3 Tokoh Islam yang Terlibat dalam Lahirnya Pancasila

Nanang Sulaeman
Kasman Singodimedjo Tokoh Islam berpengaruh Lahirnya Pancasila (Foto: Wikipedia)

JAKARTA - Sebelum lahirnya Pancasila, terdapat peristiwa yang melibatkan sejumlah tokoh Islam dalam perumusan Pancasila menjadi dasar negara Indonesia yang dipegang teguh hingga saat ini. 

Berikut 3  tokoh Islam yang terlibat dalam lahirnya Pancasila.

1. Ki Bagus Hadikusumo

Ki Bagus Hadikusumo dikenal sebagai tokoh di balik rumusan Pancasila, Undang Undang Dasar, Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), serta Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ia lahir di Yogyakarta, 24 November 1890. Ki Bagus berasal dari keluarga priyayi santri dari daerah Kauman, Yogyakarta. Pendidikan formal Ki Bagus hanya sampai sekolah dasar. Sementara itu, pendidikan agamanya didapat dari ayahnya dan ilmu dari pesantren yang berada di Pekalongan serta Wonokromo.

Pengaruh ketika mempelajari ilmu Islam didapatnya dari KH Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri Muhammadiyah. Pemikiran serta perjuangannya tak lepas dari Muhammadiyah. Jabatan yang pernah diembannya, mulai dari Ketua Majelis Tabligh hingga Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Selain terlibat organisasi Islam, Ki Bagus juga terlibat dalam Sidang BPUPKI.

Dalam sidang tersebut, ia memperjuangkan agar Islam menjadi pilar dalam dasar negara. Namun usulan Ki Bagus dan beberapa tokoh Islam lainnya ditolak. Pada 7 September 1954, Ki Bagus meninggal dunia dan dimakamkan di Yogyakarta. Atas jasanya, Ki Bagus Hadikusumo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 2015.

2. Kasman Singodimedjo

Kasman Singodimedjo adalah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia juga menjadi salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pria kelahiran Purworejo, 25 Februari 1904 ini termasuk dalam enam orang anggota PPKI tambahan ketika Presiden Soekarno menambah jumlah anggota PPKI dari 21 menjadi 27 orang.

Ketika menjadi anggota PPKI, Kasman mempunyai peran dalam penghilangan tujuh kata dalam naskah pembukaan UUD 1945. Selain itu, Kasman dikenal dari organisasi Muhammadiyah yang turut membentuk Partai Islam Indonesia di Surakarta ketika masih muda.

Ia juga pernah menjadi Ketua Muda Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Pada 1945-1946, ia pernah menjadi Jaksa Agung. Kemudian pada November 1947-Januari 1948, ia menduduki posisi Menteri Muda Kehakiman dalam Kabinet Amir Sjafruddin II. Pada 25 Oktober 1982, Kasman Singodimedjo meninggal dunia. Atas jasa yang telah dilakukannya, pada November 2018, Presiden Joko Widodo memberi gelar pahlawan nasional kepada Kasman Singodimedjo.

3. Abdul Kahar Muzakir

Abdul Kahar Muzakir adalah tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia lahir di Yogyakarta, 1928. Pada usia 16 tahun, Abdul Kahar melanjutkan pendidikannya di Kairo, Mesir. Ia kuliah di Universitas Fuad (saat ini Universitas Kairo) dan lulus pada 1936.

Sepulangnya ke Indonesia, Abdul Kahar mulai terjun ke dunia politik. Ia bergabung dengan Partai Islam Indonesia (PII). Ketika di PII, ia terpilih menjadi salah satu komisaris hingga 1941. Pada masa pendudukan Jepang, Abdul Kahar menjabat sebagai Wakil Ketua di Departemen Agama.

Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Dewan Penasehat Pusat yang membawanya berada di BPUPKI, mewakili organisasi Islam. Abdul Kahar Muzakir juga pernah menjadi Rektor Magnificus yang dipilih Universitas Islam Indonesia (UII) yang pertama dengan nama STI. Ia menjabat sebagai Rektor UII selama dua periode yaitu sejak 1945-1948 dan 1948-1960.

Editor : Hadi Widodo

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network