Batik Pewarna Alami Pekalongan Bertahan di Tengah Ancaman Rob, Perajin Hadapi Tantangan Pasar

Wisnu Wardhana
Pembatik Pekalongan massih bertahan ditengah ancaman Rob. dokumen

PEKALONGAN,iNewsPantura.id – Di tengah ancaman banjir rob dan persoalan pencemaran lingkungan pesisir, sejumlah perajin batik di Kota Pekalongan berupaya mempertahankan tradisi membatik melalui penggunaan pewarna alami.

Inovasi ini menawarkan alternatif produksi yang lebih memperhatikan lingkungan, tetapi perajin masih menghadapi tantangan berupa proses pengerjaan yang panjang, biaya produksi tinggi, hingga pemasaran yang belum optimal.

Salah satu perajin yang menekuni batik pewarna alami adalah Sri Rejeki (50), pemilik rumah produksi Loyal Batik di kawasan Kauman, Kota Pekalongan. Sejak 2023, ia mengembangkan batik dengan memanfaatkan bahan-bahan alami dari tumbuhan, seperti kayu mahoni, tingi, tegeran, jelawet, mangrove, hingga daun ketapang.

Bahan-bahan tersebut direbus untuk menghasilkan ekstrak pewarna sebelum diaplikasikan pada kain. Hasilnya berupa warna khas, mulai cokelat susu, cokelat tua, kehijauan, hingga abu-abu.

Namun, proses produksi membutuhkan ketelitian, terutama saat pencelupan dan penguncian warna atau fiksasi. Tahapan tersebut terkadang harus dilakukan berulang kali untuk memperoleh warna sesuai keinginan.

“Kalau pewarna alami, menurut saya lebih ramah lingkungan. Bahannya bisa berasal dari kulit kayu maupun daun. Untuk limbah malam atau lilin batik, kami juga tidak langsung membuangnya, tetapi diolah kembali untuk digunakan dalam proses berikutnya. Sisa larutan pewarna alami pun kami simpan agar bisa dimanfaatkan kembali,” kata Sri.saat ditemui dalam kegiatan Media Visit Ketangguhan Iklim Pesisir Pekalongan, Kamis (22/10/2026).

Bagi Sri, penggunaan pewarna alami tidak sekadar menghasilkan motif dan warna yang berbeda. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari pelestarian keterampilan membatik sekaligus mendorong pengelolaan limbah produksi yang lebih bertanggung jawab.

Meski demikian, penggunaan bahan alami tetap membutuhkan pengelolaan yang tepat. Sisa larutan pewarna tidak serta-merta aman dibuang begitu saja karena karakter limbah bergantung pada bahan dan proses yang digunakan.

Tantangan produksi juga dirasakan Naili (48), perajin batik pewarna alami lainnya di Pekalongan. Ia mulai mempelajari teknik tersebut melalui program pemerintah dan kemitraan. Sebelumnya, kegiatan produksinya lebih banyak berfokus pada batik untuk kebutuhan seragam.

“Dulu biasanya kami hanya membuat batik untuk seragam. Kemudian, melalui kemitraan, kami mulai belajar membuat batik dengan pewarna alam,” ujar Naili.

Menurut dia, proses pewarnaan alami membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak dibandingkan pewarna sintetis. Untuk mendapatkan warna sesuai desain, satu kain bahkan bisa melalui proses pewarnaan hingga enam kali.

Lamanya pengerjaan turut memengaruhi biaya produksi dan harga jual. Naili menyebut harga produknya bervariasi, mulai sekitar Rp350.000, sedangkan batik tulis dengan tingkat kerumitan lebih tinggi dapat mencapai Rp4 juta hingga Rp7 juta.

“Prosesnya memang lama dan membutuhkan biaya serta tenaga,” katanya.

Namun, harga jual yang relatif tinggi tidak otomatis menjamin keuntungan besar. Biaya bahan, tenaga kerja, dan waktu pengerjaan harus diperhitungkan agar usaha tetap berjalan.

Pemasaran pun masih menjadi pekerjaan rumah. Selama ini, Naili mengandalkan pameran dan jaringan pertemanan untuk menjual produknya. Sebagian perajin mulai memanfaatkan media sosial, tetapi penggunaan lokapasar digital belum merata.

Pemahaman konsumen mengenai karakter batik pewarna alami juga dinilai perlu ditingkatkan. Di luar pameran dan jaringan pelanggan khusus, harga produk terkadang sulit bersaing dengan batik yang proses produksinya lebih singkat.

Dari kelompok perajin yang dahulu dirintis sekitar 20 orang, kini hanya sekitar 10 orang yang masih aktif. Naili sendiri mampu menghasilkan sekitar lima lembar kain per bulan, bergantung pada pesanan dan kemampuan pengerjaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan batik ekologis tidak cukup hanya mengandalkan inovasi bahan baku. Perluasan pasar, penguatan kapasitas usaha, serta pemahaman konsumen menjadi faktor penting agar perajin mampu mempertahankan produksi.

Pengembangan batik pewarna alami di Pekalongan turut mendapat dukungan KEMITRAAN melalui pendampingan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Knowledge and Communication Officer KEMITRAAN, Arif Nurdiansah, mengatakan pendampingan telah berjalan sekitar lima tahun dengan perhatian pada isu adaptasi perubahan iklim.

Menurut Arif, dampak perubahan iklim di wilayah pesisir tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan, tetapi juga memengaruhi penghidupan masyarakat. Perajin batik menjadi salah satu kelompok usaha yang perlu memperkuat kemampuan beradaptasi agar kegiatan produksi tetap berlangsung.

“Ketika terjadi dampak perubahan iklim, salah satu yang ikut terdampak adalah ekonomi masyarakat. Setelah kami mengidentifikasi persoalan tersebut, ternyata perajin batik juga menghadapi tantangan. Di sisi lain, proses produksi batik berpotensi menambah pencemaran apabila pengelolaan limbahnya tidak dilakukan dengan baik,” ujar Arif.

Ia menjelaskan, pengembangan batik ekologis menjadi salah satu alternatif untuk menjaga keberlangsungan usaha berbasis budaya sekaligus meningkatkan perhatian terhadap dampak lingkungan dari proses produksi.

Dalam program pendampingan tersebut, KEMITRAAN menghadirkan praktisi dari sejumlah daerah, termasuk Yogyakarta, Depok, dan Surabaya. Materi yang diberikan meliputi pembuatan pewarna alami, pengembangan desain, hingga strategi pemasaran.

Pengembangan batik ekologis merupakan bagian dari Program Adaptation Fund Pekalongan yang dijalankan KEMITRAAN bagi Pembaruan Tata Pemerintahan. Program yang berlangsung sejak 2021 di delapan kelurahan pesisir itu mendorong penguatan penghidupan adaptif, perlindungan lingkungan, dan keberlanjutan kebijakan dalam menghadapi perubahan iklim.

Ancaman banjir di wilayah pesisir juga menjadi bagian dari pengalaman para perajin. Naili menuturkan, banjir besar sekitar 2019 pernah mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan sekolah dan pekerjaan sehari-hari. Genangan yang tidak cepat surut menyebabkan rumah dan barang-barang warga terdampak.

Menurut dia, pembangunan tanggul dan beton di sejumlah lokasi belum sepenuhnya mengatasi persoalan banjir. Di beberapa tempat, air masih masuk ke permukiman dan mengganggu aktivitas warga.

Di tengah kondisi tersebut, mempertahankan usaha batik menjadi salah satu cara perajin menjaga sumber penghidupan. Ketertarikan terhadap batik pewarna alami juga menjadi alasan Naili untuk terus berkarya meski proses produksinya lebih rumit.

“Karena saya memang menyukai batik pewarna alam. Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa menghasilkan karya sendiri dari awal hingga akhir,” tuturnya.

Pengalaman Sri dan Naili memperlihatkan bahwa batik pewarna alami berpotensi menghubungkan pelestarian budaya dengan kepedulian terhadap lingkungan. Namun, keberlanjutan usaha ini membutuhkan dukungan yang tidak berhenti pada pelatihan produksi.

Pengelolaan limbah yang tepat, perluasan akses pemasaran, serta peningkatan pemahaman konsumen perlu berjalan beriringan. Dengan begitu, batik pewarna alami tidak hanya menjadi alternatif produksi yang lebih memperhatikan lingkungan, tetapi juga tetap mampu menjadi sumber penghidupan bagi perajin di kawasan pesisir Pekalongan.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network