Estetika Tubuh Jadi Kunci: Mengintip Rahasia Sukses Finalis Festival Teater Pelajar XV
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, menegaskan bahwa Festival Teater Pelajar merupakan bentuk konsistensi dalam mendukung regenerasi seni pertunjukan di Indonesia.
“Festival Teater Pelajar adalah wujud kecintaan generasi muda terhadap seni teater sekaligus langkah penting bagi masa depan industri seni pertunjukan. FTP bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan ruang pengembangan diri, ruang inspirasi, dan ruang pembelajaran bagi pelajar agar semakin mencintai dunia teater,” ujarnya.
Melalui tema Estetika Tubuh Artistik, para peserta diajak menggali tubuh sebagai sarana ekspresi individual maupun kolektif. Kesadaran terhadap gerak, gestur, ritme, dan kehadiran tubuh di atas panggung menjadi elemen artistik utama yang membangun makna pertunjukan. Pendekatan ini diperkuat melalui rangkaian workshop dan coaching agar peserta mampu mengeksplorasi potensi tubuh secara lebih mendalam, terarah, dan kontekstual.
Pembina Teater Djarum, Wijayanto Franciosa, menilai proses FTP XV menunjukkan perkembangan signifikan dalam keberanian pelajar mengolah tubuh sebagai bagian integral dari pertunjukan.
“Tema ini mengajak pelajar memaknai kembali potensi estetika tubuh, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari tim. Setiap anggota memiliki peran, dan kebersamaan itulah yang melahirkan harmoni artistik sebuah pertunjukan. Proses ini menjadi pembelajaran penting untuk pertumbuhan kualitas teater pelajar ke depan,” tuturnya.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Bakti Budaya Djarum Foundation bersama Titimangsa dan Teater Djarum turut menghadirkan Lokakarya Pelatih Pelajar (Lokapijar) sebagai rangkaian pendampingan menuju FTP XV. Program yang digelar sejak April 2025 ini dirancang untuk memperkuat kesiapan sekolah dalam proses penciptaan hingga pementasan. Sebanyak 114 sekolah tercatat mengikuti Lokapijar, mencerminkan meningkatnya partisipasi dan minat pelajar terhadap kegiatan teater di Kabupaten Kudus.
“FTP 2025 menjadi istimewa karena tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga memperkuat proses pendampingan bagi pelajar, guru, dan pelatih. Kami ingin FTP menjadi pengalaman belajar yang bermakna dan berkelanjutan, tidak berhenti pada hasil pertunjukan semata,” jelas Renitasari.
Program pendampingan ini dilaksanakan dalam dua sesi. Coaching Session pertama berlangsung pada 8–12 September 2025 di Kudus, melibatkan dua perwakilan guru dari setiap sekolah dan didampingi oleh 10 coach. Fokus pendampingan diarahkan pada pengembangan konsep pementasan dan penyutradaraan.
Sementara Coaching Session kedua digelar pada 6–8 Oktober 2025 di masing-masing sekolah peserta. Selama tiga hari, para coach mendampingi proses showcase/runthrough, evaluasi, serta pengayaan untuk memperkuat kesiapan pementasan.
Pada tahap penyisihan, peserta menampilkan karya yang diadaptasi dari lima naskah pilihan, yakni Argumentasi Sisi karya Diky Soemarno, Dan Bulan pun Tak Datang karya Idham Ardi Nurcahyo, Dinding-dinding Binar karya Ego Heriyanto, Dipaksa Dewasa karya Billy Yapananda Samudra, serta Titik atau Koma karya Noko Mores.
Hasil penjurian mengantarkan kelompok terbaik ke babak final yang digelar pada 19–21 Desember 2025 di GOR Kaliputu – Djarum Arena 2, Kudus. Babak final turut dimeriahkan penampilan bintang tamu Teater Lentera Jepara dan Titimangsa, berkolaborasi dengan para alumni FTP dari tahun-tahun sebelumnya.
Penampilan finalis dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Iswadi Pratama, Putri Ayudya, M. Nur Cholis, dan Teguh Yasa dari Bakti Budaya Djarum Foundation. Selain menilai aspek teknis, para juri juga memberi perhatian pada proses, keberanian, serta kejujuran artistik para peserta.
“Para pelajar tidak sekadar bermain peran, tetapi bercerita dengan hati. Festival Teater Pelajar membuktikan dirinya sebagai ruang lahirnya generasi seniman masa depan yang memberi napas segar bagi seni pertunjukan Indonesia,” ungkap Iswadi Pratama.
Pada kategori penghargaan, FTP XV 2025 memberikan apresiasi bagi kelompok dan individu, mulai dari Teater Terbaik, Teater Favorit, hingga penghargaan teknis dan artistik lainnya. Untuk tingkat SMP, Teater Bobot SMP 1 Kudus dinobatkan sebagai Teater Terbaik, sementara tingkat SMA diraih oleh Teater Patas SMA 1 Bae, yang juga menyabet gelar Teater Favorit.
Festival Teater Pelajar XV kembali menegaskan perannya sebagai ruang belajar, ruang apresiasi, dan ruang tumbuh bagi pelajar Kudus untuk mengenal, mencintai, dan menghidupi dunia seni pertunjukan secara utuh.
Editor : Suryo Sukarno