150 Pakar Kesehatan Bahas AI dan Pembiayaan JKN dalam Forum Nasional di Unsoed
PURWOKERTO,iNewsPantura.id – Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menjadi pusat diskusi para pakar ekonomi kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia melalui penyelenggaraan Biennial Scientific Meeting (BSM) Indonesian Health Economics Association (InaHEA) 2026, yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026 di Purwokerto.
Mengusung semangat kolaborasi lintas disiplin, forum ilmiah ini menghadirkan sekitar 150 akademisi, peneliti, praktisi kesehatan, hingga pengambil kebijakan untuk merumuskan berbagai strategi penguatan sistem kesehatan nasional di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Kegiatan yang dipusatkan di Laboratorium Terpadu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed tersebut diikuti perwakilan dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, Universitas Pakuan, serta Unsoed sebagai tuan rumah.
Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Unsoed, Prof. Dr. sc. hum. Budi Aji, SKM, MSc, mengatakan pertemuan ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan hasil-hasil penelitian terbaru di bidang ekonomi kesehatan sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi antarpeneliti.
Menurutnya, tantangan sektor kesehatan saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan mutu layanan, tetapi juga menyangkut pemerataan akses, keberlanjutan pembiayaan, serta pemanfaatan teknologi digital agar pelayanan kesehatan semakin efektif dan efisien.
"Perkembangan teknologi informasi menjadi peluang besar untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Karena itu, inovasi digital perlu didukung dengan riset yang kuat agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," ujarnya.
Ketua InaHEA, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH, menjelaskan bahwa ekonomi kesehatan memiliki peran penting dalam memastikan setiap kebijakan kesehatan berjalan secara efektif sekaligus berkelanjutan dari sisi pembiayaan.
Ia menilai kemajuan AI dan layanan kesehatan digital membuka peluang besar untuk memperluas akses pelayanan, termasuk membantu tenaga kesehatan di wilayah terpencil memperoleh dukungan dari dokter spesialis melalui sistem telemedicine.
"Teknologi berkembang sangat cepat. Yang perlu dipastikan adalah bagaimana setiap inovasi tersebut tetap dapat diterapkan secara efisien dan didukung sistem pembiayaan yang berkelanjutan," katanya.
Sementara itu, Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq, MSc.Agr., IPU., ASEAN Eng, menyampaikan bahwa kepercayaan menjadi tuan rumah BSM InaHEA merupakan pengakuan terhadap kapasitas Unsoed dalam mendukung pengembangan riset dan kebijakan kesehatan nasional.
Ia berharap forum ini mampu menghasilkan rekomendasi berbasis bukti ilmiah yang dapat menjadi referensi bagi pemerintah dalam mempercepat transformasi sistem kesehatan Indonesia.
"Melalui kolaborasi akademisi, praktisi, dan pemerintah, kami berharap lahir berbagai inovasi kebijakan yang mampu memperkuat pelayanan kesehatan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Selain seminar utama, rangkaian kegiatan BSM InaHEA 2026 juga diisi dengan pre-conference workshop, keynote session, plenary session, special session, hingga presentasi hasil penelitian. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari reformasi pembiayaan kesehatan, penguatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Health Technology Assessment (HTA), farmakoekonomi, pengembangan sistem asuransi kesehatan, hingga pemanfaatan AI dan data digital dalam mendukung transformasi layanan kesehatan di Indonesia.
Forum tersebut juga menghadirkan Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Prof. Asnawi Abdullah, PhD, serta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga dr. Jusi Febrianto, MPH, yang memaparkan arah kebijakan transformasi kesehatan nasional dengan menitikberatkan pada digitalisasi dan penguatan pelayanan kesehatan primer.
Editor : Eddie Prayitno