Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 49 Desa di Kendal Patungan Cetak Sarjana, 29 Industri Ikut Biayai Kuliah
Advertisement . Scroll to see content

Industri Furnitur Tinggalkan Cara Manual, Mahasiswa Vokasi Diminta Jadi Carpenter Digital

Selasa, 08 September 2026 | 11:30 WIB
  • author Eddhie Prayitno
Industri Furnitur Tinggalkan Cara Manual, Mahasiswa Vokasi Diminta Jadi Carpenter Digital
Direktur Polifurneka Kendal melihat karya mahasiswa di Talent Camp Asia 2026 . dokumen

KENDAL,iNewsPantura.id — Bekerja di industri furnitur kini tak cukup hanya mengandalkan keterampilan tangan. Perkembangan teknologi membuat pekerja dituntut mampu menguasai desain digital, perangkat lunak, kecerdasan buatan (AI), hingga mesin produksi otomatis.

Perubahan wajah industri furnitur tersebut menjadi salah satu bahasan utama dalam Talent Camp Asia 2026 yang digelar di Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu (Polifurneka) Kendal.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan pertukaran pengetahuan untuk menyiapkan talenta muda yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri furnitur masa depan.

Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 29 peserta internal Polifurneka, yakni dosen dan mahasiswa, serta 11 peserta eksternal.

Direktur Polifurneka Kendal, Dr Peni Shoffiyati SP MSi, mengatakan Talent Camp Asia yang dimulai sejak 2023 terus berkembang sebagai wadah kolaborasi antara insan akademik dan pihak eksternal, termasuk tenaga ahli internasional.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi insan akademik Politeknik, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi dan pertukaran pengetahuan dengan pihak eksternal,” ujar Peni.

Menurut Peni, Talent Camp Asia juga diarahkan menjadi forum dengan keterlibatan peserta dari berbagai negara Asia, seperti Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Brunei Darussalam, dan India.

Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan teknologi desain furnitur. Regional Director CAD+T Austria Pty/Ltd William Dedella dijadwalkan memberikan pemahaman mengenai pengaplikasian software CAD+T dalam teknologi desain furnitur modern.

Peni menjelaskan, Talent Camp Asia sebelumnya digelar di Pradita University Tangerang pada 2023 dan 2024. Sejak 2025, kegiatan tersebut kemudian dilaksanakan di Polifurneka.

Pemilihan Polifurneka dinilai berkaitan dengan kesiapan sarana dan prasarana yang memungkinkan peserta langsung mengaplikasikan program maupun desain yang dibuat selama pelatihan.

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi Industri BPSDMI Kementerian Perindustrian, Wulan Aprilianti Permatasari, mengatakan perkembangan teknologi harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Saat membuka Talent Camp Asia 2026 secara daring, ia menyebut kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk meningkatkan kemampuan SDM industri furnitur agar lebih adaptif terhadap perubahan teknologi dan persaingan global.

“Teknologi terbaru harus bersinergi dengan pikiran, ide, dan gagasan peserta untuk membuat suatu produk yang baru dan berbeda,” kata Wulan.

Menurutnya, industri furnitur saat ini membutuhkan kompetensi yang lebih luas. Tenaga kerja tidak cukup hanya menguasai keterampilan produksi, tetapi juga harus memahami desain, manufaktur berkelanjutan, perkembangan teknologi, serta dinamika pasar global.

Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi industri furnitur di pasar internasional. Namun peluang tersebut harus diikuti penguatan desain dan merek, perluasan pasar, serta peningkatan efisiensi dan produktivitas melalui teknologi.

“Kita perlu menyiapkan SDM yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif, kreatif, mampu memanfaatkan teknologi serta memiliki wawasan terhadap perkembangan industri di tingkat global,” tegasnya.

Direktur PT Felder Group Indonesia, Ligorius Wijaya, mengingatkan mahasiswa, terutama mereka yang baru memasuki dunia vokasi, agar tidak melihat industri furnitur hanya sebagai pekerjaan manual.

Menurutnya, perkembangan AI, perangkat lunak, dan mesin produksi telah mengubah cara industri kayu bekerja. Teknologi tersebut bahkan dapat terintegrasi sehingga proses manufaktur menjadi semakin otomatis.

“Talent Camp Asia ini bukan hanya bicara tentang kompetisi, tapi bagaimana Anda mendapatkan pelatihan dan pengetahuan tentang industri kayu di masa mendatang,” ujarnya.

Ligorius menjelaskan, dalam sistem produksi modern, operator tidak harus bersentuhan langsung dengan seluruh proses pengerjaan. Material dapat dipersiapkan, sementara mesin menjalankan proses berdasarkan sistem yang telah diprogram.

Karena itu, mahasiswa vokasi harus mulai mengubah pola pikir dan meningkatkan kemampuan teknologi.

“Kalau Anda menjadi pekerja yang selamanya hanya memegang alat kerja manual, Anda akan ketinggalan. Anda harus berpikir bagaimana menjadi carpenter di depan PC atau laptop,” pesannya.

Ia berharap Talent Camp Asia yang kini berkembang hingga melibatkan India dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengenal lebih jauh perubahan teknologi dalam industri kayu dan furnitur.

Dengan penguasaan teknologi, kreativitas, desain, dan keterampilan produksi, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi mampu menjadi bagian dari perubahan industri furnitur Indonesia agar semakin kompetitif di pasar global.

 

Editor: Eddie Prayitno

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut