KUDUS, iNewsPantura.id – Pemerintah Kabupaten Kudus kembali menggulirkan Program Pertukaran Pelajar Lokal jenjang SD dan SMP. Namun, pelaksanaan Batch 2 tahun ini bukan sekadar melanjutkan program sebelumnya. Sejumlah penyempurnaan dilakukan setelah pemerintah mengevaluasi pelaksanaan Batch 1, yang mendapat tingkat kepuasan tinggi dari siswa, guru, dan orang tua.
Program yang menjadi arahan Bupati Kudus Sam'ani Intakoris dan dilaksanakan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kudus itu resmi dimulai melalui pelepasan peserta di SMP Negeri 2 Jati, Senin (20/7/2026), dan akan berlangsung hingga 8 Agustus 2026.
Berbeda dengan pelaksanaan perdana pada Januari lalu yang hanya berlangsung selama satu pekan dan melibatkan siswa, Batch 2 diperpanjang menjadi dua pekan serta untuk pertama kalinya melibatkan guru dalam program pertukaran mengajar antarsekolah.
Perubahan tersebut merupakan tindak lanjut dari Kajian Evaluasi Program Pertukaran Pelajar Lokal Batch 1 Tahun 2026 yang disusun Disdikpora Kudus. Kajian yang melibatkan 343 responden, terdiri atas 151 siswa, 122 orang tua, dan 70 guru, menunjukkan program memperoleh indeks kepuasan sebesar 90,4 persen atau rata-rata 3,62 dari skala 4.
Tingkat kepuasan guru mencapai 91,6 persen, siswa 90,6 persen, dan orang tua 89,4 persen. Dukungan terhadap keberlanjutan program juga sangat tinggi. Sebanyak 100 persen orang tua, 98,6 persen guru, dan 96 persen siswa menyatakan program layak diteruskan.
Bupati Kudus Sam'ani Intakoris mengatakan salah satu perubahan yang dilakukan tahun ini adalah memperpanjang durasi pelaksanaan berdasarkan masukan dari guru dan wali murid.
"Yang kemarin satu minggu. Bapak ibu guru maupun wali murid minta kalau bisa lebih dari satu minggu. Mintanya satu bulan, tapi kita coba dua minggu dulu melihat efektivitasnya," katanya.
Selain itu, pemerintah juga memasukkan unsur pertukaran guru sebagai bagian dari pengembangan program.
Menurut Sam'ani, guru dan kepala sekolah yang mengikuti kegiatan diwajibkan membuat buku harian berisi pengalaman selama berada di sekolah tujuan. Catatan tersebut akan menjadi bahan evaluasi sekaligus referensi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah asal.
"Guru maupun kepala sekolah membuat buku harian pengalaman-pengalaman. Apa yang perlu dilakukan intervensi untuk sekolah yang diampu sekarang agar bisa mengejar sekolah-sekolah yang bagus. Ini menjadi indikator untuk kita pelajari dan dilakukan perbaikan-perbaikan," ujarnya.
Kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widada mengatakan Batch 2 diikuti 290 murid, terdiri atas 210 murid SMP dari 33 sekolah negeri dan swasta serta 80 murid SD dari 20 sekolah negeri dan swasta. Selain itu, sebanyak 62 guru dari 31 SMP negeri dan swasta juga mengikuti pertukaran mengajar.
"Kemarin gurunya belum ada. Sekarang guru ikut, kemudian yang sebelumnya satu minggu sekarang menjadi setengah bulan atau dua minggu," jelas Harjuna.
Selama dua pekan, peserta didik akan mengikuti kegiatan belajar mengajar secara penuh di sekolah tujuan, berinteraksi dengan teman-teman baru, serta mengikuti berbagai aktivitas bersama. Sementara para guru bertukar pengalaman mengajar, metode pembelajaran, dan praktik baik yang diharapkan dapat diterapkan di sekolah masing-masing.
Harjuna berharap program tersebut terus berlanjut sebagai salah satu inovasi pendidikan di Kabupaten Kudus.
"Harapannya kegiatan ini berjalan dengan baik dan dapat diteruskan pada tahun berikutnya. Anak-anak bisa saling mengisi, menambah pengalaman, dan mengenal teman-teman dari sekolah lain," pungkasnya.
Selain menjadi dasar pelaksanaan Batch 2, kajian evaluasi tersebut juga memuat sejumlah rekomendasi untuk penyempurnaan program. Seluruh rekomendasi yang disampaikan berfokus pada aspek teknis penyelenggaraan, antara lain penyediaan transportasi peserta, penambahan durasi kegiatan, penguatan koordinasi antar sekolah, perluasan cakupan peserta, dokumentasi program, hingga pemberian sertifikat kepada peserta.
Di sisi lain, hasil evaluasi juga memperlihatkan temuan yang menarik. Indikator dengan nilai tertinggi justru berada pada aspek sosial. Siswa memberikan penilaian tertinggi pada indikator mendapatkan teman baru dengan skor 3,81, disusul kemampuan menghargai perbedaan, bekerja sama, dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Guru juga memberikan penilaian tinggi terhadap penguatan karakter dan pengalaman belajar peserta didik.
Namun, pembahasan dalam dokumen lebih banyak diarahkan pada rekomendasi teknis pelaksanaan program. Kajian belum menguraikan lebih lanjut faktor-faktor yang menyebabkan indikator-indikator sosial tersebut memperoleh penilaian paling tinggi dari para responden.
Padahal, penjelasan mengenai faktor keberhasilan sebuah program menjadi bagian penting dalam proses evaluasi kebijakan. Dengan mengetahui aspek apa yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan program, pemerintah dapat menyusun pengembangan program secara lebih terarah sekaligus menjadikannya sebagai model peningkatan mutu pendidikan di masa mendatang.
Meski demikian, hasil evaluasi Batch 1 telah menjadi pijakan penting bagi Pemerintah Kabupaten Kudus dalam menyempurnakan pelaksanaan Batch 2. Penambahan durasi kegiatan dan keterlibatan guru menunjukkan bahwa rekomendasi hasil evaluasi mulai diterjemahkan ke dalam kebijakan, sementara ruang pendalaman analisis masih terbuka untuk memperkaya evaluasi pada pelaksanaan berikutnya.
Editor : Suryo Sukarno
Artikel Terkait
