Donor Darah Jadi Wujud Kepedulian, Puluhan Kantong Darah Terkumpul dalam Baksos HUT INI
SEMARANG,iNewsPantura.id – Kebutuhan darah di rumah sakit tidak pernah mengenal hari libur. Setiap hari, pasien membutuhkan transfusi darah untuk berbagai keperluan medis.
Kesadaran akan pentingnya menjaga ketersediaan darah itulah yang mendorong berbagai elemen masyarakat terus menggelar aksi donor darah secara rutin.
Semangat tersebut tampak dalam bakti sosial yang digelar bersama Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Semarang dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Ikatan Notaris Indonesia (INI) ke-118. Donor darah menjadi kegiatan utama sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama sekaligus upaya membantu memenuhi kebutuhan darah bagi pasien di rumah sakit.
Ketua Panitia, Mochamad Rizqi Zia Ulhaq, mengatakan kegiatan sosial seperti donor darah telah menjadi agenda rutin setiap peringatan hari jadi organisasi. Tahun ini panitia menargetkan 50 pendonor, dengan lebih dari 40 orang mendaftarkan diri untuk mengikuti proses donor.
Namun, tidak seluruh peserta dapat mendonorkan darahnya. Sebagian harus ditunda setelah menjalani pemeriksaan kesehatan karena tidak memenuhi persyaratan medis yang telah ditetapkan.
"Setetes darah sangat berharga demi kemanusiaan. Kami berterima kasih kepada seluruh pendonor yang telah bersedia berbagi dan kepada PMI Kota Semarang yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut karena manfaatnya sangat besar bagi masyarakat," ujarnya.
Kepala Bagian Pelayanan Donor UDD PMI Kota Semarang, dr. Reztry Maulida, menjelaskan stok darah di PMI Kota Semarang saat ini masih dalam kondisi aman sehingga mampu memenuhi kebutuhan rumah sakit di Kota Semarang maupun daerah sekitarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kebutuhan darah bersifat dinamis dan berubah setiap hari, sehingga ketersediaan stok harus terus dijaga melalui donor darah sukarela secara berkelanjutan.
Menurutnya, golongan darah B dan O menjadi jenis yang paling banyak dibutuhkan karena jumlah pemilik golongan darah tersebut juga mendominasi populasi. Sementara itu, golongan darah AB memiliki jumlah pendonor paling sedikit.
"Kami mengajak masyarakat untuk menjadikan donor darah sebagai kebiasaan. Selama kondisi kesehatan memenuhi syarat, donor darah dapat dilakukan secara rutin untuk membantu sesama yang sedang membutuhkan," katanya.
PMI Kota Semarang juga mengapresiasi partisipasi berbagai komunitas dan organisasi yang secara konsisten menggelar kegiatan donor darah. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi salah satu penopang penting dalam menjaga ketersediaan stok darah agar pelayanan kepada pasien tidak terganggu.
Selain donor darah, kegiatan bakti sosial juga diisi dengan khitanan massal bagi masyarakat. Kedua kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat dari sisi yang berbeda, yakni membantu memenuhi kebutuhan darah bagi pasien sekaligus memberikan layanan kesehatan bagi anak-anak.
Melalui aksi sosial semacam ini, diharapkan semakin banyak masyarakat tergerak menjadi pendonor sukarela. Sebab, satu kantong darah yang disumbangkan dapat menjadi harapan hidup bagi pasien yang tengah menjalani perawatan.
Editor : Eddie Prayitno