KENDAL,iNewsPantura.id – Kaliwungu yang dikenal sebagai kota santri ternyata menyimpan banyak manuskrip kuno peninggalan para kyai dan ulama terdahulu. Naskah-naskah berusia ratusan tahun tersebut kini mulai didata dan diidentifikasi untuk menjaga warisan intelektual Islam di Kabupaten Kendal.
Pendataan dilakukan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kendal bersama komunitas pecinta manuskrip di Kaliwungu. Sejumlah kitab kuno dikeluarkan dari tempat penyimpanan sederhana milik pewaris untuk diteliti satu per satu.
Dengan menggunakan sarung tangan dan masker, petugas memeriksa lembar demi lembar manuskrip, mulai dari isi tulisan, jenis tinta, hingga bahan kertas yang digunakan. Sebagian manuskrip masih terlihat utuh dan tulisan tangan beraksara Arab pegon masih dapat terbaca dengan jelas.
Namun, tidak sedikit pula naskah yang mulai rusak dimakan usia karena kurangnya perawatan.
Salah seorang pecinta manuskrip sekaligus pewaris naskah kuno, Tubagus Bakri mengatakan, manuskrip peninggalan ulama tersebut memiliki nilai sejarah dan ilmu pengetahuan yang sangat tinggi.
“Manuskrip ini bukan hanya peninggalan keluarga, tetapi juga warisan ilmu dari para ulama terdahulu yang harus dijaga,” ujarnya.
Menurutnya, isi manuskrip memuat berbagai bidang keilmuan, tidak hanya ilmu agama, tetapi juga sastra dan pengetahuan sosial masyarakat pada masa lalu.
Tubagus juga mengungkapkan, banyak manuskrip kuno dari Kaliwungu yang kini berada di luar negeri, terutama di Belanda. Naskah-naskah itu diduga dibawa pada masa penjajahan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kendal, Nur Nudzrohayati menjelaskan, pihaknya mulai melakukan pendataan manuskrip kuno sejak tahun 2024.
Selain pendataan, digitalisasi manuskrip juga mulai dilakukan pada 2025 untuk menyelamatkan isi naskah agar tetap dapat dipelajari generasi mendatang.
“Hingga saat ini sudah ada 38 naskah kuno yang berhasil diidentifikasi dan didigitalisasi,” jelasnya.
Dalam proses identifikasi tersebut, tim menemukan manuskrip berisi tulisan tangan ulama Kaliwungu terkait syair lagu Yalal Wathon. Menariknya, tulisan tangan Kyai Jaesan itu memiliki perbedaan dengan lirik yang selama ini dikenal masyarakat.
Ke depan, hasil pendataan manuskrip kuno tersebut akan disusun dalam bentuk katalog agar masyarakat luas lebih mengenal warisan intelektual ulama Kaliwungu yang selama ini tersimpan rapi di balik tradisi pesantren.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
