PEKALONGAN, iNewsPantura.id – Di usia yang kini menginjak delapan bulan, Arsa Bama Devananta harus menjalani perjuangan yang tidak mudah. Bayi asal Desa Kauman, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan ini lahir dengan kondisi bibir sumbing disertai sumbing langit-langit mulut yang belum terbentuk sempurna.
Arsa lahir pada 30 September 2025 di RSUD Kraton dan merupakan putra pasangan Kusbanu (41) dan Mafiroh (30). Ayahnya bekerja sebagai nelayan, sementara sang ibu sehari-hari mengurus rumah tangga.
Sejak lahir, Arsa membutuhkan perhatian dan penanganan khusus. Selain memengaruhi kondisi fisik, kelainan yang dialaminya juga berdampak pada proses makan dan tumbuh kembang. Hingga saat ini Arsa masih menyusu menggunakan selang dan membutuhkan susu nutrisi khusus agar berat badannya dapat meningkat.
Ibunda Arsa, Mafiroh, mengatakan kondisi putranya menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga. Keterbatasan ekonomi membuat kebutuhan perawatan dan pemenuhan susu khusus menjadi cukup berat.
"Kami berharap anak kami bisa segera mendapatkan bantuan dan penanganan yang dibutuhkan. Semoga ada jalan agar Arsa bisa sehat dan tumbuh seperti anak-anak lainnya," ujar Mafiroh.
Berdasarkan hasil pemantauan dan pendataan yang dilakukan Dinas Sosial, Arsa sebelumnya sempat mendapatkan bantuan susu nutrisi dari RSUD Kraton untuk membantu mengejar tumbuh kembang dan meningkatkan berat badan. Namun bantuan tersebut diketahui berhenti sejak Januari 2026.
Sejak tidak lagi memperoleh bantuan susu, berat badan Arsa disebut tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan bahkan cenderung menurun. Padahal, kenaikan berat badan menjadi salah satu syarat penting sebelum tindakan operasi dapat dilakukan.
Meski demikian, sejumlah bantuan telah mulai diberikan oleh berbagai pihak. Pemerintah Desa Kauman dan Polsek Wiradesa diketahui telah menyalurkan bantuan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi Arsa dan keluarganya.
Ketua Tim Penggerak PKK Desa Kauman, Umul Khasanah, mengatakan pihaknya turut memberikan perhatian terhadap kondisi Arsa dan terus berupaya membantu melalui koordinasi dengan berbagai pihak.
"Kami berharap berbagai pihak bisa ikut membantu dan memberikan perhatian. Semoga Arsa segera memperoleh penanganan yang dibutuhkan sehingga proses tumbuh kembangnya dapat berjalan lebih baik," ujarnya.
Sementara itu, Pendamping Sosial atau TKSK, Sumiyati, menjelaskan sejumlah upaya bantuan dan pendampingan telah dilakukan.
Menurutnya, bantuan telah diusulkan melalui berbagai jalur, mulai dari pengajuan bantuan Pemenuhan Hidup Layak melalui Dinas Sosial Kabupaten Pekalongan ke Kementerian Sosial, pengusulan bantuan ke Baznas Kabupaten Pekalongan, aktivasi PBI JKN-KIS, hingga mengajak berbagai pihak ikut membantu.
"Kami terus melakukan pendampingan dan mengupayakan agar bantuan yang dibutuhkan anak segera dapat direalisasikan," katanya.
Ia menambahkan, biaya operasi untuk Arsa disebut dapat ditanggung pemerintah atau gratis. Namun keluarga masih membutuhkan dukungan untuk kebutuhan lain, seperti biaya transportasi menuju lokasi operasi, biaya selama menunggu proses penanganan medis, serta kebutuhan hidup penunjang lainnya.
Selain itu, kebutuhan mendesak yang saat ini masih diperlukan adalah susu nutrisi khusus untuk membantu meningkatkan berat badan Arsa agar dapat memenuhi syarat tindakan operasi.
Keluarga berharap dukungan dari masyarakat dan para dermawan dapat membantu meringankan beban yang dihadapi serta membuka harapan baru bagi masa depan Arsa.
Editor : Suryo Sukarno
Artikel Terkait
