PEKALONGAN,iNewsPantura.id – Banjir rob dan abrasi pesisir membuat usaha tambak di Kelurahan Degayu, Kota Pekalongan, kian terpuruk.
Sejumlah petambak bahkan terpaksa meninggalkan usaha budidaya karena lahan mereka tak lagi produktif.
Kini, harapan untuk bangkit mulai tumbuh melalui pengembangan silvofishery, sistem budidaya yang memadukan perikanan dengan pelestarian mangrove.
Inisiatif yang dikembangkan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Muda Mandiri bersama mitra melalui program KEMITRAAN tersebut mulai dijalankan pada 2025. Selain mendorong pemulihan tambak terdampak rob, upaya ini diharapkan membuka kembali sumber penghasilan masyarakat pesisir sekaligus menjaga ekosistem mangrove.
Ketua Pokdakan Mina Muda Mandiri, Mohammad Arif Rohman (36), mengatakan dampak rob terhadap tambak di Degayu mulai terasa serius sejak sekitar 2018 dan semakin parah pada periode 2019–2021. Genangan yang berulang membuat pengelolaan tambak semakin sulit, hingga sejumlah usaha budidaya, termasuk tambak udang vaname intensif, akhirnya ditinggalkan.
Kerugian petambak diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, meski belum tersedia pendataan resmi yang terverifikasi.
“Rob membuat tambak kami semakin sulit dikelola. Kami harus mencari cara agar lahan yang terdampak tetap bisa dimanfaatkan dan petambak memiliki peluang untuk kembali mendapatkan penghasilan. Melalui silvofishery, kami mencoba memadukan budidaya dengan pelestarian mangrove agar usaha tambak bisa lebih adaptif terhadap kondisi pesisir,” ujar Arif.
Uji coba silvofishery dilakukan di lahan percontohan berukuran sekitar 9 x 70 meter. Pada tahap awal, kelompok menebar sebanyak 2.000 benih bandeng untuk melihat potensi pengembangan budidaya di kawasan yang terdampak rob.
Anggota kelompok, Nurhadi (35), mengatakan bandeng yang dibudidayakan telah berusia sekitar dua bulan. Masa panen diperkirakan membutuhkan waktu hingga enam bulan. Berdasarkan pengamatan awal kelompok, tingkat kematian ikan diperkirakan sekitar 0,3 persen.
“Sejak tambak sering terdampak rob, kami harus mencari cara agar budidaya tetap bisa berjalan. Sekarang kami mencoba membudidayakan bandeng melalui silvofishery sambil menjaga mangrove. Harapannya, tambak bisa kembali produktif dan memberikan penghasilan bagi petambak,” kata Nurhadi.
Kelompok juga menjajaki kemungkinan mengembangkan komoditas lain, seperti kepiting, kerang darah, dan rumput laut. Namun, pemilihan komoditas tetap mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kelayakan budidaya di kawasan tersebut.
Pengembangan silvofishery bukan solusi instan untuk mengatasi rob. Keberhasilannya bergantung pada pengelolaan air, pemilihan jenis mangrove yang sesuai, serta penyesuaian teknik budidaya dengan karakteristik lahan.
Mangrove dapat membantu menahan sedimen, meredam energi gelombang dalam kondisi tertentu, dan menyediakan habitat bagi biota pesisir. Meski demikian, upaya pemulihan tambak tetap perlu diiringi penanganan persoalan pesisir lainnya, termasuk penurunan muka tanah, kenaikan permukaan laut, dan penguatan infrastruktur perlindungan pantai.
Tak hanya berfokus pada budidaya, Pokdakan Mina Muda Mandiri juga mulai menyiapkan strategi untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil panen. Kelompok berencana mengembangkan produk olahan, seperti sambal bandeng dan abon bandeng.
Mereka telah berkomunikasi dengan pedagang besar ikan untuk menjajaki penyerapan hasil panen. Sementara itu, pengembangan produk olahan masih dalam tahap persiapan.
Sekretaris kelompok, Binasari, turut terlibat dalam pengembangan program tersebut. Kelompok berharap lahan percontohan silvofishery dapat menjadi model yang bisa diterapkan di tambak lain di Degayu apabila hasil uji coba menunjukkan prospek yang baik.
Peluang pengolahan produk berbahan buah mangrove juga mulai dijajaki. Namun, pengembangannya perlu memperhatikan jenis tanaman, keamanan pangan, dan kelayakan bahan baku agar produk yang dihasilkan aman dikonsumsi.
Melalui program KEMITRAAN, pengembangan silvofishery menjadi bagian dari upaya mendorong adaptasi masyarakat pesisir terhadap perubahan iklim sekaligus memulihkan mata pencaharian petambak.
Bagi warga Degayu, keberhasilan program ini bukan hanya soal menghidupkan kembali tambak yang lama terdampak rob. Lebih dari itu, mereka berharap usaha budidaya dapat kembali memberikan penghasilan yang layak tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan pesisir.
Keberlanjutan upaya tersebut masih bergantung pada hasil budidaya, kemampuan petambak memperluas pasar, serta dukungan penanganan rob secara menyeluruh. Dengan demikian, silvofishery diharapkan tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi berkembang menjadi salah satu pilihan usaha adaptif bagi masyarakat pesisir Pekalongan.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
