Manuskrip Kuno di Kaliwungu Mulai Diburu, Jejak Ulama Nusantara Diselamatkan
KENDAL,iNewsPantura.id – Kaliwungu yang dikenal sebagai kota santri ternyata masih menyimpan banyak manuskrip dan naskah kuno peninggalan ulama terdahulu. Naskah-naskah yang menjadi jejak perkembangan Islam Nusantara itu kini mulai diburu dan didata untuk mencegah kerusakan maupun kemusnahan akibat usia.
Upaya penyelamatan manuskrip dilakukan melalui kegiatan sekolah filologi dan sosialisasi pendataan naskah kuno yang digelar di Perpusda Kendal, Jumat 8 Mei 2026. Kegiatan tersebut digelar Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) MWC NU Kaliwungu bersama sejumlah komunitas sejarah dan Dinas Kearsipan serta Perpustakaan Kendal.
Ketua LTNNU MWC NU Kaliwungu, Ibnu Fikri mengatakan manuskrip kuno menjadi bukti bahwa Kaliwungu pernah memiliki tradisi keilmuan Islam yang maju. Banyaknya pesantren tua di wilayah tersebut diyakini masih menyimpan berbagai tulisan tangan ulama yang belum terdokumentasi.
Menurutnya, manuskrip bukan sekadar lembaran tulisan tua, melainkan sumber penting sejarah peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan.
“Kalau sebuah daerah memiliki banyak manuskrip berarti daerah itu pernah mempunyai peradaban yang berkembang. Karena manuskrip merupakan simbol peradaban,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Ia menilai pelestarian manuskrip mendesak dilakukan karena banyak naskah mulai rapuh akibat dimakan usia. Tidak sedikit pula manuskrip yang hanya disimpan seadanya oleh pemilik tanpa perlindungan khusus.
Karena itu selain pendataan, penyelamatan juga dilakukan melalui digitalisasi naskah agar isi manuskrip tetap aman meskipun dokumen asli mengalami kerusakan.
“Yang kita lakukan bukan hanya mencari manuskrip, tetapi juga mengedukasi masyarakat terutama generasi muda agar peduli terhadap warisan intelektual para ulama,” tambahnya.
Rois Syuriah MWC NU Kaliwungu, KH Fauzi Shodaqoh menegaskan manuskrip kuno sangat berkaitan dengan sejarah perjalanan dakwah ulama di masa lalu. Banyak catatan kehidupan ulama, sanad keilmuan hingga ajaran keagamaan yang tersimpan dalam naskah tulisan tangan tersebut.
Menurutnya, manuskrip menjadi sumber penting untuk memahami sejarah Islam Nusantara khususnya di Kabupaten Kendal.
“Perjalanan ulama biasanya ditulis oleh para santri dan pengikutnya. Karena itu manuskrip sangat penting untuk menjaga jejak sejarah dan ilmu pengetahuan,” katanya.
Sementara itu akademisi Fakultas Ilmu Budaya Undip Semarang sekaligus pemerhati manuskrip kuno, Muhammad Abdullah menjelaskan filologi menjadi ilmu penting untuk membaca, memahami dan merawat naskah kuno.
Ia menyebut manuskrip primer merupakan naskah asli tulisan tangan yang memiliki nilai sejarah tinggi sehingga harus dijaga keberadaannya.
“Sekolah filologi ini menjadi cara untuk menyelamatkan manuskrip agar tidak hilang dan tetap bisa dipelajari generasi berikutnya,” jelasnya.
Plt Kabid Perpustakaan Dinarpusda Kendal, Nur Nudzrohayati menambahkan pihaknya sebenarnya sudah melakukan pendataan naskah kuno sejak tahun 2024.
Hingga saat ini sedikitnya 38 manuskrip dari berbagai wilayah di Kabupaten Kendal telah berhasil diidentifikasi dan didokumentasikan. Namun Kaliwungu dinilai masih menyimpan banyak naskah kuno yang belum tersentuh pendataan.
“Kaliwungu ini potensinya besar karena banyak pesantren dan tokoh ulama. Kami berharap kegiatan ini menghasilkan data valid tentang jumlah manuskrip yang ada,” terangnya.
Sekolah filologi tersebut menghadirkan pemateri dari Nahdlatut Turats, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) dan pakar sejarah Islam Nusantara. Peserta diajak mempelajari teori hingga praktik membaca dan merawat manuskrip kuno.
Kegiatan ini juga melibatkan berbagai komunitas seperti Pelataran Sastra Kaliwungu, Komunitas Pecinta Kitab Kuning Manuskrip dan Sejarah (Kopikumanis), Madrasah Budaya Pungkuran Kaliwungu, Kendal Tempo Dulu dan Kendal Heritage sebagai bentuk kolaborasi pelestarian sejarah daerah.
Editor : Eddie Prayitno