Stasiun Gombong, Pintu Masuk Menjelajah Barat Kebumen
Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto M. As’ad Habibuddin mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan kereta api semakin diminati masyarakat sebagai moda perjalanan dari dan menuju Gombong.
“Pertumbuhan volume penumpang menunjukkan bahwa kereta api semakin menjadi pilihan masyarakat untuk melakukan perjalanan dari dan menuju Gombong. Kami melihat Stasiun Gombong bukan sekadar tempat naik dan turun kereta, tetapi juga bagian penting dari konektivitas masyarakat, termasuk untuk mendukung kegiatan ekonomi, pendidikan, maupun pariwisata di Kabupaten Kebumen,” ujarnya.
Setiap hari sekitar 56 perjalanan kereta api penumpang dilayani melalui Stasiun Gombong. Kereta dengan berbagai kelas tersebut menghubungkan Gombong dengan sejumlah kota, mulai Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya hingga Banyuwangi.
Bagi masyarakat, keberadaan stasiun tersebut memberikan pilihan perjalanan tanpa harus selalu menggunakan kendaraan pribadi. Sementara bagi wisatawan, Gombong dapat menjadi titik awal untuk menjelajahi berbagai sudut Kebumen.
Posisi Stasiun Gombong cukup strategis bagi wisatawan yang ingin mengunjungi sejumlah destinasi. Tak jauh dari kawasan stasiun terdapat Benteng Van der Wijck, bangunan peninggalan kolonial yang menjadi salah satu ikon wisata sejarah di Gombong.
Perjalanan dapat dilanjutkan menuju sejumlah destinasi lain. Pantai Menganti, misalnya, berjarak sekitar 30 kilometer dari Gombong dan menawarkan panorama pesisir selatan yang menjadi salah satu daya tarik wisata Kebumen.
Ada pula Goa Jatijajar, Waduk Sempor serta Roemah Martha Tilaar yang menawarkan pilihan wisata alam, sejarah hingga budaya.
Konektivitas kereta api memberikan alternatif bagi wisatawan yang ingin berkunjung tanpa membawa kendaraan pribadi. Dari stasiun, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan moda transportasi lain menuju destinasi yang dituju.
Selain penumpang, Stasiun Gombong juga memiliki peran dalam aktivitas ekonomi. Stasiun tersebut melayani bongkar-muat angkutan pupuk, sehingga fungsinya tidak hanya berkaitan dengan mobilitas manusia, tetapi juga mendukung distribusi barang.
Dari sisi pelayanan, sejumlah fasilitas tersedia bagi penumpang, seperti ruang tunggu, toilet, musala, loket serta fasilitas yang mendukung akses bagi penyandang disabilitas.
As’ad mengatakan pengembangan layanan akan terus dilakukan mengikuti kebutuhan masyarakat.
“KAI terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan di Stasiun Gombong. Kami ingin stasiun ini terus tumbuh mengikuti kebutuhan masyarakat,” katanya.
Pertumbuhan jumlah penumpang menjadi gambaran bahwa fungsi Stasiun Gombong terus berkembang. Dari sebuah stasiun yang dibangun pada masa kolonial, kini tempat tersebut menjadi bagian dari denyut mobilitas masyarakat sekaligus gerbang untuk mengenal lebih jauh potensi wisata dan ekonomi di barat Kebumen.
“Kami akan terus menghadirkan layanan yang selamat, nyaman, dan andal agar Stasiun Gombong semakin memberikan manfaat bagi mobilitas masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Kabupaten Kebumen,” ujar As’ad.
Editor: Eddie Prayitno