Akses Jalan yang Belum Baik, Jadi Perhatian Utama agar Musim Giling 2026 Berjalan Optimal
Menurut Daniyanto, kebutuhan bahan baku tersebut akan menopang operasional sejumlah pabrik gula di Malang, Kebon Agung Baru, Madiun, hingga Madu Baru Yogyakarta yang kini berada dalam koordinasi bersama.
Di sisi lain, Direktur Utama PT PG Rajawali II, Ardian Wijanarko, menilai peningkatan volume tebu giling yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir harus dibarengi dengan penguatan produktivitas di tingkat KPH.
“Fokus kami saat ini adalah menjaga stabilitas produksi dan meningkatkan produktivitas. Pengalaman adanya beberapa wilayah yang sempat bermitra dengan pihak lain menjadi pelajaran penting. Ke depan, kami berharap seluruh pihak dapat kembali bersatu sehingga tidak terjadi tumpang tindih maupun kendala operasional di lapangan,” kata Ardian.
Saat ini, kemitraan Perhutani dengan PG Rajawali telah mencakup lahan seluas lebih dari 2.523 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Rinciannya meliputi kerja sama seluas 104 hektare dengan PG Jati Tujuh di wilayah Jawa Barat dan Banten, 94,47 hektare dengan PG Tersana Baru di Jawa Tengah, serta 338,61 hektare dengan PG Rejo Agung Baru di Jawa Tengah. Adapun porsi terbesar berada di Jawa Timur melalui kerja sama dengan PG Rejo Agung Baru seluas 1.986,55 hektare. Luasan tersebut menjadi salah satu penopang penting bagi keberlangsungan industri gula nasional sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan kawasan hutan secara produktif dan berkelanjutan.
Dengan dukungan kondisi iklim yang diperkirakan lebih bersahabat serta semakin kuatnya koordinasi kedua pihak, kemitraan strategis antara Perhutani dan PG Rajawali diharapkan mampu memperkuat pasokan bahan baku industri gula nasional. Di saat yang sama, sinergi tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi kawasan hutan serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi perusahaan, masyarakat, dan sektor pergulaan nasional.
Editor : Eddie Prayitno