Sekolah Rakyat, Jembatan Mimpi Anak Negeri dari Keterbatasan Menuju Harapan

Saladin Ayyubi
Suasana belajar si Sekolah Rakyat Menengah Pertama 13 Baturaden. Saladin ayubbi/iNews

BANYUMAS, iNewsPantura.id – Tangis haru Bambang dan Susi tak terbendung saat Satria Ikhwan Puji Saputra (12), anak sulungnya pamit untuk berangkat sekolah kembali. Bagi Bambang dan Susi, Satria adalah anak yang rajin membantu orang tuanya yang bekerja sebagai pemulung. Sebelum menjadi siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama  (SRMP) 13  Banyumas, Jawa Tengah, Satria bersama adik-adiknya, sehari-hari membantu kedua orang tuanya mencari barang bekas. Kini Satria hanya bisa membantu kedua orang tuanya mencari barang bekas saat libur sekolah.

Saat mencari barang bekas, Satria menggunakan becak yang dikayuh ayahnya dengan membawa istri dan kedua adiknya. Mereka berkeliling hingga berjarak 10 kilometer dari rumah mereka.

Meski becak nampak berat saat dikayuh, namun Bambang sengaja membawa anak-anak dan istrinya agar bisa membantu mencari lebih banyak barang bekas. Dengan lincah, Satria melompat turun dari becak ayahnya untuk mencari barang bekas saat becak yang dikayuh ayahnya berhenti. Satria dan kedua adiknya terlihat sudah piawai dalam mencari barang bekas.

Sampai dihalaman rumahnya, secara otomatis Satria menyortir barang-barang bekas yang mereka dapatkan untuk bisa dijual kepada pengepul. 

Rumah orang tua Satria sangat sederhana dan hanya berukuran 3 meter kali 3 meter. Didalam rumah yang sempit serta juga penuh barang bekas ini, Satria harus tetap belajar saat libur di sekolah rakyat.

Mereka menempati rumah milik tetangganya yang mengijinkan Bambang dan keluarganya untuk tinggal sementara.

Dari rumah tumpangan yang sederhana ini, cita-cita Satria sangat tinggi, yaitu menjadi pilot. Cita-cita inilah yang membuat Satria bersemangat belajar agar kelak ia menjadi pilot.

“Sejak kecil saya ingin menjadi pilot. Saya ingin membahagiakan orang tua saya kalau sudah jadi pilot,” ujar Satria polos.

“Saya juga ingin membawa bunda dan ayah jalan-jalan naik pesawat dan tidak usah membayar,” ujarnya riang. 

Susi, ibu dari Satria sangat mendukung apa yang dicita-citakan anaknya. “Sebagai orang tua saya hanya bisa mendoakan cita-cita anak saya. Anak saya rajin sholat dan membantu orang tuanya. Dia juga rajin puasa Senin-kamis,” ujar Susi.

Susi dan Bambang sangat senang Satria bisa menempuh pendidikan di SRMP 13 Banyumas.

“Satria sudah cerita, semua fasilitas sudah disediakan. Dari asrama yang nyaman, ruang sekolah yang luas, fasilitas laptop, mushola untuk sholat dan mengaji, makan yang terjamin bahkan sampai disediakan sendal dan perlengkapan mandi ada semua,” ujar Bambang berbinar senang.  

Meski Bambang dan Susi sedih saat ditinggalkan Satria kembali ke asrama sekolah rakyat, namun disisi lain mereka bangga bisa melihat anaknya menempuh pendidikan dengan segala fasilitas yang sudah dilengkapi pemerintah.

Sementara itu, jauh dari rumah orang tua Satria di Sokaraja, Banyumas, suara tawa dan semangat belajar selalu terdengar dari ruang-ruang kelas sekolah rakyat yang berlokasi di Desa Ketenger, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas. Tempat yang menjadi harapan baru bagi anak-anak yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Mereka berasal dari keluarga yang sehari-hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Ada anak pemulung, buruh serabutan, hingga pengemis.

Kemiskinan yang selama ini menjadi tembok penghalang pendidikan, perlahan runtuh. Dulu, sebagian dari mereka harus membantu orang tua mencari nafkah. Seragam sekolah hanya menjadi angan, sementara ruang kelas terasa begitu jauh untuk dijangkau.

Kini keadaan mulai berubah. Dengan mata berbinar dan senyum  merekah, mereka duduk di bangku sekolah, memegang buku pelajaran, dan menuliskan cita-cita yang selama ini nyaris padam.

Sekolah rakyat hadir tidak hanya memberikan pendidikan secara gratis, tetapi juga mengembalikan harapan yang sempat hilang.

Kepala sekolah SRMP 13 Banyumas, Siti Isbandiyah mengaku, selain mendidik ia dan guru-guru disini juga harus membangkitan semangat serta memberikan motivasi pada anak-anak didiknya.

“Sekolah rakyat adalah tempat memupuk harapan, tempat menumbuh kembangkan karakter, tempat merawat anak-anak dan merawat harapan mereka. Anak-anak kami banyak yang tidak punya cita-cita. Jangankan punya cita-cita, berpikir untuk sekolah saja mereka tidak ada. Banyak anak yang tidak berniat sekolah dan orang tuanya juga mungkin tidak berniat menyekolahkan,” ujar Siti Isbandiyah saat ditemui di SRMP 13 Banyumas.

Siti Isbandiyah mengaku, disinilah tantangannya sebagai guru sekolah rakyat harus berani menumbuhkan harapan, berani merawat cita-cita mereka yang tinggi agar tercapai.

“Mereka mungkin awalnya tidak berpikir bahwa mereka bisa. Alhamdulillah selama 10 bulan ini, mereka sudah luar biasa, terjadi transformasi karakter dari mulai kebersihan diri, kerohanian, karakter yang baik, disiplin, tanggung jawab dan juga sadar untuk apa mereka bersekolah. Disini anak-anak bergembira, mereka menjadi sadar bahwa sebetulnya sekolah adalah sesuatu yang penting dan mereka butuhkan,” ujarnya.

Di sekolah rakyat, kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk bermimpi dan meraih masa depan yang lebih baik diberikan. Bagi para orang tua, program ini menjadi jawaban atas kegelisahan yang selama bertahun-tahun mereka rasakan. Ditengah keterbatasan ekonomi, mereka akhirnya melihat anak-anaknya memiliki kesempatan untuk mengubah nasib melalui pendidikan.

Hal ini juga dirasakan Doni Trianto bocah umur 12 tahun. Sebagai anak seorang pengemis tuna netra, Doni dan kakaknya harus membantu kedua orang tuanya, Casim dan Risem yang bertempat tinggal di Desa Dawuhan Wetan, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Doni, dan kedua kakaknya serta orang tuanya ini menempati rumah di pinggir hutan, jauh dari tetangga. Rumah bantuan pemerintah program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ini menjadi tempat berkumpul jika Doni  sedang libur sekolah.

Bagi Doni, waktu libur sekolah dimanfaatkan maksimal agar bisa membantu orang tuanya dirumah. Doni selalu mencarikan rumput untuk pakan kambing peliharaan orang tuanya. Ia juga mencari kayu bakar untuk bahan bakar ditungku saat memasak.

Dulu sebelum sekolah di SRMP 13 Banyumas, Doni setiap jam 3 pagi berangkat menuntun bapaknya berjalan sejauh 7 kilometer menembus jalan pinggir hutan menuju pasar. Di Pasar Karanglewas mereka meminta-minta hingga pukul 9 pagi. Namun “pekerjaan” Doni kini digantikan Fajar, kakak pertamanya.

Didorong Fajar, Doni akhirnya mau belajar di sekolah rakyat. Sang kakak merasa bahwa dirinya tak mampu melanjutkan sekolah. Ia yang hanya lulus sekolah dasar ingin agar Doni kelak bisa membahagiakan kedua orang tua mereka.

“Saya sadar, karena hanya lulus sekolah dasar maka saya dorong adik saya bersekolah agar tidak seperti saya. Alhamdulillah adik saya bersemangat dan kini betah sekolah disana,” ujar Fajar. 

Cita-cita Doni sederhana. Ia ingin menjadi sopir bus agar bisa membawa kedua orang tuanya bepergian ke luar kota. ”Saya ingin jadi sopir bus. Saya akan ajak keliling kota ibu dan bapak saya nanti,” ujar Doni.

Doni sangat senang bisa belajar di SRMP 13 Banyumas. Di sana, semua fasilitas belajar dan untuk hidup sehari-hari dipenuhi dengan lengkap. Ia yang serba kekurangan bersama keluarganya, kini memberi kabar pada kedua kakak dan orang tuanya bahwa kini ia sudah betah belajar di sekolah rakyat.

“Kakak saya satunya sekarang sudah didaftarkan untuk masuk kesini. Dia ingin sekolah lagi sejak saya bercerita fasiltas yang sangat memadai yang diberikan untuk siswa disini,” ujar Doni. 

Pemerintah berharap sekolah rakyat menjadi langkah nyata memutus rantai kemiskinan antar generasi. Sebab di ruang-ruang kelas inilah, masa depan sedang dibangun. Masa depan anak-anak yang selama ini berada di pinggir kehidupan, namun kini mendapat kesempatan untuk berdiri sejajar dan meraih cita-cita. Bagi setiap anak Indonesia, kemiskinan seharusnya tidak pernah menjadi alasan untuk kehilangan masa depan.

Dimata akademisi, pemerintah juga perlu memperhatikan aspek kurikulum lokal, dan juga memperhatikan aspek sosial lainnya. Doktor Tyas Wulan dosen Sosiologi FISIP Unsoed Purwokerto mengatakan, di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat miskin, sekolah rakyat harus bisa menjadi bukti bahwa pendidikan tetap dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

“Di Indonesia masih ada stigma yang menyatakan bahwa orang miskin dilarang sekolah. Ini menunjukkan bahwa masih banyak persoalan terkait dengan akses pada pendidikan di Indonesia. Dalam program sekolah rakyat, ada beberapa hal yang perlu  digaris bawahi bahwa pertama kurikulumnya. Kurikulum yang top down itu kurang memperhatikan aspek kearifan lokal. Kita juga perlu mengkaji banyak persoalan-persoalan lokal yang dimasukan dalam kurikulum. Sehingga pada saat mereka lulus bisa langsung tune in dengan lingkungan masing-masing. Yang kedua kehidupan di asrama membuat siswa tercabut dari lingkungan rumah dan keluarganya. Ini perlu dibuat mekanisme, meskipun mereka di asrama tetapi saat lulus nanti mereka bisa kembali ke lingkungan dan keluarganya,” jelas Tyas. 

Tyas menambahkan nantinya jangan sampai kemudian menimbulkan stigma baru bahwa sekolah rakyat adalah sekolahnya warga miskin.

“Kita perlu melakukan seleksi ketat sehingga membuat siswa ada kebanggaan bisa sekolah di sekolah rakyat,” pungkasnya.

Editor : Eddie Prayitno

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network