PURWOKERTO,iNewsPantura..id – Mengubah sampah organik menjadi peluang ekonomi, mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berhasil meraih penghargaan nasional melalui program Maggot Preneur.
Inovasi budidaya larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) tersebut meraih Kategori Tim Pemberdayaan Berdampak dalam ajang Innovilleague 2026 yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat RI, 27 Oktober 2026.
Program ini menggabungkan pengolahan sampah organik dengan pemberdayaan masyarakat. Tak hanya mengurangi limbah, budidaya maggot juga berpotensi menghasilkan bahan pakan berprotein sekaligus membuka peluang usaha.
Ketua Tim Maggot Preneur, Nindi Juniar, mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Unsoed, mengatakan penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk memperluas manfaat program bagi masyarakat.
“Melalui penghargaan ini, kami berharap program Maggot Preneur dapat terus berkembang, menginspirasi mahasiswa lain untuk berkarya, serta mendorong lahirnya program pemberdayaan serupa di berbagai daerah di Indonesia,” ungkap Nindi.
Program yang berawal dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian kepada Masyarakat pada 2025 ini menggandeng Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Purwokerto.
Klien pemasyarakatan dilibatkan dalam pembelajaran dan praktik budidaya agar memiliki keterampilan produktif yang dapat dikembangkan secara mandiri.
Pelaksanaannya didukung Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas sebagai penyedia bibit maggot serta Rumah Sakit Siaga Medika Banyumas sebagai pemasok sampah organik.
Prestasi tersebut diraih setelah Maggot Preneur bersaing dengan 415 tim dari seluruh Indonesia. Tim Unsoed berhasil menembus 15 besar, kemudian lolos menjadi delapan tim terbaik sebelum akhirnya memperoleh penghargaan pada penjurian akhir.
Ke depan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari penghargaan, tetapi juga dari keberlanjutan budidaya, pengurangan sampah, dan kemampuan peserta mengembangkan usaha secara mandiri. Maggot Preneur diharapkan menjadi contoh bahwa persoalan lingkungan dapat diolah menjadi peluang pemberdayaan masyarakat.
Editor : Eddie Prayitno
Artikel Terkait
