SMK Go Global Dimulai di Cilacap, 60 Peserta Disiapkan Jadi Caregiver ke Luar Negeri

Joe Hartoyo
Kick Off SMK Go Global di Aula UPTD BLK Disnakerin Kabupaten Cilacap. (Foto: Istimewa).

CILACAP,iNewsPantura.id – Sebanyak 60 calon pekerja migran Indonesia (CPMI) mengikuti pelatihan teknis dan sertifikasi caregiver melalui program SMK Go Global di Kabupaten Cilacap. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menyiapkan tenaga kerja muda yang memiliki kompetensi dan mampu bersaing di pasar kerja internasional.

Kick Off SMK Go Global digelar di Aula UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian (Disnakerin) Kabupaten Cilacap. Kegiatan tersebut diikuti peserta pelatihan peningkatan kapasitas CPMI.

Kegiatan dihadiri Kepala BP3MI Jawa Tengah Dewi Ariani, Kepala Disnakerin Cilacap Farid Rijanto, Kepala BLK Cilacap Wagino, perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika Cilacap, jajaran Bank Jateng, serta perwakilan sejumlah P3MI yang beroperasi di Cilacap.

Kick Off SMK Go Global juga berlangsung serentak di sejumlah daerah di Indonesia melalui konferensi video. Para peserta di Cilacap mengikuti kegiatan tersebut sekaligus menyimak arahan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Muhtarudin.

Dalam arahannya, Muhtarudin menekankan pentingnya peningkatan kompetensi bagi CPMI agar mampu memenuhi standar dunia kerja internasional. Program SMK Go Global tidak hanya ditujukan untuk memberikan pelatihan dan sertifikasi, tetapi juga membangun ekosistem vokasi yang menghubungkan tenaga kerja terampil dengan peluang kerja di luar negeri.

Program tersebut merupakan bagian dari direktif Presiden untuk menyiapkan 500.000 tenaga kerja, yang terdiri atas 300.000 CPMI lulusan SMK dan 200.000 CPMI umum.

Para tenaga kerja tersebut diproyeksikan mengisi sejumlah sektor yang memiliki kebutuhan tinggi di pasar internasional, seperti caregiver, welder, hospitality, nurse, truck driver, manufaktur, transportasi, pertanian, konstruksi hingga sektor kelautan.

Sejumlah negara juga menjadi sasaran penempatan, antara lain Jepang, Korea Selatan, Jerman, Australia, Malaysia, Singapura, negara-negara Eropa, Turki dan Taiwan.

Penempatan akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja masing-masing negara serta perkembangan kondisi geopolitik global.

Kepala BP3MI Jawa Tengah Dewi Ariani mengatakan pelatihan yang diberikan kepada CPMI harus benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan, bukan sekadar mengejar sertifikat.

Menurutnya, pelatihan caregiver di Cilacap menjadi tahapan penting untuk membangun kompetensi sebelum peserta mengikuti proses penempatan sebagai PMI.

“Pelatihan ini harus benar-benar dimanfaatkan oleh peserta untuk meningkatkan kompetensi. Jangan hanya mengikuti pelatihan untuk mendapatkan sertifikat, tetapi harus mampu menguasai keterampilan yang diberikan sehingga ketika ada peluang kerja di negara penempatan, peserta sudah siap dan mampu bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain,” ujar Dewi.

Dia juga mengingatkan peserta agar menempuh seluruh proses keberangkatan melalui jalur resmi. Selain meningkatkan daya saing, kompetensi dan pemahaman prosedur penempatan dinilai menjadi bagian penting dalam memberikan perlindungan kepada PMI.

“Anak-anak muda kita memiliki potensi yang besar. Tugas kita adalah membuka akses dan memberikan pembekalan yang tepat agar mereka dapat mengambil peluang kerja global,” katanya.

Dewi menambahkan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah tenaga kerja yang berhasil ditempatkan di luar negeri. Aspek keamanan, profesionalitas dan perlindungan PMI juga harus menjadi perhatian.

Menurut dia, setiap calon PMI harus memahami hak dan kewajiban, mengetahui informasi mengenai pekerjaan serta negara tujuan, dan memastikan proses penempatan dilakukan sesuai ketentuan.

SMK Go Global diharapkan tidak berhenti pada tahap pelatihan dan sertifikasi. Setelah memiliki kompetensi, peserta perlu mendapatkan akses terhadap peluang kerja yang sesuai dengan keahliannya.

Karena itu, pemetaan kebutuhan pasar kerja internasional, penguatan kerja sama dengan negara tujuan, serta kepastian proses penempatan menjadi bagian penting dalam program tersebut.

Dewi menyebut pelaksanaan program membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai pemerintah daerah, lembaga pelatihan, dunia pendidikan, P3MI, perbankan hingga mitra kerja di negara tujuan.

“Keberhasilan program ini bukan hanya berapa banyak yang berangkat, tetapi bagaimana mereka bisa bekerja dengan aman, profesional, produktif, dan kembali ke Indonesia dengan membawa manfaat bagi dirinya dan keluarganya,” tegasnya.

Melalui pelatihan caregiver yang diikuti 60 peserta di Cilacap, pemerintah berharap lahir calon PMI yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis dan sertifikasi, tetapi juga kesiapan mental, disiplin, kemampuan beradaptasi serta pemahaman terhadap budaya dan lingkungan kerja di negara tujuan.

Program SMK Go Global pun diharapkan membuka semakin banyak kesempatan bagi generasi muda Indonesia untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja internasional melalui jalur resmi, kompeten dan terlindungi.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network