Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ungkap Kasus Dugaan Pembunuhan Berencana di Arcawinangun, Istri Korban Diduga Terlibat
Advertisement . Scroll to see content

Gagal Berangkat ke Korea, 7 Warga Jateng Rugi Ratusan Juta Siap Lapor Mabes Polri

Kamis, 30 April 2026 | 16:30 WIB
  • author Mas Sal
Gagal Berangkat ke Korea, 7 Warga Jateng Rugi Ratusan Juta Siap Lapor Mabes Polri
Korban gagal berangkat ke Korea saat mengadukan kasusnya ke Klinik Hukum Peradi SAI Purwokerto. Foto : iNewsPantura.id/ Mas Sal

PURWOKERTO, iNewsPantura.id - Hilang sudah impian bekerja di luar negeri dan kini berubah menjadi mimpi buruk.  Tujuh warga asal Jawa Tengah diduga menjadi korban penipuan oleh perusahaan penyalur tenaga kerja, PT RAA, yang beralamat di Koja, Jakarta Utara, setelah gagal diberangkatkan ke Korea meski telah menyetor uang hingga ratusan juta rupiah.

Kasus ini mencuat setelah para korban, di antaranya Supriyono dan Ahmad Samsul Arifin, mengungkap kronologi panjang yang penuh janji manis namun berujung kekecewaan. Keduanya mengaku telah mendaftar sejak awal 2024 dengan iming-iming keberangkatan pada Agustus 2024.

"Awalnya dijanjikan berangkat Agustus 2024, tapi terus mundur ke Februari, lalu Juni. Bahkan sempat keluar tiket, tapi pagi hari penerbangan dibatalkan dengan alasan ada masalah," ungkap salah satu korban saat mengadu ke DPC Peradi SAI Purwokerto, Kamis 30 April 2026.

Tak hanya sekali, penundaan terjadi berulang kali. Tiket keberangkatan disebut sempat terbit hingga dua kali, namun tak pernah berujung pada keberangkatan. Para korban bahkan sempat diminta menunggu berbulan-bulan di kantor perusahaan tanpa kepastian.

"Saya menunggu hampir empat bulan di kantor PT. Teman saya sampai tiga bulan. Tapi sampai sekarang tidak pernah berangkat," tambahnya.

Janji tak hanya berhenti pada tujuan Korea. Para korban juga sempat ditawari alternatif pemberangkatan ke China. Namun skenario tersebut kembali berujung tanpa kejelasan.

Dari sembilan orang yang mendaftar, dua orang disebut telah menerima pengembalian dana. Namun tujuh lainnya masih menunggu kejelasan. Masing-masing korban mengaku telah mengeluarkan dana sekitar Rp150 juta, mencakup biaya administrasi, medical check-up, pembuatan paspor, hingga kebutuhan operasional lainnya.

"Kerugian kami sekitar Rp150 juta per orang. Belum lagi beban moral, malu dengan keluarga, bahkan ada yang sampai terlilit utang bank," ungkap korban lainnya.

Para korban kini mengadu ke klinik hukum untuk mencari keadilan. Kuasa hukum mereka, Djoko Susanto, SH, menegaskan bahwa kliennya merasa dirugikan karena seluruh pembayaran dilakukan secara resmi dan dilengkapi bukti.

"Total ada tujuh korban yang belum diberangkatkan, dengan kerugian masing-masing sekitar Rp150 juta. Kami meminta direktur PT atas nama AS segera bertanggung jawab," tegasnya.

Kuasa Hukum Pelapor, Djoko Susanto SH mengatakan, pihak perusahaan sempat beralasan akan mengembalikan dana setelah menjual aset. Namun hingga kini, janji tersebut belum juga terealisasi.

"Komunikasi masih berjalan, tapi hanya sebatas janji. Belum ada realisasi pengembalian dana," imbuhnya.

Pihak kuasa hukum pun berencana melaporkan kasus ini ke Mabes Polri serta menyurati Kementerian Ketenagakerjaan untuk memastikan legalitas perusahaan tersebut.

"Kami akan tempuh jalur hukum. Karena korban berasal dari berbagai daerah seperti Gombong, Pengadegan, dan Tegal, maka pelaporan akan kami arahkan ke tingkat pusat," jelasnya.

Kasus ini menambah daftar panjang dugaan penipuan berkedok penyaluran tenaga kerja ke luar negeri. Masyarakat pun diimbau untuk lebih berhati-hati dan memastikan legalitas perusahaan sebelum menyetorkan uang dalam jumlah besar.

Sementara itu, Direktur PT RAA, saat dikonfirmasi melalui pesan whatsap  membenarkan bahwa para pelapor merupakan konsumennya. Ia menegaskan bahwa perusahaannya adalah agen resmi dan dapat dipercaya.

"Agen kami jelas, kami berniat baik untuk mengembalikan dana dan mereka paham prosesnya," ujarnya. 

Editor: Suryo Sukarno

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut