Gus Ipul Evaluasi Kasus Dugaan Pengeroyokan Siswa Sekolah Rakyat Pati, Pengawasan Diperketat

Wisnu Wardhana
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Dokumen

SEMARANG,iNewsPantura.id – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memastikan kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjadi bahan evaluasi Kementerian Sosial.

Pengawasan dan pembinaan siswa akan diperkuat untuk mencegah terulangnya kekerasan di lingkungan sekolah.

Gus Ipul mengatakan, pihaknya tengah melakukan mitigasi untuk mengetahui penyebab insiden tersebut, termasuk kemungkinan adanya kesalahpahaman maupun hal-hal yang luput dari pengawasan tenaga kependidikan.

“Ini sedang dimitigasi. Mungkin ada kesalahpahaman, mungkin ada hal-hal yang tidak terpantau oleh tenaga kependidikan. Ini menjadi bahan evaluasi juga untuk kami,” kata Gus Ipul saat ditemui di SRT 1 Kota Semarang, Sabtu (10/10) malam.

Menurut Gus Ipul, penanganan terhadap siswa yang diduga terlibat akan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku bagi anak di bawah umur. Pendekatan pembinaan, rehabilitasi, dan pendampingan psikososial akan diutamakan agar para siswa dapat kembali mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

Kemensos juga telah berdialog dengan orang tua korban dan siswa yang diduga terlibat. Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada keluarga sekaligus mencegah konflik antarsiswa berkembang menjadi tindakan kekerasan.

Selain itu, penguatan diberikan kepada kepala sekolah dan tenaga pendidik agar pengawasan terhadap aktivitas siswa semakin ditingkatkan.

Gus Ipul menegaskan, tidak ada toleransi terhadap perundungan, kekerasan fisik, kekerasan seksual, maupun tindakan intoleransi di lingkungan Sekolah Rakyat. Jika pelanggaran terbukti dilakukan tenaga pendidik, pihaknya tidak segan menjatuhkan sanksi hingga pemberhentian.

“Kalau itu dilakukan oleh tenaga pendidik, misalnya kepala sekolah, guru, wali asuh, wali asrama, kalau ada bukti kita berhentikan dan sudah ada yang kita berhentikan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, siswa Sekolah Rakyat berasal dari latar belakang keluarga dan pengalaman hidup yang beragam. Sebagian di antaranya pernah mengalami kekerasan, menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), atau tumbuh di lingkungan yang kurang mendukung.

Karena itu, pendampingan terhadap siswa perlu dilakukan dengan pendekatan khusus yang mempertimbangkan kondisi psikologis masing-masing anak. Menurut Gus Ipul, tenaga pendidik perlu membangun kedekatan emosional dan memberikan perhatian agar siswa merasa aman selama menjalani pendidikan.

Meski demikian, latar belakang siswa tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan tindakan kekerasan. Pengawasan, pembinaan karakter, dan penanganan konflik secara tepat dinilai penting untuk menjaga keamanan seluruh siswa di lingkungan sekolah.

Sebelumnya, seorang siswa berinisial D (16) di SRT 1 Kabupaten Pati diduga menjadi korban pengeroyokan oleh 14 temannya pada Selasa (29/9). Dugaan penganiayaan tersebut disebut terjadi dua kali setelah korban dituduh mencuri sabun cuci muka milik salah seorang siswa.

Akibat kejadian itu, korban mengalami sejumlah luka di bagian pundak dan kepala. Satu giginya dilaporkan copot, sedangkan satu gigi lainnya patah.

Hingga berita ini disusun, korban masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Keluarga Sehat (KSH) Pati.

Kasus tersebut menjadi perhatian terhadap pentingnya perlindungan anak dan pengawasan di lingkungan pendidikan. Kemensos berharap evaluasi yang dilakukan dapat memperkuat sistem pendampingan serta menciptakan lingkungan Sekolah Rakyat yang aman bagi seluruh siswa.

 

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network