KENDAL,iNewsPantura.id – Teror kebakaran yang menimpa MTs NU 27 Unggulan Jatipurwo, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, ternyata bukan kali pertama terjadi. Lima hari sebelum aula sekolah terbakar pada Selasa (14/7/2026), pelaku diduga lebih dulu mencoba membakar salah satu ruang kelas menggunakan bahan bakar minyak jenis Pertalite.
Kepala MTs NU 27 Unggulan Jatipurwo, Falil Ulil Hidayah, mengungkapkan peristiwa pertama terjadi pada Kamis (9/7/2026), saat sekolah masih memasuki masa libur.
Saat itu sekitar pukul 08.00 WIB, ia datang ke sekolah untuk menyelesaikan pekerjaan di ruang komputer yang berada di lantai dua. Namun di depan ruang kelas IX A, ia dikejutkan dengan temuan sebuah galon air mineral berisi cairan berwarna hijau.
Awalnya, Falil mengira galon tersebut hanyalah benda yang ditinggalkan anak-anak. Namun kecurigaannya muncul setelah melihat sebuah korek api gas tergeletak di bangku depan kelas.
"Saya mau mengerjakan tugas di ruang komputer. Saat naik ke lantai dua saya melihat ada galon berisi cairan hijau. Setelah saya cek, baunya seperti Pertalite. Di dekatnya juga ada korek api gas," ujarnya.
Rasa penasaran membuat Falil memeriksa kondisi ruang kelas. Di dalam ruangan, ia menemukan bekas kobaran api yang membakar tumpukan buku pembelajaran.
Ia kemudian memanggil guru lain untuk memastikan kondisi ruangan. Saat dilakukan pengecekan bersama, ternyata masih terdapat bara api yang belum sepenuhnya padam sehingga segera dipadamkan sebelum merembet lebih luas.
"Yang terbakar sebagian buku paket modul pembelajaran dan pojok baca di kelas. Untung cepat diketahui sehingga api tidak membesar," katanya.
Menurut Falil, kejadian tersebut kini diduga berkaitan dengan kebakaran yang kembali terjadi pada Selasa dini hari, saat ruang aula sekolah dilalap api hingga menghanguskan berbagai fasilitas.
Meski dua kali mengalami peristiwa kebakaran dalam waktu kurang dari sepekan, pihak sekolah mengaku tidak memiliki konflik dengan pihak mana pun.
"Tidak ada masalah sama sekali, baik dengan orang tua siswa maupun dengan siswa. Seluruh siswa juga naik kelas dan lulus semua," tegasnya.
Akibat kebakaran yang merusak fasilitas sekolah, kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp75 juta. Demi menjaga keamanan dan memberikan kesempatan kepada aparat melakukan penyelidikan, pihak sekolah memutuskan meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar.
"Sekolah kami liburkan dulu sampai proses penyelidikan dari kepolisian selesai," ujar Falil.
Kapolsek Rowosari, Iptu Akhmad Djoko Puji Laksono, mengatakan polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa sejumlah saksi, baik dari pihak sekolah maupun warga sekitar.
"Kami sudah mendatangi lokasi dan memeriksa saksi-saksi. Saat ini penyebab kebakaran masih kami selidiki dan seluruh keterangan masih kami dalami," katanya.
Menurut Kapolsek, polisi memang telah menerima laporan kebakaran di sekolah yang sama pada 9 Juli 2026. Penyidik kini mendalami kemungkinan adanya hubungan antara insiden pertama dengan kebakaran aula yang terjadi lima hari kemudian.
"Dalam dua kejadian itu ditemukan dugaan adanya penggunaan Pertalite. Apakah kedua peristiwa ini saling berkaitan, masih kami lakukan pendalaman," jelasnya.
Hingga kini, penyidik masih mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi untuk mengungkap pelaku serta motif di balik rangkaian kebakaran yang meresahkan lingkungan pendidikan tersebut.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
