Bazar HUT ke-65 Korem 071/Wijayakusuma Jadi Ruang Harapan bagi UMKM

Saladin Ayyubi
Sejumlah UMKM yang ikut merasakan manfaat dengan berdagang di lingkungan Korem 071 Wijayakusuma Purwokerto.  Dokumen

BANYUMAS,iNewsPantura.id — Empat mangkok mie ayam. Hanya sebanyak itu dagangan Sudianto yang rata-rata laku dalam sehari belakangan ini.

Angka tersebut jauh menurun dibanding beberapa tahun lalu. Dari warung sederhana di rumahnya, Sokaraja Lor, pria 60 tahun itu pernah mampu menjual sekitar 15 mangkok mie ayam setiap hari.

Kini, untuk mendapatkan empat pembeli saja, ia harus menunggu lebih lama.

Sudianto biasanya mulai berjualan selepas duhur hingga sekitar pukul 23.00. Namun, lamanya waktu membuka warung tak lagi sebanding dengan jumlah pembeli yang datang.

“Dulu bisa sekitar 15 mangkok, sekarang paling empat mangkok,” ujar Sudianto.

Bagi pedagang kecil, berkurangnya pembeli bukan sekadar soal angka penjualan. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, sementara harga bahan baku justru terus bergerak naik.

Sudianto mengaku kondisi serupa juga dirasakan pedagang lain di sekitarnya. Mereka sama-sama menghadapi pasar yang semakin sepi.

“Bahan baku mahal. Sekarang sejak ada MBG, jual apa saja sepi. Banyak pedagang yang mengeluhkan kondisi ini,” katanya.

Ia membawa mie ayamnya ke lokasi puncak perayaan HUT ke-65 Korem 071/Wijayakusuma. Bukan untuk sekadar menghadiri perayaan, melainkan mencoba peruntungan melalui bazar UMKM yang digelar dalam momentum tersebut.

Hari itu, halaman perayaan berubah menjadi tempat bertemunya prajurit TNI, keluarga besar Korem, masyarakat dan pelaku usaha kecil.

Lapak-lapak UMKM berjajar. Aneka makanan ditawarkan. Masyarakat datang silih berganti. Suasana yang selama ini jarang dirasakan Sudianto di warungnya, hadir di depan matanya.

“Ini baru pertama kali ikut bazar UMKM. Mudah-mudahan ramai. Karena di luar sepi, coba jualan di sini. Setidaknya terbantu,” tuturnya.

Ada Iin Setyaningsih, 48, warga Sokaraja Kidul, yang ikut membawa pecel dagangannya. Sehari-hari, Iin berjualan dari rumah yang berada di sekitar lapangan Koramil.

Bagi orang lain, seporsi pecel mungkin hanyalah makanan sederhana. Namun bagi Iin, setiap porsi yang terjual berarti tambahan untuk menjaga dapur keluarga tetap mengepul.

Bazar tersebut memberikan ruang bagi Iin dan pelaku UMKM lainnya untuk bertemu langsung dengan masyarakat.

Mereka tidak sekadar membawa makanan untuk dijual. Ada harapan yang ikut dibawa ke lokasi.

Harapan agar dagangan kembali menemukan pembeli. Harapan agar usaha kecil tetap bertahan. Dan harapan agar UMKM tidak berjalan sendirian menghadapi perubahan keadaan.

Semangat itulah yang coba dihadirkan Korem 071/Wijayakusuma dalam perayaan HUT ke-65 yang mengusung tema “Prajurit TNI Kuat Bersama UMKM Hebat.”

Tema tersebut tidak berhenti pada tulisan di spanduk. Ia diterjemahkan melalui ruang bagi pelaku UMKM untuk berjualan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Danrem 071/Wijayakusuma Kolonel Inf Sidik Wiyono, S.H., M.Tr.(Han) turut berada dalam momentum kebersamaan tersebut.

Perayaan ulang tahun Korem akhirnya tidak hanya menjadi penanda bertambahnya usia satuan. Ada pesan yang lebih luas: kedekatan TNI dengan masyarakat harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, di balik seragam prajurit terdapat masyarakat yang ingin kehidupannya lebih baik. Begitu pula di balik lapak UMKM sederhana, terdapat keluarga yang sedang berjuang mempertahankan kehidupannya.

Sudianto mungkin hanya membawa beberapa mangkok mie ayam. Iin mungkin hanya membawa seporsi demi seporsi pecel. Tetapi di balik dagangan sederhana itu ada cerita panjang tentang bertahan hidup.

Tentang pedagang yang tetap membuka warung meski pembeli tak pasti. Tentang tangan yang tetap memasak meski keuntungan semakin tipis. Dan tentang harapan yang tetap dipelihara meski keadaan belum berpihak.

“Mudah-mudahan UMKM benar-benar hebat. Harapannya bukan hanya saat ada acara, tetapi terus terbantu dan bisa maju,” kata Sudianto.

Bazar sehari tentu belum mampu mengubah seluruh keadaan. Tetapi bagi pedagang kecil, ruang untuk berjualan dan bertemu pembeli tetap memiliki arti.

Sebab terkadang, yang dibutuhkan pelaku usaha kecil bukan sekadar bantuan besar. Mereka membutuhkan kesempatan untuk kembali dilihat, didatangi dan diberi ruang.

Empat mangkok mie ayam bagi Sudianto bukan lagi sekadar hitungan dagangan. Itu adalah gambaran perjuangan.

Empat mangkok menjadi bukti bahwa meski pembeli berkurang, ia masih bertahan. Bahwa warungnya masih dibuka. Bahwa adonan mie masih dibuat. Dan bahwa harapan belum ditutup.

Di tengah perayaan HUT ke-65 Korem 071/Wijayakusuma, empat mangkok itu menemukan makna lain.

Sebuah ruang yang ramai menghadirkan kembali senyum seorang pedagang. Sebuah bazar memberi kesempatan. Dan sebuah perayaan menyalakan harapan.

Karena UMKM hebat bukan mereka yang tak pernah jatuh. Melainkan mereka yang tetap berjualan ketika sepi, tetap memasak ketika pembeli tak pasti, dan tetap percaya bahwa hari esok masih menyediakan peluang.

Empat mangkok mungkin kecil. Tetapi dari empat mangkok itu, ada keluarga yang bertahan dan harapan yang terus menyala.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network