Dorong Kebumen Jadi Destinasi Eduwisata Penyu, Konservasi Sekaligus Gerakkan Ekonomi Pesisir
PURWOKERTO,iNewsPantura.id – Konservasi penyu tak lagi dipandang sebatas upaya menyelamatkan satwa langka. Di tangan akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), pelestarian penyu juga dikembangkan menjadi penggerak ekonomi masyarakat pesisir melalui konsep eduwisata berbasis riset.
Gagasan tersebut diwujudkan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset yang digelar di Pantai Kembar Terpadu, Kabupaten Kebumen. Program yang diinisiasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed itu menyasar penguatan kapasitas Kelompok Konservasi Penyu Kembar Terpadu agar mampu mengelola konservasi secara lebih profesional sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan.
Tim pengabdian yang terdiri atas dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsoed, Prof. Dr. Maria Dyah Nur Meinita dan Dr. rer. nat. Riyanti, S.T., M.Biotech., bersama mahasiswa FPIK, memberikan pelatihan mengenai pengelolaan pusat penetasan penyu atau hatchery sesuai standar konservasi internasional.
Menurut Prof. Maria Dyah Nur Meinita, penerapan Best Management Practices (BMP) Hatchery menjadi kunci untuk meningkatkan keberhasilan konservasi penyu.
"Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan sarang relokasi, penanganan telur dan tukik, monitoring pantai peneluran, hingga pengembangan eduwisata konservasi yang tetap mengedepankan kelestarian penyu," ujarnya.
Tak hanya membahas teknik penetasan, kegiatan tersebut juga menghadirkan Ratih R. Ayustina, Marine ETP Species Specialist for Sea Turtle WWF Indonesia, yang menjelaskan kondisi populasi penyu, berbagai ancaman yang dihadapi, serta pentingnya perlindungan spesies yang telah berstatus satwa dilindungi.
Peserta juga dikenalkan dengan pemanfaatan teknologi satellite tag untuk memantau pergerakan penyu di laut. Teknologi ini memungkinkan peneliti mengetahui jalur migrasi, daerah jelajah, hingga habitat penting penyu sehingga kebijakan konservasi dapat disusun berdasarkan data ilmiah.
Ketua tim pengabdian berharap peningkatan kapasitas kelompok konservasi tidak hanya berdampak pada meningkatnya keberhasilan penetasan telur dan kelangsungan hidup tukik, tetapi juga memperkuat sistem monitoring yang lebih terukur.
Di sisi lain, pengelolaan konservasi yang baik diyakini mampu menjadi daya tarik wisata edukasi. Wisatawan dapat belajar mengenai siklus hidup penyu, proses konservasi, hingga pentingnya menjaga ekosistem pesisir tanpa mengganggu habitat satwa tersebut.
Model eduwisata seperti ini dinilai berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar, mulai dari jasa pemandu wisata, penyediaan produk UMKM, hingga layanan wisata berbasis lingkungan.
Melalui pendekatan tersebut, Unsoed berupaya menjembatani hasil riset dengan kebutuhan masyarakat. Konservasi tidak hanya berhenti pada penyelamatan satwa, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi pesisir yang berkelanjutan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati laut.
Editor: Eddie Prayitno