PEKALONGAN, iNewsPantura.id — Sampah tidak selalu berakhir menjadi limbah. Melalui proses pemilahan dan pengolahan, sampah organik dan plastik dapat diubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Upaya ini dilakukan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Mitra Brayan Resik di Kelurahan Kuripan Kertoharjo, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan.
Di fasilitas ini, sampah yang masuk dipilah berdasarkan jenisnya, terutama sampah organik dan anorganik. Proses pemilahan dibantu mesin dan konveyor, kemudian sampah diolah menggunakan mesin pencacah untuk memudahkan pemanfaatan lebih lanjut.
Sampah organik diolah menjadi bubur yang digunakan sebagai media budidaya maggot. Sementara itu, sampah plastik, seperti botol air mineral dan kemasan, dipilah untuk dijual kembali sebagai bahan daur ulang.
Dengan cara tersebut, sampah tidak hanya dikurangi volumenya, tetapi juga berpotensi menghasilkan pendapatan bagi pengelola.
TPST Mitra Brayan Resik mulai beroperasi pada Maret 2025, ketika Kota Pekalongan menghadapi kondisi darurat sampah. Fasilitas ini hadir melalui program dari Kemitraan dengan Pemerintah Kota Pekalongan, dengan dukungan sarana mesin dan pendampingan selama enam bulan.
Koordinator Pengelolaan TPST Mitra Brayan Resik, Tobiin, mengatakan fasilitas tersebut awalnya menggunakan mesin dengan kapasitas pengolahan sekitar dua ton per hari. Kemudian ditingkatkan dengan volume yang lebih besar.
Saat ini, TPST Mitra Brayan Resik mampu mengolah hingga 15 ton sampah per hari. Selain menghasilkan material yang dapat dimanfaatkan kembali, kegiatan ini membantu mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Degayu.
Setelah masa pendampingan dari Kemitraan berakhir, pengelolaan TPST dilanjutkan secara mandiri oleh kelompok swadaya masyarakat (KSM).
Ketua KSM pengelola, Huda, mengatakan pendapatan operasional bersumber dari penjualan rongsok dan retribusi layanan pengelolaan sampah. Dalam sebulan, pemasukan dari kedua sumber tersebut berkisar Rp16 juta hingga Rp19 juta.
Pendapatan itu digunakan untuk mendukung operasional serta dibagikan kepada pekerja dan pengurus. Namun, keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan bagi keberlangsungan fasilitas tersebut.
Insentif pekerja yang sebelumnya sekitar Rp2,1 juta per bulan kini turun menjadi Rp1,1 juta. Jumlah pekerja juga menyusut dari sekitar 30 orang menjadi 15 orang.
Untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil pengolahan, pengelola berupaya mengembangkan budidaya maggot dan merencanakan peternakan ayam.
Keberhasilan upaya ini juga membutuhkan keterlibatan masyarakat melalui pemilahan sampah sejak dari rumah. Dengan memisahkan sampah organik dan anorganik, proses pengolahan menjadi lebih efektif dan material yang masih bernilai dapat dimanfaatkan kembali.
Melalui dukungan sarana, pengelolaan yang berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat, TPST Mitra Brayan Resik diharapkan mampu menjadikan sampah sebagai sumber daya ekonomi sekaligus mengurangi beban TPA Degayu.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
