang dikenal melalui berbagai produksi teater, baik sebagai aktor maupun sutradara.
Kariernya dimulai dari sejumlah lakon seperti King Lear dan Pengadilan Anak Angkat. Sejak meyutradarai lakon Sang Kuriang pada 2004, Arya aktif menggarap berbagai repertoar nasional maupun internasional. Ia juga dikenal melalui kelompok Actors Unlimited yang didirikannya.
Dalam pertunjukan ini, Arya menghadirkan dua cerita dengan pendekatan artistik yang berbeda, namun sama-sama menyoroti wajah kekuasaan dari sudut pandang yang bertolak belakang. Menariknya, kedua lakon dipentaskan dengan nuansa visual Jawa, meski salah satunya berasal dari tragedi Yunani klasik.
Julungwangi, yang dimainkan Ria Ellysa Mifelsa, merupakan adaptasi dari Antigone karya Sophocles. Lakon ini berkisah tentang seorang putri yang mempertanyakan perlakuan berbeda terhadap dua jenazah kakaknya. Satu dimuliakan sebagai pahlawan, sementara yang lain dibiarkan tanpa penghormatan karena dianggap pemberontak. Dari situ, pertunjukan menggugat batas antara hukum negara dan nilai kemanusiaan.
Sementara itu, Amangkurat yang dimainkan Indrasitas diadaptasi dari karya Goenawan Mohamad. Monolog ini menampilkan sosok raja Mataram yang berada di pengasingan dan mulai digerogoti sakit. Dalam suasana sunyi, ia mencoba membenarkan keputusan-keputusan politik serta tindakan keras yang pernah dilakukan demi mempertahankan kekuasaan.
Secara artistik, kedua pertunjukan dirancang dengan pendekatan berbeda. Julungwangi memanfaatkan elemen daun dan ranting kering untuk membangun suasana dramatik, sedangkan Amangkurat tampil minimalis dengan panggung nyaris kosong yang mempertegas kesunyian dan kegelisahan tokohnya.
Di wilayah artistic ada nama Diana G. Leksanawati sebagai pimpinan produksi, Aji Sangiaji tata cahaya dan multimedia, serta Deden Syarif dan Kemal Ferdiansyah ditata panggung. Tata busana digarap Yati Sa, sementara unsur musikal ditangani Sugiyati Sa dan Muhammad Rakha.
Pementasan ini sekaligus menandai perjalanan panjang STB yang pada 2026 genap berusia 68 tahun. Berdiri sejak 1958 dari komunitas mahasiswa seni rupa ITB, STB hingga kini tetap aktif berkarya dan menjadi salah satu kelompok teater yang masih konsisten di Indonesia.
Regenerasi yang terus berjalan membuat kelompok ini mampu bertahan lintas generasi. Di tengah perubahan zaman dan tantangan dunia kesenian, STB tetap menjaga tradisi teater sebagai ruang refleksi sosial sekaligus pembacaan ulang terhadap manusia dan kekuasaan.
Bagi penikmat seni pertunjukan di Kudus, Doea Tjerita dari Tanah Djawa semoga menawarkan lebih dari sekadar tontonan dan memberi ruang perenungan tentang sejarah, moral, dan sisi rapuh manusia ketika berhadapan dengan kuasa. Mari, sama-sama belajar dari pentas ini.
Editor : Eddie Prayitno
