Ngesti Pandowo Jadi Ikon Wisata Budaya Semarang, Pentas Rutin Digelar di TBRS

Dimas Yuli
Walikota Semarang mengenakan pakaian wayang wong dalam acara HUT ke 89 wayang orang ngesti paandowo. dokumen

SEMARANG,iNewsPantura.idPemerintah Kota Semarang menyiapkan Wayang Orang Ngesti Pandowo sebagai ikon wisata budaya yang akan menjadi wajah baru pariwisata Kota Semarang. Melalui penyelenggaraan pertunjukan rutin di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), kesenian legendaris yang telah bertahan selama hampir sembilan dekade itu diharapkan mampu menarik wisatawan sekaligus memperkuat identitas budaya kota.

Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo di TBRS.

Menurut Agustina, setiap daerah wisata harus memiliki karakter dan daya tarik yang membedakannya dari daerah lain. Bagi Semarang, Wayang Orang Ngesti Pandowo dinilai memiliki nilai historis, budaya, dan sosial yang kuat untuk dikembangkan sebagai atraksi unggulan.

“Kalau melihat beberapa pusat pariwisata dunia, tentu harus ada sesuatu yang berbeda dari tiap destinasi. Kota Semarang punya wayang orang dan masyarakatnya gemar nonton wayang, maka sudah cocok kita akan membuat pertunjukan berkala,” ujarnya.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali TBRS sebagai pusat kegiatan seni dan budaya. Pemerintah Kota Semarang menargetkan kawasan itu menjadi ruang ekspresi para seniman sekaligus destinasi wisata budaya yang aktif sepanjang tahun.

Agustina menilai, pertunjukan rutin Wayang Orang Ngesti Pandowo tidak hanya akan memperluas akses masyarakat terhadap seni tradisi, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya Jawa kepada generasi muda yang tumbuh di tengah era digital.

Perayaan HUT ke-89 Ngesti Pandowo berlangsung meriah selama tiga hari dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat. Selain pementasan wayang orang, rangkaian acara juga diisi bursa sanggar seni, pentas budaya, workshop tari, bazar UMKM, hingga pameran arsip, foto, dan video perjalanan panjang Ngesti Pandowo.

Di tengah perayaan tersebut, Pemerintah Kota Semarang menyerahkan bantuan seperangkat busana wayang orang lengkap kepada Ngesti Pandowo. Bantuan diterima langsung Ketua Ngesti Pandowo, Joko Purnomo.

Bantuan itu tidak hanya ditujukan untuk mendukung kebutuhan pementasan, tetapi juga menjadi bagian dari pelestarian sejarah kelompok kesenian yang didirikan para maestro seni tradisi Jawa tersebut.

“Baju yang sangat tua nantinya masuk ke museum supaya menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya,” kata Agustina.

Selain menyerahkan bantuan kostum, Pemerintah Kota Semarang juga memberikan penghargaan kepada keluarga para pendiri Ngesti Pandowo, yakni keturunan Ki Sastrosabdo, Ki Narto Sabdo, Ki Darso Sabdo, Ki Kusni, dan Ki Sastro Soedirdjo. Penghormatan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas jasa mereka menjaga eksistensi wayang orang hingga tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Dukungan pemerintah terhadap Ngesti Pandowo juga diwujudkan melalui renovasi gedung pertunjukan dan pembenahan berbagai fasilitas di kawasan TBRS. Berbagai program pendampingan bagi para pelaku seni juga disiapkan, mulai dari layanan kesehatan hingga perhatian terhadap pendidikan anak-anak seniman.

Menurut Agustina, pengembangan Ngesti Pandowo merupakan bagian dari rencana besar membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan di Kota Semarang. Ke depan, TBRS tidak hanya menjadi rumah bagi wayang orang, tetapi juga berbagai kegiatan seni lain seperti macapat, geguritan, pameran budaya, hingga festival seni yang masuk dalam kalender event tahunan kota.

Melalui penguatan sektor budaya tersebut, Pemerintah Kota Semarang berharap pelestarian seni tradisi dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi warisan yang dijaga, tetapi juga sumber daya yang mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Memasuki usia ke-89 tahun, Wayang Orang Ngesti Pandowo kini tidak hanya dipandang sebagai kelompok seni pertunjukan, melainkan simbol ketahanan budaya yang terus hidup di tengah modernisasi. Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, kesenian legendaris itu diharapkan tetap menjadi kebanggaan warga Semarang sekaligus daya tarik budaya yang dikenal luas hingga tingkat nasional.

 

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network